205 Karya, 23 Tahun Cerita: Global Auction Tawarkan Perjalanan Seni Indonesia dari Le Mayeur hingga Masriadi

(Business Lounge Journal – Advertorial)

Sebuah karya seni tidak hanya berbicara tentang keindahan visual. Di balik sebuah lukisan terdapat nama seniman, periode penciptaan, pengalaman, pengaruh budaya, hingga perjalanan panjang yang membentuk nilai historisnya. Perspektif inilah yang terasa dalam 23 Years, 205 Stories: Global Auction’s Anniversary Sale, yang menghadirkan 205 karya untuk menandai 23 tahun perjalanan Global Auction di dunia seni Indonesia dan Asia Tenggara.

Digelar melalui penawaran online pada 11–30 Agustus 2026 dan dilanjutkan dengan live auction pada 30 Agustus 2026 di Park Hyatt Jakarta, lelang ini mempertemukan karya dari berbagai periode dan pendekatan artistik, mulai dari Southeast Asian Art, Chinese Art, Modern Art, hingga Contemporary Art.

Dengan komposisi tersebut, anniversary sale ini tidak sekadar menjadi perayaan usia Global Auction. Sebaliknya, 205 karya yang ditawarkan menghadirkan semacam perjalanan melintasi sejarah seni Indonesia—dari pengaruh Eropa yang dibawa Adrien-Jean Le Mayeur de Merprès, perkembangan seni modern pada era Soekarno, dinamika seni Bandung, hingga eksplorasi seniman kontemporer seperti I Nyoman Masriadi dan Heri Dono.

Salah satu karya yang memberikan bobot historis pada koleksi ini adalah Women by the Lotus Pond karya Adrien-Jean Le Mayeur de Merprès. Pelukis Impresionis kelahiran Belgia pada 1880 tersebut melakukan perjalanan ke berbagai negara sebelum akhirnya menetap di Bali. Pulau tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi penting dalam perjalanan artistiknya.

Karya tersebut menggambarkan empat perempuan Bali di dekat kolam teratai di kediaman Le Mayeur, yang kini menjadi museum. Sapuan kuas yang lepas serta penggunaan warna yang vibrant memperlihatkan karakter khas sang seniman dalam menangkap kehidupan Bali. Menariknya, karya ini telah diverifikasi oleh Jop Ubbens, penulis monograf mengenai Le Mayeur. Dalam konteks kolektor, informasi mengenai autentisitas dan kualitas sebuah karya menjadi bagian penting dari cerita yang melekat pada karya tersebut.

Dari Le Mayeur, perjalanan koleksi bergerak menuju periode penting dalam pembentukan seni modern Indonesia. Nama-nama yang hadir dalam sale memiliki hubungan erat dengan Presiden Soekarno, yang tidak hanya menjadi tokoh politik tetapi juga dikenal memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni dan menjadi patron bagi sejumlah seniman.

Dullah dan Lee Man Fong, misalnya, memiliki posisi khusus dalam sejarah seni Indonesia. Selain dikenal sebagai pelukis, keduanya pernah menjadi kurator seni di Istana Kepresidenan pada era 1950-an. Karya Dullah yang ditawarkan memperlihatkan pendekatan realisnya melalui lanskap dan potret.

Nama besar lainnya adalah Basoeki Abdullah, yang hadir melalui Artistically Talented (1979). Maestro realisme dan naturalisme Indonesia ini pernah menjadi pelukis istana pada era Soekarno dan dikenal pernah mendapatkan komisi untuk melukis berbagai tokoh penting, termasuk tamu negara dan pemimpin dunia.

Kehadiran Basoeki Abdullah, Dullah, dan Lee Man Fong dalam satu rangkaian koleksi memperlihatkan bagaimana seni Indonesia pada periode tersebut berkembang dalam lingkungan yang memiliki hubungan erat dengan pusat kekuasaan, kebudayaan, dan patronase.

Jejak Soekarno dalam koleksi juga terlihat melalui karya S. Sudjojono, salah satu pionir seni modern Indonesia sekaligus pendiri PERSAGI. Tiga karya Sudjojono—Flower (Bunga) (1963), Sacred Ocean (Tirta Samudra) (1952), dan Orchid and an Angel (1985)—menjadi bagian dari penawaran.

Berbeda dengan pendekatan realis yang kuat pada sejumlah seniman sebelumnya, Affandi menghadirkan bahasa ekspresif yang sangat personal melalui Bridge under the Bamboo Trees (1972). Sapuan kuas spontan membuat objek pepohonan, bambu, dan jembatan terasa bergerak di atas kanvas.

Di tangan Affandi, lanskap bukan hanya representasi sebuah tempat. Lanskap menjadi medium untuk menangkap gesture, emosi, dan energi. Karakter tersebut menjadi salah satu alasan mengapa karya Affandi menempati posisi penting dalam sejarah seni modern Indonesia.

