Peta Baru Akuisisi Global: Amerika Memimpin, Asia Mulai Bangkit

(Business Lounge Journal – Economy)

Ketika membicarakan pertumbuhan ekonomi global, banyak orang berasumsi bahwa Asia adalah pusat gravitasi ekonomi dunia yang baru. China merupakan ekonomi terbesar kedua dunia, India adalah negara dengan pertumbuhan tercepat di antara negara-negara besar, sementara Jepang dan Korea Selatan tetap menjadi kekuatan industri dan teknologi global.

Namun, ketika berbicara tentang merger dan akuisisi (M&A), realitasnya ternyata berbeda.

Laporan terbaru PwC Global M&A Trends menunjukkan bahwa pasar akuisisi global saat ini berkembang dalam pola yang disebut sebagai “K-shaped market”—sebuah pasar yang tumbuh tidak merata, di mana transaksi besar terkonsentrasi pada segelintir negara dan perusahaan dengan kapasitas modal terbesar. Dan hingga saat ini, Amerika Serikat masih menjadi pusat gravitasi utama pasar akuisisi dunia.

Pertumbuhan ekonomi Asia memang terus berlanjut. Namun, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak otomatis menghasilkan transaksi terbesar.

Data PwC menunjukkan bahwa pada paruh pertama 2026, kawasan Amerika menyumbang sekitar 61% dari total nilai transaksi M&A global, meskipun hanya mewakili sekitar 28% dari total volume transaksi dunia. Artinya, sebagian besar transaksi terbesar dunia masih terjadi di Amerika Serikat. Dominasi ini terutama didorong oleh munculnya mega-deals bernilai lebih dari US$5 miliar. Bahkan, sekitar 64% nilai transaksi di Amerika Serikat berasal dari transaksi skala jumbo tersebut. Sektor teknologi, kecerdasan buatan, energi, data center, dan infrastruktur digital menjadi motor utama aktivitas akuisisi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Amerika tidak hanya memiliki perusahaan teknologi terbesar di dunia, tetapi juga memiliki akses terhadap modal, private equity, sovereign wealth fund, serta pasar modal yang mampu mendanai transaksi bernilai puluhan hingga ratusan miliar dolar.

Dalam ekonomi modern, ukuran ekonomi saja tidak cukup. Yang lebih menentukan adalah kapasitas pembiayaan.

Asia Mulai Bangkit, Tetapi dengan Karakteristik yang Berbeda

Meskipun belum mampu menandingi skala transaksi Amerika Serikat, kawasan Asia Pasifik mulai menunjukkan kebangkitan yang cukup signifikan. PwC mencatat bahwa nilai transaksi di Asia Pasifik meningkat sekitar 10% pada 2025, sementara volume transaksi juga mengalami pertumbuhan moderat. Beberapa negara bahkan mencatat pertumbuhan dua digit dalam nilai transaksi, terutama China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Namun, pertumbuhan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda di setiap negara.

China masih menjadi pasar M&A terbesar di Asia berdasarkan volume transaksi. Aktivitas deal-making di negara tersebut meningkat sekitar 22% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh konsolidasi industri, teknologi, manufaktur maju, serta kebijakan industrial nasional. Namun demikian, nilai rata-rata transaksi di China masih jauh di bawah mega-deals yang terjadi di Amerika Serikat.

India menunjukkan dinamika yang berbeda. Negara ini mengalami pertumbuhan transaksi yang kuat berkat ekspansi perusahaan domestik, transformasi digital, serta peningkatan aktivitas private equity. Pada kuartal ketiga 2025 saja, India mencatat hampir 1.000 transaksi dengan nilai mencapai US$44,3 miliar, menjadi salah satu level tertinggi dalam enam kuartal terakhir.

Jepang justru menjadi kejutan terbesar. Pada semester pertama 2025, nilai transaksi M&A Jepang mencapai rekor sekitar US$232 miliar, menjadikannya salah satu pendorong utama kebangkitan pasar akuisisi Asia. Reformasi tata kelola perusahaan, meningkatnya aktivitas private equity, serta dorongan restrukturisasi korporasi menjadi katalis utama pertumbuhan tersebut.

Sementara itu, Korea Selatan mulai menarik perhatian investor global berkat stabilitas pasar modal, kekuatan industri teknologi, dan prospek pertumbuhan sektor keuangan yang semakin menarik. Bahkan sejumlah lembaga keuangan global mulai mengalihkan fokus ekspansinya dari China dan India menuju Korea Selatan.

Asia Bertumbuh, Tetapi Amerika Masih Menentukan Permainan

Data PwC menunjukkan sebuah paradoks menarik. Pada awal 2026, Asia Pasifik menyumbang sekitar 37% dari total volume transaksi global, tetapi hanya sekitar 16% dari total nilai transaksi dunia. Sebaliknya, Amerika menguasai sekitar 61% dari total nilai transaksi global. Artinya, Asia memang menghasilkan lebih banyak transaksi, tetapi Amerika masih menghasilkan transaksi yang lebih besar.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar akuisisi global tidak semata-mata ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk, ataupun besarnya pasar domestik. Faktor yang jauh lebih menentukan adalah akses terhadap modal, kedalaman pasar keuangan, kekuatan perusahaan global, dan kemampuan melakukan mega-deals.

Namun demikian, arah pergerakan global mulai berubah.

Jika dekade sebelumnya didominasi oleh akuisisi untuk ekspansi pasar, maka dekade AI saat ini mulai ditentukan oleh akuisisi untuk memperoleh teknologi, infrastruktur, data, energi, dan keamanan. Dalam konteks ini, negara-negara Asia memiliki peluang besar untuk meningkatkan perannya dalam pasar M&A global.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Asia akan tumbuh. Pertanyaan sebenarnya adalah: kapan Asia mulai menghasilkan mega-deals yang mampu menandingi Amerika Serikat? Karena untuk saat ini, pertumbuhan ekonomi Asia memang semakin besar. Tetapi dalam peta akuisisi global, Amerika masih memegang kendali permainan.