(Business Lounge – Global News) Coty memasuki tahun fiskal 2027 dengan tantangan yang cukup besar setelah kinerja tahun sebelumnya belum menunjukkan pemulihan yang solid. Perusahaan memperkirakan pendapatan like-for-like pada kuartal pertama akan turun dalam kisaran satu digit rendah hingga menengah. The Wall Street Journal melaporkan bahwa konsumen masih membeli produk kecantikan, tetapi semakin selektif dalam menentukan merek dan produk yang dianggap layak dibeli.
Perkiraan tersebut muncul setelah Coty sebenarnya berhasil mencatat kenaikan pendapatan pada kuartal keempat fiskal 2026. Pendapatan mencapai sekitar US$1,27 miliar, naik 1% secara tahunan, tetapi pertumbuhan tersebut belum cukup untuk menunjukkan pemulihan yang kuat. Reuters mencatat bahwa perusahaan melampaui ekspektasi pendapatan, tetapi laba yang lebih lemah dan ketidakpastian terhadap arah bisnis membuat Coty memilih tidak memberikan proyeksi penuh untuk sepanjang tahun fiskal 2027.
Konsumen Mulai Lebih Selektif
Masalah Coty bukan semata-mata karena konsumen meninggalkan produk kecantikan. Permintaan terhadap kategori beauty secara keseluruhan masih relatif tangguh, tetapi perilaku konsumen berubah. Mereka lebih berhati-hati dalam menentukan produk yang dibeli, terutama ketika harga meningkat dan pilihan di pasar semakin banyak.
Perubahan tersebut membuat perusahaan seperti Coty harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pertumbuhan. The Wall Street Journal menyebut kondisi ini sebagai salah satu alasan perusahaan memperkirakan penurunan penjualan pada kuartal pertama, meskipun permintaan dasar terhadap produk kecantikan masih bertahan.
Prestige Masih Menjadi Penopang
Bisnis Prestige tetap menjadi bagian terbesar Coty dan menyumbang sekitar 66% dari total penjualan tahunan. Pada tahun fiskal 2026, pendapatan Prestige mencapai US$3,81 miliar, meskipun turun tipis secara reported basis dan 4% berdasarkan penjualan like-for-like. Laporan resmi Coty menunjukkan bahwa bisnis ini masih menghadapi tekanan, tetapi kinerjanya relatif lebih baik dibandingkan Consumer Beauty.
Kategori wewangian menjadi salah satu bagian yang masih memiliki daya tarik. Produk seperti parfum memiliki karakter yang berbeda dari barang konsumsi biasa karena konsumen dapat menganggapnya sebagai bagian dari identitas dan gaya hidup. Hal ini memberikan Coty ruang untuk mempertahankan pertumbuhan melalui merek-merek premium meskipun konsumen menjadi lebih berhati-hati.
Consumer Beauty Lebih Berat
Tekanan jauh lebih besar terlihat pada Consumer Beauty. Pendapatan segmen ini mencapai sekitar US$2 miliar pada fiskal 2026, turun 3% secara reported basis dan 7% secara like-for-like. Data resmi Coty menunjukkan bahwa segmen tersebut menghadapi tekanan yang lebih luas, terutama pada kosmetik warna dan beberapa kategori produk mass market.
Kondisi tersebut penting karena Consumer Beauty memiliki karakter pasar yang berbeda. Konsumen memiliki banyak pilihan dan lebih mudah berpindah merek ketika menemukan produk dengan harga, promosi, atau inovasi yang dianggap lebih menarik. Coty harus menemukan kembali alasan bagi konsumen untuk memilih mereknya dibandingkan pesaing.
Strategic Review Menjadi Titik Penting
Coty juga sedang menyelesaikan tinjauan strategis terhadap bisnis Consumer Beauty. Proses tersebut dimulai sebagai bagian dari upaya perusahaan menyederhanakan portofolio dan meningkatkan kinerja merek yang dianggap memiliki prospek lebih baik.Reuters melaporkan bahwa proses tinjauan tersebut dapat membuka kemungkinan perubahan lebih besar terhadap sejumlah merek, termasuk potensi penjualan aset seperti CoverGirl dan Rimmel. Namun, keputusan final belum ditetapkan dan Coty menargetkan penyelesaian tinjauan strategis tersebut pada akhir 2026.
