China Southern

Maskapai Terbesar China Terjepit Harga BBM dan Tiket Murah

(Business Lounge – Global News) Tiga maskapai terbesar China kembali menghadapi tekanan berat setelah membukukan kerugian gabungan sekitar 8,17 miliar yuan atau US$1,21 miliar pada semester pertama 2026. Air China, China Eastern Airlines, dan China Southern Airlines sebenarnya mengawali tahun dengan hasil yang lebih menjanjikan, tetapi lonjakan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah kemudian menghapus keuntungan tersebut. The Wall Street Journal melaporkan bahwa biaya bahan bakar ketiga maskapai meningkat antara 35% dan 38% dibandingkan tahun sebelumnya, sementara kemampuan menaikkan harga tiket domestik tetap terbatas.

Masalahnya bukan hanya mahalnya bahan bakar.

Kerugian tersebut memperlihatkan persoalan yang lebih struktural dalam industri penerbangan China. Permintaan perjalanan memang masih tumbuh, tetapi pertumbuhan penumpang tidak otomatis menghasilkan keuntungan ketika harga tiket berada di bawah tekanan. Persaingan domestik yang ketat, kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, serta alternatif kereta cepat membuat maskapai sulit meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Reuters mencatat bahwa ketiga maskapai tersebut bahkan mengalami kerugian semester pertama untuk tahun ketujuh berturut-turut.

China Southern menjadi perusahaan dengan kerugian terbesar, sekitar 3,7 miliar yuan. Air China mencatat kerugian sekitar 2,3 miliar yuan, sedangkan China Eastern kehilangan sekitar 2,2 miliar yuan. Angka tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi bukan masalah satu perusahaan, melainkan persoalan yang menyebar di seluruh sektor maskapai milik negara. China Eastern, misalnya, membukukan pendapatan 74,2 miliar yuan atau naik 11,1%, tetapi tetap mencatat kerugian karena kenaikan biaya yang jauh lebih berat.

Yang menarik, pendapatan sebenarnya masih tumbuh.

Air China mencatat kenaikan pendapatan sekitar 10,5%, China Eastern 11%, dan China Southern 9,7%. Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh perjalanan internasional yang mulai pulih. Namun, pertumbuhan pendapatan belum cukup untuk mengimbangi biaya bahan bakar dan lemahnya harga di pasar domestik. Kondisi ini menciptakan situasi yang tidak nyaman bagi maskapai: pesawat semakin banyak terbang, penumpang tetap datang, tetapi margin keuntungan justru semakin tipis.

Pasar domestik menjadi titik lemah yang paling sulit diperbaiki.

China memiliki jaringan kereta cepat yang semakin luas dan menawarkan alternatif perjalanan antarkota yang cepat, nyaman, dan kompetitif. Untuk rute-rute tertentu, kereta cepat bahkan dapat menghilangkan kebutuhan untuk terbang. Maskapai kemudian harus bersaing melalui harga, bukan hanya jadwal dan kenyamanan. Ketika perang harga terjadi bersamaan dengan kenaikan bahan bakar, ruang keuntungan menjadi semakin sempit.Tekanan itu juga datang dari pertumbuhan kapasitas. Maskapai China masih harus mengoperasikan armada yang besar dan menjaga jaringan penerbangan nasional tetap tersedia. Mengurangi kapasitas secara agresif dapat membantu harga tiket, tetapi juga berisiko kehilangan pangsa pasar. Sebaliknya, mempertahankan banyak penerbangan berarti perusahaan harus menanggung biaya bahan bakar dan operasional yang lebih tinggi.

Konflik Timur Tengah kemudian menjadi pemicu yang memperburuk persoalan lama.

Perang Iran membuat harga minyak melonjak dan meningkatkan biaya bahan bakar jet di seluruh dunia. Reuters melaporkan bahwa biaya bahan bakar ketiga maskapai China naik sekitar 35% hingga 38%. Ketiganya juga relatif tidak terlindungi oleh strategi fuel hedging, sehingga lebih langsung terkena volatilitas harga minyak.Dampaknya menunjukkan betapa rentannya maskapai terhadap energi. Bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam penerbangan, tetapi perusahaan tidak dapat begitu saja menaikkan harga tiket setiap kali harga minyak naik. Konsumen memiliki banyak alternatif, sementara persaingan antarmaskapai membuat kenaikan tarif menjadi keputusan yang berisiko.

Ada ironi lain dalam situasi tersebut.

