(Business Lounge-Global News) Sebanyak US$2,2 miliar akan mengalir ke bisnis baru yang sedang dibentuk SK Telecom, menandai perubahan penting dalam cara perusahaan telekomunikasi Korea Selatan tersebut mengembangkan bisnis kecerdasan buatan. Dana itu berasal dari KKR bersama konsorsium perusahaan investasi Korea Selatan yang terdiri dari IMM Investment dan Stonebridge Capital. Uang tersebut tidak sekadar digunakan untuk memperbesar kapasitas data center yang sudah ada, tetapi menjadi modal untuk membangun perusahaan khusus yang dapat bergerak lebih agresif di tengah meningkatnya kebutuhan komputasi AI.
SK Telecom akan memisahkan bisnis data center dan kabel bawah laut dari anak usahanya, SK Broadband, untuk membentuk perusahaan baru bernama SK Horizon. Struktur kepemilikannya dirancang agar SK Telecom tetap menjadi pemegang kendali dengan 51% saham, sementara KKR memperoleh 29% dan konsorsium IMM Investment-Stonebridge Capital memegang 20%. Menurut Wall Street Journal, transaksi senilai US$2,2 miliar tersebut akan memberikan SK Horizon sumber pembiayaan eksternal untuk melakukan ekspansi tanpa seluruh kebutuhan modal harus ditanggung oleh perusahaan induk.
Pilihan untuk memisahkan bisnis tersebut mencerminkan perubahan karakter industri data center. Pembangunan fasilitas komputasi AI membutuhkan investasi yang sangat besar, terutama karena server AI menggunakan GPU dalam jumlah besar dan membutuhkan sistem kelistrikan serta pendinginan yang jauh lebih kompleks dibandingkan data center konvensional. Ketika kebutuhan kapasitas meningkat hingga skala gigawatt, perusahaan telekomunikasi tidak lagi dapat mengandalkan model investasi tradisional yang sepenuhnya menggunakan neraca internal. Masuknya investor infrastruktur seperti KKR memberikan ruang bagi SK Telecom untuk mempercepat pembangunan sambil membagi beban pembiayaan dengan mitra modal.
SK Horizon juga tidak memulai perjalanan dari nol. Perusahaan baru tersebut akan membawa sejumlah fasilitas data center yang sudah beroperasi di Korea Selatan. Data Center Dynamics melaporkan bahwa bisnis yang dialihkan memiliki delapan data center dengan kapasitas sekitar 318 megawatt, termasuk fasilitas di Seocho, Bundang, Gasan, Centum, Yangju, Pangyo, dan dua lokasi di Ilsan. Beberapa fasilitas tambahan juga sedang dalam pembangunan. Basis aset tersebut memberikan SK Horizon pendapatan dan pengalaman operasional yang dapat menjadi fondasi ketika perusahaan bergerak menuju proyek-proyek AI berkapasitas jauh lebih besar.
Kinerja bisnis AI data center SK Telecom sendiri menunjukkan mengapa perusahaan melihat sektor tersebut sebagai sumber pertumbuhan baru. Dalam laporan kuartal pertama 2026, SK Telecom mencatat pendapatan bisnis AI data center sebesar 131,4 miliar won, meningkat 89,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu didorong oleh meningkatnya utilisasi fasilitas data center serta layanan GPU-as-a-Service. Angka tersebut memperlihatkan bahwa permintaan terhadap kapasitas komputasi bukan lagi sekadar proyeksi industri, melainkan sudah tercermin dalam pendapatan yang dihasilkan bisnis perusahaan.
Model bisnisnya juga sedang diperluas ke luar sekadar menyewakan ruang dan daya listrik. SK Telecom ingin membangun rantai bisnis yang mencakup infrastruktur AI, penyediaan GPU, konektivitas, hingga layanan untuk pelanggan korporasi. Kabel bawah laut menjadi bagian penting dari strategi tersebut karena data center berskala besar membutuhkan konektivitas berkapasitas tinggi dengan jaringan domestik dan internasional. Pemisahan bisnis kabel bersama data center ke dalam SK Horizon memungkinkan perusahaan mengelola dua komponen infrastruktur tersebut sebagai satu ekosistem.
Ada perusahaan lain dalam struktur baru SK Telecom yang akan memainkan peran berbeda. SK Hyper, yang dibentuk pada Juli 2026, akan berfokus pada pengembangan proyek AI data center berskala gigawatt. Berdasarkan keterangan resmi SK Telecom, SK Hyper ditargetkan mengembangkan kapasitas hingga 5 gigawatt pada 2029 dan 15 gigawatt pada 2035. Sementara itu, SK Horizon akan lebih banyak menangani pengoperasian serta ekspansi aset yang sudah tersedia. Pembagian ini membuat SK Telecom memiliki tiga lapisan bisnis yang lebih jelas: perusahaan induk mengatur strategi dan kemitraan, SK Horizon mengoperasikan serta memperluas infrastruktur, sedangkan SK Hyper mencari dan mengembangkan proyek baru dalam skala sangat besar.