Perombakan tersebut ditempatkan dalam kerangka strategi baru bernama Coty.Curated. Fokusnya adalah menyederhanakan portofolio, mengurangi kompleksitas organisasi, memusatkan investasi pada merek utama, serta mencari efisiensi biaya untuk memperkuat profitabilitas.
Laporan resmi Coty menyebut bahwa strategi tersebut dirancang untuk memusatkan perusahaan pada merek dan pasar inti, meningkatkan kelincahan organisasi, sekaligus menciptakan ruang investasi lebih besar untuk keterlibatan konsumen.Strategi ini menunjukkan bahwa Coty tidak sedang mengejar pertumbuhan dengan memperbanyak merek tanpa batas. Sebaliknya, perusahaan ingin memiliki portofolio yang lebih fokus sehingga sumber daya pemasaran, penelitian, pengembangan produk, dan distribusi dapat diarahkan kepada merek dengan potensi terbesar.
Gucci Beauty Menjadi Persoalan Besar
Salah satu perubahan terbesar yang akan dihadapi Coty adalah berakhirnya lebih awal hak lisensi Gucci Beauty. Coty dan Kering telah menyepakati pengembalian hak tersebut dengan nilai transaksi sekitar US$400 juta.
The Wall Street Journal mencatat bahwa pengembalian lisensi Gucci Beauty akan memberikan dampak terhadap kinerja Coty pada fiskal 2028. Ini membuat perusahaan harus menyiapkan mesin pertumbuhan baru sebelum kontribusi Gucci Beauty benar-benar hilang dari portofolio.
Gucci Beauty memiliki nilai strategis bukan hanya karena pendapatannya, tetapi juga karena posisinya dalam kategori prestige. Kehilangan merek seperti ini membuat kebutuhan untuk memperkuat merek lain menjadi semakin mendesak.
Fokus Beralih ke Merek Inti
Coty kini harus memastikan merek yang tersisa mampu mengisi ruang yang ditinggalkan oleh aset yang dilepas atau dikembalikan. Perusahaan memiliki portofolio luas yang mencakup parfum, kosmetik, dan produk kecantikan dengan berbagai tingkat harga.
Vogue Business mencatat bahwa Coty memasuki periode transisi dengan fokus lebih besar pada merek inti dan peningkatan performa sell-out, setelah kinerja penjualan di tingkat konsumen masih tertinggal dari perkembangan pasar beauty secara keseluruhan. Ini merupakan persoalan penting. Penjualan kepada retailer tidak selalu berarti produk benar-benar terjual kepada konsumen akhir. Jika persediaan di toko terlalu tinggi, retailer pada akhirnya dapat mengurangi pemesanan berikutnya. Karena itu, Coty perlu memastikan permintaan konsumen akhir kembali meningkat secara nyata.
Inventori Menjadi Sinyal Penting
Coty sebelumnya telah melakukan penyesuaian persediaan retailer untuk menyesuaikan stok dengan kondisi permintaan. Pada kuartal pertama fiskal 2026, misalnya, bisnis Prestige terkena dampak tindakan perusahaan untuk menyeimbangkan kembali persediaan retailer dengan permintaan aktual. Laporan Coty menunjukkan bahwa langkah tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan penjualan pada periode tersebut.
Penyesuaian inventori memang dapat menimbulkan tekanan jangka pendek, tetapi diperlukan agar perusahaan tidak mengejar pertumbuhan penjualan dengan mengisi kanal distribusi secara berlebihan. Bagi Coty, normalisasi persediaan dapat menjadi fondasi bagi pemulihan yang lebih sehat apabila permintaan konsumen mulai membaik.
Amerika Lebih Baik, Eropa Masih Berat
Kinerja geografis Coty juga menunjukkan perbedaan yang cukup besar. Pada kuartal keempat fiskal 2026, Amerika mencatat pertumbuhan 6%, sedangkan Asia Pasifik meningkat 7%. Sebaliknya, EMEA turun 10%. Vogue Business mencatat bahwa perbedaan tersebut menunjukkan pemulihan Coty belum merata di seluruh pasar.
