alibaba beli micromax

Alibaba Membayar Mahal Demi Memimpin AI

(Business Lounge – Global News) Alibaba menghadapi dilema besar setelah laba kuartal fiskal pertama 2027 anjlok meskipun pendapatan terus meningkat. Pendapatan naik 8,6% menjadi 268,95 miliar yuan, tetapi laba bersih turun sekitar 76% menjadi 10,54 miliar yuan. Tekanan terhadap laba terjadi saat Alibaba mempercepat investasi artificial intelligence untuk mempertahankan posisinya dalam persaingan AI yang semakin ketat.

Penurunan laba tersebut bukan semata-mata menunjukkan pelemahan bisnis Alibaba. Perusahaan justru sedang mengalihkan sumber daya dalam jumlah besar menuju teknologi yang diharapkan menjadi mesin pertumbuhan berikutnya. Laba Alibaba turun sekitar 75%, sementara belanja modal melonjak 75% karena perusahaan memperluas kapasitas komputasi, membeli komponen chip, dan membangun infrastruktur AI.

Belanja Modal Melonjak

Belanja modal Alibaba mencapai 67,68 miliar yuan atau sekitar US$10 miliar dalam tiga bulan hingga Juni. Angka tersebut meningkat 75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian besar peningkatan tersebut berkaitan dengan investasi infrastruktur AI, termasuk perluasan kapasitas komputasi dan meningkatnya biaya komponen chip.

Lonjakan tersebut menunjukkan betapa mahalnya perlombaan AI. Perusahaan teknologi tidak cukup hanya mengembangkan model bahasa; mereka membutuhkan pusat data, chip, jaringan, penyimpanan, dan kapasitas komputasi dalam skala besar. Bagi Alibaba, kebutuhan tersebut semakin besar karena perusahaan ingin membangun posisi dari lapisan infrastruktur sampai layanan AI yang digunakan pelanggan bisnis.

Cloud Mulai Membayar Investasi

Di sinilah laporan Alibaba menjadi lebih menarik. Bisnis cloud dan komputasi AI tumbuh 45% menjadi sekitar 48,4 miliar yuan. Pertumbuhan cloud tersebut menjadi salah satu alasan utama pendapatan Alibaba tetap meningkat meskipun profitabilitas grup mengalami tekanan berat.

Pertumbuhan 45% menunjukkan bahwa investasi AI mulai menciptakan permintaan komersial. Alibaba bukan hanya membangun kapasitas untuk digunakan sendiri, tetapi juga menjual kemampuan komputasi dan layanan AI kepada perusahaan lain. Pertumbuhan cloud tersebut disertai pertumbuhan tiga digit pada produk AI, memperlihatkan semakin kuatnya hubungan antara investasi AI dan pendapatan cloud.

AI Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru

Alibaba sedang mencoba mengubah Cloud Intelligence Group dari bisnis infrastruktur cloud menjadi fondasi bagi ekonomi AI yang lebih luas. Perusahaan menyediakan kapasitas komputasi sekaligus model AI seperti Qwen yang dapat digunakan oleh perusahaan dan pengembang.

Strategi ini penting karena pasar e-commerce Alibaba sudah semakin matang. Pertumbuhan bisnis perdagangan digital tidak lagi mudah didorong hanya dengan menambah jumlah pengguna atau transaksi. Manajemen Alibaba melihat AI dan cloud sebagai salah satu sumber pertumbuhan jangka panjang dan memperkirakan pertumbuhan pendapatan dari bisnis tersebut dapat semakin cepat.

Qwen Menjadi Taruhan Utama

Alibaba juga meningkatkan investasi pada keluarga model Qwen. Perusahaan terus mengembangkan model-model baru, termasuk Qwen3.8-Max, sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi dalam persaingan AI global. Alibaba berusaha mempertahankan keunggulan di sektor AI melalui pengembangan model dan perluasan kapasitas komputasi secara agresif.

Qwen menjadi penting karena model AI dapat menjadi pintu masuk ke berbagai layanan Alibaba. Jika model tersebut digunakan secara luas oleh pengembang dan perusahaan, Alibaba memiliki peluang untuk memperoleh pendapatan dari komputasi, cloud, aplikasi, dan layanan terkait. Dengan demikian, investasi pada model AI tidak hanya ditujukan untuk menciptakan teknologi, tetapi juga untuk membangun ekosistem baru.

Bisnis Lama Membayar Bisnis Baru

Persoalan yang muncul adalah bisnis lama Alibaba harus membantu membiayai transformasi tersebut. E-commerce masih menjadi fondasi utama perusahaan, tetapi sebagian modal dan perhatian kini diarahkan ke AI, cloud, serta layanan baru.

Pendekatan ini memiliki risiko. Jika pertumbuhan AI tidak cukup cepat untuk menggantikan biaya investasi, profitabilitas Alibaba dapat terus tertekan. Investor mulai mempertanyakan apakah belanja AI yang sangat besar akan menghasilkan keuntungan yang sebanding, terutama setelah laba turun tajam dan arus kas bebas menjadi negatif.