China justru memiliki perusahaan energi yang menikmati keuntungan besar dari kenaikan harga minyak. CNOOC, perusahaan minyak dan gas lepas pantai terbesar China, mencatat laba bersih semester pertama sebesar 85,8 miliar yuan, naik 23,4% dari tahun sebelumnya. Perusahaan tersebut memperoleh keuntungan dari harga minyak yang lebih tinggi dan peningkatan produksi. Dengan demikian, kenaikan harga energi menciptakan pemenang dan pecundang yang sangat berbeda dalam ekonomi China.

Bagi maskapai, masalahnya tidak berhenti pada semester pertama. Prospek paruh kedua tahun ini juga belum sepenuhnya meyakinkan. Musim panas yang biasanya menjadi periode penting bagi perjalanan domestik justru menghadapi permintaan yang lebih lemah dan gangguan cuaca. Reuters memperkirakan jumlah penumpang selama Juli dan Agustus dapat turun sekitar 3,6% secara tahunan karena musim topan yang lebih kuat turut mengganggu operasi.

Musim panas yang lemah membuat strategi pemulihan menjadi semakin sulit.

Secara normal, maskapai dapat berharap musim liburan membantu meningkatkan pendapatan dan memperbaiki profitabilitas tahunan. Namun, jika permintaan tidak cukup kuat, tambahan penerbangan justru dapat memperbesar biaya. Karena itu, perusahaan kini semakin mengarahkan kapasitas ke rute internasional, tempat permintaan dan potensi pendapatan dinilai lebih menarik.Perubahan tersebut sudah terlihat dalam kinerja semester pertama. Pendapatan internasional meningkat, khususnya pada rute menuju Eropa. Tetapi strategi ini memiliki batas. Jika semua maskapai melakukan hal yang sama, kapasitas internasional juga akan meningkat dan persaingan tarif kembali muncul. Reuters mencatat bahwa pertumbuhan kapasitas yang terlalu besar dapat membatasi kemampuan maskapai menaikkan harga tiket internasional.

Armada baru juga belum otomatis menyelesaikan persoalan.

Ketiga maskapai terus memperbarui armadanya, termasuk menggunakan pesawat produksi domestik COMAC C919. Langkah tersebut penting bagi strategi industri China untuk membangun ekosistem penerbangan yang lebih mandiri. Namun, memiliki pesawat buatan sendiri tidak berarti biaya operasi otomatis lebih rendah. Maskapai tetap harus menghadapi harga bahan bakar, utilisasi pesawat, biaya pemeliharaan, tenaga kerja, dan tingkat harga tiket.Di sinilah persoalan industri penerbangan China menjadi semakin kompleks. Pemerintah membutuhkan maskapai nasional yang kuat untuk mendukung konektivitas ekonomi dan mobilitas penduduk, tetapi perusahaan tersebut juga harus beroperasi dalam lingkungan komersial yang semakin kompetitif. Dukungan negara dapat membantu menjaga stabilitas, tetapi tidak dapat menghilangkan persoalan fundamental mengenai margin yang tipis.

Kerugian US$1,21 miliar menjadi peringatan tentang model pertumbuhan lama.

Selama bertahun-tahun, pertumbuhan penumpang dan perluasan jaringan menjadi ukuran utama perkembangan industri penerbangan China. Kini pertanyaannya bergeser. Yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak penumpang, lebih banyak pesawat, atau lebih banyak rute, tetapi penumpang yang menghasilkan keuntungan memadai.Jika harga bahan bakar tetap tinggi, maskapai harus menemukan cara meningkatkan produktivitas, memperbaiki struktur jaringan, dan mengalihkan kapasitas ke pasar dengan margin lebih tinggi. HSBC memperkirakan ketiga maskapai tersebut dapat mengalami kerugian gabungan sekitar 16,8 miliar yuan sepanjang 2026, jauh dari ekspektasi sebelumnya bahwa mereka dapat kembali mencetak laba.

Bagi China, persoalan maskapai kini menjadi persoalan efisiensi ekonomi.

Negara itu telah membangun salah satu pasar penerbangan terbesar di dunia, tetapi ukuran pasar tidak selalu berarti profitabilitas. Kereta cepat menekan perjalanan domestik, perang harga membatasi tarif, sementara konflik geopolitik membuat biaya energi semakin sulit diprediksi.

Air China, China Eastern, dan China Southern menghadapi tantangan yang sama dengan banyak maskapai global: bagaimana mengubah permintaan perjalanan menjadi keuntungan ketika biaya terbesar berada di luar kendali mereka. Konflik Timur Tengah hanya mempercepat tekanan tersebut.Dan jika harga minyak tetap tinggi sementara konsumen China tetap sensitif terhadap harga tiket, pemulihan industri penerbangan China kemungkinan tidak akan ditentukan oleh seberapa banyak orang kembali terbang, tetapi oleh seberapa banyak uang yang benar-benar dapat disimpan maskapai dari setiap penerbangan.