(Business Lounge Journal – Culture)
Kota Paris adalah ibu kota mode dunia. Sejumlah perancang mode tingkat dunia seperti Yves Saint Laurent, Coco Chanel, Christian Dior, Hubert de Givenchy, Jean Paul Gaultier, dan lainnya mendominasi dunia fashion lewat rancangan busana mereka.
Lantas, bagaimana orang Paris berbusana saat ini? Apakah mereka selalu memakai pakaian glamor setiap hari?
Salah satu prinsip berbusana bagi orang Paris adalah “less is more”, yang berarti semakin sederhana justru semakin baik. Artinya, mereka menghindari pakaian yang rumit, mewah, mencolok, serta aksesori yang berlebihan. Fakta menarik tentang gaya busana di Paris adalah orang Paris sangat menyukai gaya yang sederhana, elegan, dan terlihat serba alami.
Mereka mengenakan busana dengan potongan rapi, berwarna netral, serta menggunakan bahan berkualitas terbaik yang nyaman di kulit. Biasanya, busana yang sering dikenakan warga Paris berwarna hitam, putih, abu-abu, krem, dan biru tua.
Selain pemilihan warna, detail busana yang mereka gunakan juga sangat menarik untuk disimak. Misalnya, sebuah mantel bukan hanya dipakai untuk melindungi tubuh dari udara dingin. Mantel tersebut harus terasa nyaman di badan, dipadukan dengan sepatu kulit yang dirawat dengan baik, ditambah syal yang memang telah dipilih dengan tepat untuk mendukung penampilan di musim gugur. Orang Prancis percaya bahwa penampilan yang baik tidak harus mahal, tetapi harus terlihat serasi dan nyaman dikenakan.
Umumnya, gaya berbusana wanita di Paris bersifat feminin dan populer tanpa terkesan berlebihan. Mereka mengenakan blus sederhana, celana panjang model klasik, rok selutut, atau gaun dengan desain minimalis. Riasan wajah pun tidak berlebihan. Wanita Prancis umumnya lebih senang menonjolkan kecantikan alami.
Sementara itu, pria Prancis dikenal dengan gaya kasual yang sederhana, tetapi tetap berkelas. Biasanya mereka memakai jaket, blazer, sweater rajut, dan celana chino. Dalam suasana santai sekalipun, para pria Paris tetap memperhatikan gaya berbusana dengan memperhatikan keserasian warna serta potongan pakaian.
Meskipun di Kota Paris sering diadakan peragaan busana, menariknya masyarakat Paris tidak mengikuti tren mode secara membabi buta. Mereka lebih suka berpakaian sesuai dengan gaya pribadi mereka sendiri. Inilah yang menjadi esensi daya tarik gaya berbusana di Paris. Masyarakat Paris berjiwa seni, dan bagi mereka, gaya bukan hanya tentang apa yang dikenakan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang berpakaian sesuai dengan karakternya.
Pernyataan inilah yang membuat dunia memandang Paris sebagai inspirasi mode yang selalu hidup. Di kota ini, keanggunan tidak selalu lahir dari pakaian yang mewah dan mahal, melainkan dari perpaduan antara kesederhanaan, kualitas, kenyamanan, dan rasa percaya diri. Gaya ini dikenal dengan istilah “Parisian chic”.
Merunut sejarah berbusana orang Paris, sebenarnya gaya mereka tidak sesederhana seperti saat ini. Pilihan gaya busana masa kini terbentuk dari sejarah panjang yang melibatkan unsur emosional, politik kerajaan, revolusi sosial, hingga kebangkitan para perancang legendaris.
Dimulai pada abad ke-17, Raja Louis XIV memiliki ambisi agar Prancis menjadi pusat kekuatan ekonomi dan budaya dunia. Saat itu, pusat mode dunia berada di Venesia dan Florence, Italia. Louis XIV menjadikan pakaian kerajaan beserta busana para bangsawannya sebagai bagian dari struktur politik. Semua warga Istana Versailles mengenakan pakaian supermewah, kain sutra paling mahal, serta berbagai renda yang rumit dan berlebihan. Semua pakaian tersebut diproduksi di Prancis. Paris pun menjadi ibu kota mode dunia karena berhasil melahirkan industri tekstil kelas atas beserta para penjahit terampil.
Ketika Revolusi Prancis terjadi pada tahun 1789, gaya busana Paris berubah menjadi lebih berfokus pada fungsionalitas dan kesederhanaan. Monarki telah runtuh, begitu pula dengan busana yang terlalu mewah dan berlebihan. Korset ketat yang menyiksa serta kain berlapis-lapis dianggap sebagai lambang aristokrasi yang korup.
Pada masa itu, pakaian yang digunakan lebih longgar, praktis, dan menggunakan warna-warna bendera Prancis, yaitu merah, putih, dan biru.
Bagi orang Paris pada zaman tersebut, kemewahan sejati bukan terletak pada pakaian yang mewah, melainkan pada potongan yang bersih (clean cuts).
Pada abad ke-19, terjadi perubahan besar-besaran di Kota Paris di bawah kepemimpinan Baron Haussmann. Bangunan-bangunan tua dihancurkan dan digantikan dengan pembangunan kota Paris yang indah dengan arsitektur bergaya Haussmann. Jalan-jalan besar (boulevards) diciptakan, lengkap dengan kedai-kedai kopi yang cantik.
Seiring dengan berubahnya wajah Kota Paris, Charles Frederick Worth mendirikan rumah mode haute couture (busana kelas tinggi khusus pesanan). Budaya baru pun muncul di Paris, yaitu budaya flâneur, ketika orang-orang berjalan santai untuk melihat dan dilihat. Busana menjadi “perisai sosial” untuk mengekspresikan diri di tengah kota. Gaya berpakaian harus tetap terlihat anggun di jalan maupun ketika duduk di kedai kopi.
Memasuki masa Perang Dunia I dan II, struktur sosial Paris berubah total. Para pria turun ke medan perang, sedangkan para wanita harus bekerja di berbagai sektor. Pakaian mewah abad ke-19 tidak lagi sesuai untuk mobilitas yang tinggi.
Pada tahun 1920-an, desainer Coco Chanel melakukan revolusi dalam dunia busana Paris. Ia meminjam elemen pakaian pria, mempopulerkan bahan rajutan (jersey) yang lebih nyaman dan praktis dibandingkan korset, mengenalkan celana panjang bagi wanita, serta menciptakan Little Black Dress (LBD).
Chanel menciptakan fondasi gaya “Parisian chic” yang mengedepankan prinsip kenyamanan, fleksibilitas, serta pemilihan warna netral seperti hitam, putih, dan beige, dengan sentuhan keseimbangan antara unsur maskulin dan feminin.
Masih banyak peristiwa bersejarah yang membentuk gaya busana orang Paris hingga hari ini. Namun, dari kemewahan Versailles, pembangunan Kota Paris, hingga berbagai benturan budaya yang terjadi, kita dapat melihat bahwa orang Paris masa kini memilih busana yang sederhana, elegan, berkualitas, dan tidak suka berdandan secara berlebihan.
Bagi orang Paris, gaya busana bukan sekadar cara berpakaian. Gaya busana adalah bentuk apresiasi terhadap sejarah, keahlian lokal (craftsmanship), sekaligus bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain.