Arus Kas Menjadi Perhatian

Tekanan terhadap arus kas menjadi salah satu persoalan paling penting dalam laporan terbaru. Arus kas bebas Alibaba berubah menjadi negatif sekitar 44,6 miliar yuan pada kuartal tersebut. Penurunan arus kas menjadi perhatian karena perusahaan harus mengeluarkan dana besar untuk investasi AI sementara hasil finansial dari investasi tersebut belum sepenuhnya terlihat.

Arus kas negatif tidak selalu berarti kondisi perusahaan memburuk secara permanen. Perusahaan yang sedang melakukan ekspansi besar memang dapat mengalami periode investasi yang mengurangi kas. Masalahnya adalah berapa lama periode tersebut berlangsung dan seberapa cepat investasi berubah menjadi pendapatan serta laba.

Alibaba Tidak Berhenti Berinvestasi

Alibaba justru menunjukkan bahwa perusahaan belum berniat memperlambat langkah. Dalam beberapa tahun ke depan, AI dan cloud diposisikan sebagai salah satu prioritas investasi terbesar. Alibaba sebelumnya telah berkomitmen menginvestasikan sekitar 380 miliar yuan dalam tiga tahun untuk AI dan infrastruktur cloud.

Komitmen tersebut memperlihatkan bahwa Alibaba melihat AI bukan sebagai proyek eksperimental, melainkan sebagai perubahan struktural dalam model bisnis. Perusahaan bersedia menerima tekanan terhadap laba dalam jangka pendek dengan harapan memperoleh posisi yang lebih kuat dalam pasar AI dan cloud dalam jangka panjang.

Pendanaan Baru Mengubah Permainan

Tekanan investasi tersebut kemudian diikuti langkah pendanaan besar. Alibaba mengumumkan rencana penerbitan 710 juta saham baru di Hong Kong untuk menghimpun sekitar HK$80 miliar atau US$10,2 miliar. Seluruh dana tersebut akan digunakan untuk memperluas kemampuan AI, termasuk infrastruktur, chip, dan pengembangan model.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa Alibaba tidak hanya mengandalkan arus kas internal untuk membiayai perlombaan AI. Perusahaan juga bersedia menggunakan pasar modal. Namun, penerbitan saham baru berarti adanya dilusi bagi pemegang saham lama, sehingga investor akan menuntut bukti bahwa modal tambahan tersebut mampu menghasilkan nilai yang lebih besar di masa depan.

Investor Mulai Menghitung Imbal Hasil

Respons pasar menunjukkan bahwa investor mulai mengubah pertanyaan. Mereka tidak lagi hanya bertanya apakah Alibaba mampu membangun AI, tetapi apakah investasi tersebut menghasilkan return on investment yang memadai.

Saham Alibaba turun hampir 9% di Hong Kong setelah perusahaan mengumumkan pendanaan baru US$10,2 miliar, sementara investor mempertanyakan kemampuan perusahaan mengubah investasi AI menjadi keuntungan. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa pasar mulai memberikan nilai berbeda antara pertumbuhan pendapatan AI dan biaya yang diperlukan untuk mencapainya.

Persaingan China Semakin Ketat

Alibaba juga harus bergerak dalam lingkungan persaingan AI China yang sangat dinamis. Perusahaan tidak hanya berhadapan dengan raksasa teknologi global, tetapi juga perusahaan teknologi China lain yang mengembangkan model bahasa, chip, dan layanan cloud mereka sendiri.

Keterbatasan akses terhadap chip AI paling canggih dari Amerika Serikat membuat perusahaan China memiliki tantangan tambahan. Perusahaan-perusahaan China merespons keterbatasan tersebut dengan mengembangkan model yang lebih efisien dan meningkatkan kemampuan chip domestik.

Dalam konteks tersebut, Alibaba mengembangkan chip T-Head dan mulai memperluas penggunaan komersialnya. Alibaba juga berusaha mengurangi ketergantungan pada komponen asing dengan meningkatkan kemampuan teknologinya sendiri.

E-Commerce Masih Penting

Meski AI menjadi pusat perhatian, Alibaba belum meninggalkan bisnis perdagangan digital. E-commerce tetap menjadi sumber pendapatan terbesar dan menyediakan basis pengguna yang sangat besar bagi pengembangan layanan baru.

Namun, pertumbuhan perdagangan digital menghadapi tantangan. Persaingan dengan pemain seperti PDD dan JD.com membuat Alibaba harus terus mengeluarkan biaya untuk mempertahankan pengguna. Investasi AI Alibaba berlangsung dalam konteks yang lebih luas, yakni kebutuhan perusahaan untuk mencari sumber pertumbuhan baru ketika bisnis e-commerce menghadapi persaingan yang semakin intens.

Quick Commerce Menambah Beban

Alibaba juga mengeluarkan dana besar untuk mengembangkan layanan perdagangan cepat. Bisnis quick commerce tumbuh kuat, tetapi ekspansi tersebut membutuhkan subsidi dan investasi untuk membangun jaringan pengiriman serta menarik pelanggan.

