The Bridge “Connecting Generation Gap between Entrepreneurs” (BL Gathering)

Gathering BL 1

(Business Lounge – Business Insight) Pada Rabu (3 Juni), Business Lounge menyelenggarakan Gathering dengan tema: The Bridge “Connecting Generation Gap between Entrepreneurs”. Bertempat di Trafique Coffee, Jalan Hang Tuah Raya No. 9, Kebayoran Baru, acara ini dihadiri oleh para kontributor dan partner Bussiness Lounge.

Gathering BL 2Tampil Michael Judah, founder Business Lounge menyapa semua hadirin, sekaligus bertindak sebagai host pada acara kali ini. Sangat menarik sebab pada pertemuan ini Michael menyatukan dua generasi yang berbeda, yaitu mereka yang dapat dianggap senior dalam dunia bisnis dan entrepreneur serta mereka yang dapat dikatakan second generation atau para young entrepreneur.

Sebuah dialogue interactive digelar pada pertemuan ini menyajikan pembahasan mengenai hal-hal yang dialami para start up dalam memulai dan menjalankan bisnisnya serta beberapa rintangan yang mereka rasakan dalam perjalanan mereka. Para ‘senior’ yang hadir pun menyampaikan pesan untuk para young entrepreneur tidak melupakan apa yang dialami pendahulunya termasuk bila itu adalah orang tua mereka sendiri. Mereka yang telah lebih dahulu memasuki dunia business tentu saja telah lebih banyak makan asam garam sehingga mereka akan memiliki pengalaman yang lebih banyak.

Hadir dalam kesempatan ini adalah Michael Wong pemilik The Archie Store, Ernanda Putra founder Dailyreds sekaligus seorang instagram artist, Riana Bismarak founder bellowcepek.com, Feronica Kristoofer pemilik brand Kristoofer, Alexis & Elliot pemilik Crematology, dan beberapa tokoh lainnya.

Elliot Davernas yang berasal Swedia menceritakan bagaimana pada umumnya para start up memulai bisnis di negara asalnya dengan mendapatkan dukungan pemerintah. Hal ini disambut oleh Alfred Pakasi, CEO Vibiz Consulting bahwa memang ada perbedaan dengan para dukungan pemerintah pada pelaku bisnis di Indonesia namun tidak perlu kuatir sebab Pemerintah Indonesia sedang bergerak ke arah itu.

Gathering BL 3

Dalam dialog ini Riana Bismarak mengemukakan bagaimana biasanya para start up memulai bisnisnya dengan berinvestasi pada gedung yang bagus, membayar CEO yang mahal, atau investasi pendukung lainnya. Hal inilah yang tidak pernah dilakukan oleh seorang Riana ketika dia memutuskan meninggalkan dunia kerjanya dan beralih profesi menjadi seorang entrepreneur. Riana memutuskan untuk membangun bisnisnya dengan apa yang ada hingga dapat berjalan dengan stabil.

Gathering BL 4

Satu hal yang menarik juga dibahas ketika Ernanda Putra berpendapat tentang pentingnya sosial media dalam mendukung bisnisnya. Hal ini diakui oleh semua yang hadir, sebab mereka semua membutuhkan publikasi dan nomer satu yang mereka lakukan adalah melalui sosial media. Menurut Daniel Judah Sumbayak,  Deputy Chairman Vibiz Consulting Group media sosial adalah hal yang digemari oleh semua orang dewasa ini. Namun media sosial memang bergerak dengan sangat dinamis. Pria yang sedang mengambil gelar doktor ini mengingatkan semua yang hadir dengan friendster yang pernah berjaya beberapa tahun yang lalu, namun media sosial ini sudah tenggelam dan tidak lagi dikenal. Demikianlah perkembangan media sosial yang akan terus berkembang. Daniel berpendapat bahwa 10 tahun ke depan media sosial masih akan tetap berjaya.

Bersamaan dengan acara gathering ini, Business Lounge juga me-launching e-magazine-nya yang pertama yang dapat dibaca secara online di businesslounge.co.id.

Sukses bersama untuk Business Lounge dan semua yang hadir.

uthe/VMN/BL/Journalist
Editor: Ruth Berliana