Asia juga memberikan alasan untuk sedikit optimistis, terutama karena pasar kecantikan China mulai menunjukkan tanda perbaikan pada periode sebelumnya. Laporan Coty menunjukkan bahwa parfum menjadi kategori yang relatif lebih kuat di China seiring peningkatan penetrasi kategori tersebut.
Margin Masih Mendapat Tekanan
Pertumbuhan pendapatan yang terbatas juga berpengaruh terhadap profitabilitas. Margin kotor Coty pada fiskal 2026 turun menjadi 62,9%, dari periode sebelumnya, akibat kombinasi penyerapan biaya rantai pasok yang lebih rendah, tarif, lingkungan promosi yang lebih agresif, serta biaya persediaan yang meningkat. Laporan tahunan Coty menunjukkan tekanan tersebut menjadi salah satu alasan laba operasional berubah menjadi kerugian US$81,5 juta dari laba US$241,1 juta setahun sebelumnya.
Kondisi ini membuat pemulihan penjualan menjadi semakin penting. Coty tidak hanya membutuhkan pendapatan yang lebih tinggi, tetapi juga harus memastikan pertumbuhan tersebut dapat menghasilkan margin yang lebih baik. Jika perusahaan terus bergantung pada promosi untuk mempertahankan volume, pemulihan laba akan menjadi lebih sulit.
Tarif Menambah Tekanan
Industri beauty juga tidak sepenuhnya terbebas dari perubahan biaya perdagangan. Tarif dan biaya rantai pasok ikut memberikan tekanan terhadap margin Coty. Laporan perusahaan menunjukkan bahwa dampak tarif menjadi salah satu faktor yang menekan margin kotor selama fiskal 2026.
Dalam kondisi konsumen yang semakin selektif, kemampuan menaikkan harga juga menjadi terbatas. Perusahaan harus menemukan keseimbangan antara menjaga harga tetap kompetitif dan melindungi margin. Inilah salah satu tantangan terbesar bagi perusahaan consumer goods saat daya beli mulai lebih sensitif.
CFO Baru Memasuki Masa Transisi
Coty juga memperkuat jajaran manajemen dengan menunjuk Soraya Benchikh sebagai Chief Financial Officer baru, efektif 1 September. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Benchikh membawa pengalaman dari British American Tobacco, Diageo, General Electric, dan Gillette.Penunjukan tersebut terjadi pada saat Coty sedang melakukan perubahan organisasi dan strategi. Peran CFO akan menjadi penting karena perusahaan perlu mengendalikan biaya, mengurangi utang, mengalokasikan modal secara lebih disiplin, serta memastikan investasi tetap berjalan pada merek yang dianggap paling menjanjikan.
Tahun Fiskal 2027 Menjadi Tahun Transisi
Manajemen secara terbuka menggambarkan fiskal 2027 sebagai transition year. Reuters melaporkan bahwa Coty memilih tidak memberikan proyeksi pendapatan setahun penuh karena perusahaan masih menjalankan restrukturisasi dan penyederhanaan bisnis.
Keputusan tersebut memberikan gambaran bahwa manajemen tidak ingin menjanjikan pemulihan terlalu cepat. Strategi yang sedang dijalankan membutuhkan waktu, terutama karena perusahaan harus mengubah portofolio, mengurangi kompleksitas, memperbaiki distribusi, dan membangun kembali daya tarik merek.
Pasar Belum Percaya Penuh
Respons investor menunjukkan tingkat skeptisisme yang tinggi. Saham Coty turun sekitar 8,5% setelah perusahaan menyampaikan hasil dan prospeknya. The Wall Street Journal mencatat bahwa saham tersebut berada dalam tekanan meskipun pendapatan kuartal keempat sedikit meningkat.
Pasar tampaknya lebih memperhatikan kualitas pertumbuhan daripada sekadar kenaikan pendapatan 1%. Investor ingin melihat apakah Coty dapat mengubah peningkatan penjualan menjadi laba yang lebih tinggi dan arus kas yang konsisten. Tanpa bukti tersebut, kenaikan pendapatan kecil belum cukup untuk mengubah persepsi terhadap perusahaan.
