Kota Marseille yang Hangat dan Mengesankan di Perairan Mediterania

(Business Lounge Journal – Travel)

Marseille adalah kota pelabuhan di tepi Laut Mediterania yang indah. Terletak di pesisir tenggara Prancis, di provinsi Provence-Alpes-Côte d’Azur dan departemen Bouches-du-Rhône. Jaraknya dari Paris sekitar 775 kilometer. Marseille berada di bagian pantai selatan.

Marseille sangat penting bagi sejarah Prancis karena merupakan kota tertua sekaligus kota perdagangan yang dibangun oleh bangsa Yunani pada 600 SM. Menurut sejarah, nenek moyang bangsa ini datang dari Phocaea (wilayah Turki saat ini). Salah satu legenda menyebutkan bahwa seorang pelaut Yunani bernama Protis menikahi putri raja lokal, sehingga budaya awal Marseille merupakan perpaduan antara Yunani dan budaya lokal (bangsa Celt/suku utara Prancis), yang ditandai dengan berdirinya kota Massalia. Warisan budaya ini menjadikan Marseille sebagai pintu gerbang perdagangan, navigasi, serta pengembangan anggur dan zaitun.

Pada zaman Romawi, Marseille dianeksasi oleh Julius Caesar pada 49 SM. Pengaruh Romawi membawa perkembangan infrastruktur, hukum, dan bahasa Latin yang kemudian menjadi cikal bakal bahasa Prancis.

Karena letaknya yang sangat strategis di Mediterania sebagai pintu gerbang perdagangan, Marseille mengalami gelombang migrasi selama berabad-abad. Warga dari kawasan Mediterania seperti Prancis dan Spanyol datang dan menetap, memberikan pengaruh besar pada dialek, kuliner, serta karakter masyarakatnya yang hangat.

Arus migrasi terus berlangsung secara dinamis. Pada awal abad ke-20, komunitas Armenia datang dan menjadi bagian integral dari identitas kota.

Tidak ketinggalan, bangsa-bangsa dari Afrika Utara yang merupakan bekas koloni Prancis—seperti Tunisia, Aljazair, dan Maroko—juga berdatangan dan menetap. Mereka membawa budaya Maghreb yang berpadu dengan budaya lokal. Secara kasat mata, Marseille hari ini sangat dipengaruhi oleh gelombang migrasi tersebut.

Sejarah panjang ini menjadikan Marseille sebagai kota multikultural yang dinamis, dengan karakter masyarakat yang hangat, heterogen, lebih hidup, dan tidak formal seperti di wilayah utara Prancis, termasuk Paris.

Seperti Apa Marseille Saat Ini?

Begitu tiba di stasiun kereta Marseille Saint-Charles Station, suasana masih terasa seperti stasiun kereta di kota-kota Prancis lainnya. Namun ketika keluar dari stasiun, pemandangan Marseille langsung terlihat—permukaan tanah yang naik turun, serta lanskap khas Mediterania dengan laut biru yang kontras dengan bebatuan kapur putih di sepanjang pesisir.

Stasiun ini memang terletak di atas bukit, sehingga para pelancong dapat langsung menikmati panorama kota dengan langit biru yang sering kali tanpa awan, serta kilauan laut di kejauhan. Pemandangan Marseille merupakan perpaduan antara alam pesisir, gedung-gedung bersejarah yang autentik, dan lanskap kota yang landai.

Stasiun Marseille Saint-Charles yang berwarna putih batu kapur melayani kereta cepat TGV (Train à Grande Vitesse) yang menghubungkan Marseille dengan kota-kota besar seperti Paris, Lyon, dan Nice.

Ketika keluar dari stasiun, langsung terasa bahwa Marseille adalah kota wisata yang ramai. Hotel, penginapan, tempat makan, hingga toko serba ada seperti Carrefour mudah ditemukan. Para wisatawan tampak mendorong koper di sepanjang jalan menuju penginapan. Pemerintah setempat bahkan mendesain trotoar yang ramah turis, sehingga koper dapat dengan mudah didorong.

Beberapa penduduk Marseille menyapa dengan “bon vacances”, yang berarti selamat berlibur.

Karakter Kota dan Kehangatan Warganya

Berjalan-jalan di Marseille sangat menyenangkan—menyusuri jalan besar hingga masuk ke gang-gang kecil. Gaya desain bangunan di kota ini sangat khas. Apartemen tradisional banyak mengusung gaya Provençal, terutama di kawasan Le Panier.

Ini adalah gaya arsitektur tertua, di mana fasad bangunan dicat dengan warna hangat seperti kuning gandum atau terakota yang mulai memudar, menciptakan kesan artistik. Setiap apartemen memiliki daun jendela kayu (volets), meskipun tetap dilengkapi kaca. Fungsinya adalah untuk menahan panas dari sinar matahari Mediterania.

Jalan-jalannya ada yang sempit, dan banyak penduduknya berwajah Timur Tengah. Tidak sedikit dari mereka yang sangat membantu ketika dimintai arah.

Orang-orang Marseille (disebut Marseillais) dikenal ramah dan ekspresif. Mereka berbicara cepat, dengan gestur tangan yang aktif. Gaya komunikasi mereka cenderung langsung ke inti, tanpa basa-basi. Beberapa orang berpendapat bahwa mereka suka berbicara dengan gaya yang sedikit dilebih-lebihkan (l’exagéré), namun bukan berarti hiperbola.

Salah satu pengalaman menarik terjadi saat membeli sepatu di sebuah toko. Penjualnya adalah pria Tunisia berusia lebih dari setengah abad. Ia melayani dengan sabar dan memberikan nasihat dengan hangat, seolah seperti keluarga sendiri. Ia berkata, “Ini adalah Marseille. Kota ini baik, tetapi tetap perlu waspada.” Ia juga menekankan pentingnya kontak mata saat berbicara sebagai bentuk sopan santun, serta menyarankan agar ransel tidak diletakkan di punggung, melainkan di depan untuk menghindari kehilangan barang. Nasihat sederhana, namun sangat membekas.

Tidak seperti kota-kota Prancis lainnya, Marseille sering dianggap lebih berisik dan kurang rapi. Namun di balik itu, warganya sangat hangat, ekspresif, dan penuh kebanggaan terhadap kota mereka. Hal ini juga terlihat dari kecintaan mereka terhadap klub sepak bola Olympique de Marseille (OM).

Berjalan-jalan di pelabuhan tua Vieux-Port de Marseille menjadi pengalaman yang tidak boleh dilewatkan. Tempat ini merupakan jantung kota, di mana kapal pesiar dan perahu nelayan bersandar. Air laut berwarna biru berkilauan di bawah sinar matahari, berpadu dengan bangunan berwarna krem dan pastel.

Di pagi hari, para nelayan menjual hasil tangkapan mereka. Sore hari diisi dengan orang-orang yang mengobrol sambil minum kopi. Sepanjang hari, banyak orang berolahraga, berlari, atau berjalan bersama anjing peliharaan mereka.

Salah satu pemandangan menarik adalah seorang wanita yang mendorong kereta kecil berisi anjing beagle berusia 13 tahun. Interaksi seperti ini terasa hangat dan manusiawi.

Memang, orang-orang di sini tidak langsung percaya pada orang asing. Namun ketika kepercayaan itu tumbuh, keramahan mereka akan terasa begitu tulus—sehangat udara Marseille di tepi Laut Mediterania.