Pendapatan dari bisnis quick commerce tumbuh sekitar 45%, tetapi investasi untuk mengembangkan bisnis tersebut ikut menambah tekanan terhadap profitabilitas grup. Dengan demikian, Alibaba saat ini menghadapi beberapa proyek pertumbuhan sekaligus, bukan hanya AI.

Ada Masalah Non-AI yang Ikut Menekan

Penurunan laba juga dipengaruhi oleh faktor di luar investasi AI. Alibaba mencatat penurunan pendapatan operasional dan dampak dari penurunan keuntungan investasi. Selain itu, perusahaan mencatat provisi terkait denda €550 juta dari Komisi Eropa berdasarkan Digital Services Act.

Laba operasi turun 57% menjadi 15,16 miliar yuan, sementara laba operasi yang disesuaikan turun 30% menjadi 27,33 miliar yuan. Penurunan tersebut terutama berkaitan dengan investasi teknologi, meskipun perbaikan bisnis cloud dan efisiensi operasional memberikan kompensasi sebagian.

Strategi Ini Membutuhkan Waktu

Alibaba sebenarnya sedang menjalankan strategi yang membutuhkan kesabaran. Infrastruktur AI harus dibangun terlebih dahulu, kemudian pelanggan harus mengadopsi layanan tersebut, lalu skala penggunaan harus meningkat sebelum keuntungan dapat sepenuhnya terlihat.

Karena itu, perbandingan antara belanja modal hari ini dan pendapatan AI saat ini tidak selalu menggambarkan nilai ekonominya secara penuh. Namun, semakin besar investasinya, semakin tinggi pula tuntutan terhadap hasil yang harus diberikan. Jika pertumbuhan cloud tetap berada di sekitar 45% atau bahkan meningkat, tekanan terhadap laba dapat lebih mudah diterima investor.

China Membutuhkan Pemain AI Besar

Ada dimensi strategis yang lebih luas. Alibaba bukan hanya membangun bisnis baru untuk dirinya sendiri, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu pemasok infrastruktur AI utama bagi perusahaan-perusahaan China.

Alibaba ingin mendorong pertumbuhan enterprise cloud dan layanan model AI sebagai sumber pertumbuhan masa depan. Jika strategi tersebut berhasil, perusahaan dapat mengambil posisi seperti penyedia infrastruktur digital yang menjadi fondasi bagi banyak perusahaan lain, bukan hanya sebagai platform e-commerce.

Pasar Modal Mulai Menguji Kesabaran

Penerbitan saham baru sebesar US$10,2 miliar membuat tantangan Alibaba semakin jelas. Investor memberikan modal tambahan, tetapi mereka juga memperoleh alasan untuk meminta pertanggungjawaban yang lebih besar mengenai penggunaan dana tersebut.

Menariknya, sejumlah orang dalam perusahaan justru membeli saham setelah tekanan pasar meningkat. Chairman Joe Tsai membeli 720.000 saham Alibaba senilai sekitar HK$82 juta pada 25 Agustus, sementara pembelian oleh Tsai dan CEO Eddie Wu mengikuti transaksi besar oleh pendiri Jack Ma.

Langkah tersebut memberikan sinyal kepercayaan internal, meskipun tentu tidak menghilangkan risiko investasi AI. Pada akhirnya, pasar akan menilai Alibaba berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan, margin, dan arus kas dari modal yang telah dikeluarkan.

Pertaruhan Alibaba Semakin Besar

Alibaba kini berada pada titik penting dalam transformasi bisnisnya. Perusahaan masih memiliki e-commerce yang besar, tetapi masa depan pertumbuhannya semakin terkait dengan cloud, AI, chip, dan infrastruktur komputasi. Investasi besar tersebut sudah menghasilkan pertumbuhan cloud yang kuat, tetapi juga menyebabkan laba dan arus kas berada di bawah tekanan.

Karena itu, penurunan laba Alibaba tidak dapat dibaca sederhana sebagai tanda bahwa bisnisnya melemah. Ini lebih menyerupai pertukaran antara profitabilitas jangka pendek dan posisi teknologi jangka panjang. Masalahnya adalah tidak ada jaminan bahwa investasi besar otomatis menghasilkan keuntungan besar.

Jika pertumbuhan AI dan cloud terus meningkat, Alibaba dapat membangun sumber pendapatan baru yang jauh lebih besar daripada bisnis digital tradisionalnya. Tetapi jika biaya komputasi, chip, pusat data, dan pengembangan model meningkat lebih cepat daripada pendapatan, tekanan terhadap laba dapat bertahan lebih lama dari yang diharapkan.

Alibaba akhirnya menghadapi pertanyaan yang sama dengan banyak perusahaan teknologi besar di era AI yaitu seberapa besar investasi yang diperlukan untuk menjadi pemimpin, dan kapan investasi tersebut mulai menghasilkan keuntungan? Untuk saat ini, perusahaan memilih untuk mengambil risiko tersebut. Pertumbuhan cloud 45% memberikan alasan untuk optimistis, tetapi penurunan laba 75% dan arus kas bebas negatif menunjukkan bahwa harga untuk mengejar kepemimpinan AI masih sangat mahal.