Dari Soekarno ke Bandung

Perjalanan seni Indonesia dalam koleksi ini kemudian berlanjut ke Bandung, salah satu pusat penting perkembangan seni modern Indonesia. Ketika Ries Mulder mengajar di Institut Teknologi Bandung, ia memperkenalkan gagasan modernisme Eropa, termasuk Kubisme dan abstraksi, kepada generasi seniman yang kemudian memberikan kontribusi besar terhadap seni rupa Indonesia.

Nama-nama seperti Srihadi Soedarsono, Popo Iskandar, Ahmad Sadali, A.D. Pirous, Mochtar Apin, dan But Muchtar berada dalam lingkaran perkembangan tersebut. Srihadi Soedarsono menjadi salah satu nama yang cukup menonjol dengan lima karya dalam sale, termasuk Spirit of Life Oleg Tambulilingan (1992), Boat (1989), dan Dancer II (1960).

Dikenal sebagai “master of colour”, Srihadi mengembangkan bahasa visual melalui eksplorasi warna dan bentuk, dengan ketertarikan yang semakin kuat pada abstraksi. Sementara karya Popo Iskandar, Ahmad Sadali, A.D. Pirous, Mochtar Apin, dan But Muchtar menunjukkan beragam arah artistik yang lahir dari perkembangan lingkungan seni Bandung. Koleksi ini kemudian memperluas narasi melalui Emiria Soenassa, salah satu perempuan pionir seni modern Indonesia, dengan Night Dance (1954). Nama-nama seperti Arie Smit, Hendra Gunawan, Abdul Aziz, dan I Gusti Agung Mangu Putra turut memperpanjang spektrum perjalanan seni tersebut.

Dari generasi modern, narasi akhirnya bergerak menuju seni kontemporer. I Nyoman Masriadi hadir melalui Hero Audition (2023), sementara Heri Dono melalui Resistance to the Power of Persecution (2019).

Keduanya membawa perspektif yang berbeda terhadap realitas dan lingkungan sosial mereka. Kehadiran karya kontemporer tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan seni Indonesia tidak berhenti pada satu periode atau gaya tertentu, melainkan terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Dari koleksi menjadi bagian dari perjalanan

Dimensi regional juga menjadi bagian dari anniversary sale ini. Karya seniman dari Malaysia, Awang Damit, dan Vietnam, Tran Luu Hau, memperluas cakupan koleksi ke Asia Tenggara. Keduanya dikenal melalui pendekatan ekspresionisme masing-masing.

Sementara itu, karya patung dari Gregorius Sidharta Soegijo dan I Nyoman Nuarta memberikan dimensi lain dalam koleksi, menunjukkan bahwa perjalanan seni tidak hanya berlangsung melalui medium lukisan.

Pada akhirnya, 205 karya yang ditawarkan Global Auction bukanlah sekadar kumpulan karya dari berbagai periode. Masing-masing membawa cerita mengenai seniman, tempat, pengalaman, tradisi, dan momentum yang berbeda.

Bagi kolektor, keberagaman tersebut memberikan kesempatan untuk melihat perkembangan seni Indonesia sebagai sebuah perjalanan yang utuh. Sebuah karya dari satu periode dapat dibaca berdampingan dengan karya dari periode lain, memperlihatkan bagaimana bahasa visual, pengaruh budaya, dan cara seniman merespons zamannya terus berubah.

Bagi Yohanes Kevin Oenardi Raharjo, Director of Global Auction, anniversary sale ini menjadi momentum untuk kembali menegaskan komitmen Global Auction dalam menghadirkan karya berkualitas sekaligus membangun platform yang bermakna bagi seni Indonesia dan Asia Tenggara.

Every work has its own story and artistic value. We hope to connect these works with collectors who truly appreciate them and can become part of their journey going forward.”

Pernyataan tersebut sekaligus menangkap esensi dari 23 Years, 205 Stories. Bagi Global Auction, perjalanan sebuah karya tidak berakhir ketika palu lelang diketuk. Karya tersebut justru memasuki babak berikutnya ketika berpindah kepada kolektor baru—menjadi bagian dari koleksi, ruang, dan perjalanan apresiasi yang baru.

Dengan menghadirkan karya dari Le Mayeur hingga Masriadi dan Heri Dono, dari seni modern hingga kontemporer, anniversary sale ke-23 Global Auction menawarkan lebih dari sebuah agenda lelang. Ia menghadirkan potongan perjalanan panjang seni Indonesia dan Asia Tenggara dalam 205 karya yang dapat menjadi bagian dari perjalanan kolektor berikutnya.

Seluruh karya dapat dilihat melalui public preview hingga 30 Agustus 2026. Penawaran tersedia melalui online bidding, in-person bidding, maupun telephone bidding.