Target 15 gigawatt tersebut menunjukkan besarnya ambisi SK Telecom di luar bisnis telekomunikasi tradisional. Permintaan listrik dan komputasi untuk AI sedang mendorong perusahaan teknologi mencari lokasi baru dengan pasokan energi, konektivitas, lahan, dan regulasi yang mendukung. Korea Selatan memiliki keunggulan berupa ekosistem semikonduktor yang kuat, terutama dengan keberadaan Samsung Electronics dan SK Hynix. Kombinasi antara produsen chip memori, perusahaan telekomunikasi, jaringan data, dan infrastruktur pusat data memberikan peluang bagi negara tersebut untuk membangun rantai AI domestik yang lebih lengkap.
Investasi KKR dan konsorsium Korea Selatan juga memiliki arti finansial yang lebih luas. Data center kini semakin dipandang sebagai aset infrastruktur jangka panjang, bukan hanya fasilitas teknologi. Arus pendapatan dapat berasal dari kontrak jangka panjang dengan perusahaan teknologi, penyedia cloud, perusahaan AI, maupun pelanggan korporasi. Bagi investor infrastruktur, karakter tersebut menarik karena proyek yang membutuhkan modal besar dapat menghasilkan pendapatan relatif stabil setelah fasilitas beroperasi dan tingkat utilisasinya meningkat.
Di sisi SK Telecom, masuknya modal eksternal mengurangi tekanan yang muncul ketika perusahaan ingin memperbesar investasi secara cepat. Seoul Economic Daily melaporkan bahwa restrukturisasi tersebut memang dirancang untuk mengurangi beban investasi SK Telecom sekaligus mempercepat ekspansi AI data center. Perusahaan tidak harus memilih antara mempertahankan neraca yang sehat dan mengejar peluang pertumbuhan. Sebagian kebutuhan modal dapat ditanggung oleh investor strategis dan finansial yang mendapatkan kepemilikan langsung di bisnis baru.
Persaingan di sektor ini akan semakin keras karena data center AI membutuhkan kombinasi aset yang tidak mudah dibangun. Memiliki modal saja tidak cukup. Operator harus mendapatkan listrik dalam jumlah besar, memperoleh izin pembangunan, mengamankan konektivitas, mendapatkan pasokan GPU, dan membangun fasilitas pendinginan yang mampu menangani kepadatan komputasi tinggi. Waktu pembangunan juga menjadi faktor penting karena perusahaan AI tidak ingin menunggu bertahun-tahun ketika kebutuhan kapasitas meningkat dengan cepat. Karena itu, perusahaan yang sudah memiliki lokasi, jaringan, fasilitas, dan pengalaman operasional memiliki posisi yang lebih baik dibandingkan pemain yang baru mulai mencari lahan.
Langkah SK Telecom memperlihatkan bahwa kompetisi AI kini semakin bergeser dari perlombaan membuat model menuju perlombaan menguasai infrastruktur. Model AI dapat dikembangkan dan diperbarui dengan cepat, tetapi pusat data, jaringan listrik, kabel bawah laut, dan fasilitas komputasi membutuhkan investasi bertahun-tahun. Infrastruktur tersebut menjadi lapisan fisik yang menentukan seberapa cepat teknologi AI dapat digunakan dalam skala komersial.
Bagi Korea Selatan, strategi SK Telecom juga mendukung ambisi yang lebih besar untuk menjadi pusat infrastruktur AI di Asia. Pemerintah bersama perusahaan besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix sedang mendorong investasi besar dalam ekosistem semikonduktor dan AI. Jika SK Telecom mampu mengubah SK Horizon menjadi operator data center regional dan SK Hyper berhasil menjalankan proyek berskala gigawatt, bisnis yang awalnya berasal dari perusahaan telekomunikasi dapat berkembang menjadi salah satu fondasi infrastruktur digital Korea Selatan.
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana batas antara perusahaan telekomunikasi, perusahaan teknologi, dan investor infrastruktur semakin kabur. SK Telecom tidak lagi hanya menjual koneksi kepada pelanggan. Perusahaan kini ingin berada lebih dekat dengan mesin yang menjalankan ekonomi digital, mulai dari kabel yang membawa data hingga pusat komputasi yang memprosesnya. US$2,2 miliar yang masuk ke SK Horizon menjadi modal awal untuk membuktikan apakah strategi tersebut mampu mengubah bisnis data center menjadi mesin pertumbuhan baru bagi grup SK di tengah ekspansi AI global.