Ada Tanda Stabilitas Awal
Meski demikian, kondisi Coty tidak sepenuhnya negatif. Interim CEO Markus Strobel mengatakan hasil terbaru memberikan tanda awal stabilisasi, walaupun proses pemulihan tidak akan berjalan lurus. The Wall Street Journal melaporkan bahwa perusahaan melihat peluang untuk memperbaiki kinerja secara bertahap sepanjang tahun fiskal 2027.
Hal tersebut penting karena Coty tidak sedang menghadapi keruntuhan permintaan beauty secara keseluruhan. Persoalannya lebih spesifik pada posisi merek, efektivitas portofolio, distribusi, dan kemampuan perusahaan memenangkan kembali konsumen. Dengan demikian, ruang untuk pemulihan tetap terbuka.
Parfum Menjadi Aset Strategis
Salah satu kekuatan terbesar Coty tetap berada pada kategori fragrance. Perusahaan memiliki portofolio merek parfum global yang kuat dan kategori ini cenderung menjadi salah satu bagian beauty yang lebih tahan terhadap perubahan tren dibandingkan beberapa produk kosmetik lainnya.
Reuters mencatat bahwa kenaikan pendapatan kuartal keempat didukung permintaan yang kuat terhadap fragrances dan cosmetics, meskipun profitabilitas masih berada di bawah tekanan.Jika Coty mampu mengembangkan parfum dengan inovasi produk, distribusi yang tepat, dan pemasaran yang lebih efektif, kategori ini dapat menjadi salah satu fondasi pemulihan.
Coty Harus Memilih dengan Lebih Tajam
Perubahan strategi Coty pada akhirnya merupakan persoalan pilihan. Perusahaan tidak dapat memberikan perhatian yang sama kepada seluruh merek, pasar, dan kategori. Dengan sumber daya yang terbatas, investasi harus diarahkan kepada area yang memiliki potensi pengembalian terbesar.
Coty menjelaskan dalam kerangka Coty.Curated bahwa penyederhanaan portofolio dan organisasi dimaksudkan untuk membuat perusahaan lebih cepat dalam mengambil keputusan dan lebih efektif dalam mengalokasikan investasi.
Pendekatan tersebut dapat menjadi titik balik jika berhasil. Namun, risiko terbesarnya adalah perusahaan terlalu agresif memangkas portofolio sebelum merek-merek utama benar-benar mampu menggantikan pendapatan yang hilang.
Ujian Sesungguhnya Ada di Konsumen
Keberhasilan strategi Coty tidak akan ditentukan oleh struktur organisasi semata. Ukuran paling penting adalah apakah konsumen kembali memilih produk-produknya. Vogue Business menyoroti bahwa performa sell-out Coty masih tertinggal dari perkembangan pasar beauty, sehingga perusahaan perlu memperbaiki daya tarik produk di tingkat konsumen akhir.
Hal tersebut membuat inovasi, pemasaran, harga, dan distribusi menjadi sama pentingnya dengan efisiensi biaya. Mengurangi biaya dapat memperbaiki laporan keuangan dalam jangka pendek, tetapi pertumbuhan yang berkelanjutan tetap membutuhkan produk yang benar-benar diinginkan konsumen.
Coty kini berada pada persimpangan yang cukup menentukan. Perusahaan masih memiliki merek global, kekuatan di fragrance, jaringan distribusi luas, serta posisi kuat di pasar beauty. Namun, portofolio yang terlalu kompleks, tekanan Consumer Beauty, penurunan margin, dan hilangnya Gucci Beauty membuat strategi lama semakin sulit dipertahankan. The Wall Street Journal, Reuters, laporan resmi Coty, dan Vogue Business menunjukkan bahwa perusahaan sedang memasuki periode perubahan besar, bukan sekadar menghadapi satu kuartal penjualan yang lemah.
Yang menarik, Coty tidak memilih untuk mengejar pertumbuhan secara agresif dalam kondisi pasar yang penuh tekanan. Perusahaan justru memilih menyederhanakan bisnis, memperkuat merek inti, memperbaiki struktur biaya, dan menyelesaikan tinjauan strategis Consumer Beauty.

