JD Sports

JD Sports Tertekan Lesunya Pasar Amerika

(Business Lounge – Global News) JD Sports Fashion harus menurunkan proyeksi laba tahun fiskal 2026/27 setelah penjualan kuartal kedua mengalami tekanan. Perusahaan kini memperkirakan laba sebelum pajak dan pos penyesuaian berada di kisaran £700 juta hingga £800 juta, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar £750 juta hingga £850 juta. The Wall Street Journal melaporkan bahwa saham JD Sports langsung turun sekitar 12% setelah pengumuman tersebut, menunjukkan kekhawatiran investor terhadap kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan di tengah pasar yang semakin sulit.

Kinerja penjualan grup memang menunjukkan pelemahan. Dalam 13 minggu hingga 1 Agustus, penjualan like-for-like turun 3,1%, sementara penjualan organik turun 1,3%. Penurunan tersebut lebih buruk dibandingkan kuartal pertama yang masing-masing turun 2,5% dan 0,1%. Reuters mencatat bahwa tekanan terbesar datang dari Amerika Utara, lemahnya sentimen konsumen, permintaan footwear yang melambat, serta pembelian back-to-school yang bergeser dari Juli ke awal Agustus.

Amerika Utara Menjadi Masalah Utama

Amerika Utara menjadi titik paling lemah dalam kinerja JD Sports. Kawasan tersebut menyumbang sekitar 35% penjualan kuartal kedua, tetapi penjualan organiknya turun 4,5% dan penjualan like-for-like merosot 6,8%. Bahkan setelah jaringan standalone Finish Line dikeluarkan, penjualan organik masih turun 1%. Menurut laporan JD Sports Fashion, pelemahan tersebut terutama mencerminkan tekanan terhadap konsumen utama perusahaan dan perlambatan permintaan terhadap produk footwear yang sebelumnya sangat populer.

Kondisi konsumen menjadi semakin penting karena pelanggan utama JD Sports berasal dari kelompok yang cukup sensitif terhadap biaya hidup. Inflasi, harga bahan bakar, dan berbagai biaya kebutuhan sehari-hari membuat konsumen lebih selektif dalam menentukan pembelian. The Guardian melaporkan bahwa tekanan biaya hidup ikut memengaruhi penjualan sneakers dan membuat JD Sports harus menawarkan lebih banyak promosi untuk mendorong permintaan.

Footwear Sedang Kehilangan Momentum

Persoalan JD Sports juga berkaitan dengan perubahan siklus produk. Footwear tetap menjadi kategori yang lemah di tingkat grup karena konsumen menghadapi tekanan daya beli, sementara beberapa produk dari merek besar memasuki fase siklus yang kurang kuat. Perusahaan juga menghadapi pasar yang sangat promosi, sehingga harga menjadi semakin penting dalam keputusan pembelian. Laporan resmi JD Sports menunjukkan bahwa kondisi tersebut menekan kategori footwear, meskipun apparel dan aksesori masih menunjukkan kinerja yang baik.

Perubahan tersebut membuat persaingan di pasar sneakers menjadi semakin menarik. Merek-merek besar seperti Nike dan Adidas masih memiliki posisi kuat, tetapi konsumen mulai mencari alternatif. Financial Times mencatat bahwa merek seperti On dan Hoka semakin mendapatkan perhatian ketika pertumbuhan sejumlah merek tradisional melambat. Bagi JD Sports, perubahan ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang karena perusahaan memiliki jaringan distribusi yang dapat digunakan untuk memperluas pilihan merek dan kategori.

Running Menjadi Titik Terang

Di tengah tekanan footwear, produk berbasis performance running justru menunjukkan momentum yang menggembirakan. JD Sports menyebut kategori tersebut tumbuh di beberapa wilayah, termasuk Amerika Utara, sementara gaya footwear yang lebih baru juga mulai menunjukkan perkembangan. Perusahaan melihatnya sebagai salah satu bagian dari diversifikasi produk yang dapat mengurangi ketergantungan pada sneakers yang sedang mengalami perlambatan siklus.

Pertumbuhan running menunjukkan bahwa konsumen belum sepenuhnya meninggalkan kategori footwear. Mereka masih bersedia mengeluarkan uang untuk produk yang menawarkan fungsi dan kenyamanan sekaligus memiliki daya tarik fashion. Karena itu, pergeseran menuju running, outdoor, dan produk performance dapat menjadi salah satu cara JD Sports menghadapi perubahan selera konsumen tanpa harus bergantung sepenuhnya pada produk sneakers yang sedang menjadi tren.

Apparel Menunjukkan Ketahanan

Apparel dan aksesori justru memberikan kinerja yang lebih baik di berbagai wilayah. JD Sports mencatat perkembangan positif pada kategori tersebut, termasuk produk perempuan dan merek milik sendiri. Di Inggris, penjualan jersey sepak bola memberikan kontribusi yang kuat, sementara bisnis Outdoor juga mengalami perbaikan. Data perusahaan menunjukkan bahwa kategori di luar footwear mulai memainkan peran yang semakin penting dalam menjaga penjualan.

Perubahan ini dapat menjadi bagian penting dari strategi JD Sports ke depan. Jika footwear menghadapi siklus produk yang lebih panjang, apparel dan aksesori memberikan kesempatan untuk menciptakan pembelian tambahan. Konsumen yang datang untuk membeli sneakers dapat diarahkan ke pakaian, aksesori, atau produk olahraga lainnya. Dengan begitu, perusahaan tidak hanya bergantung pada satu kategori untuk meningkatkan nilai setiap kunjungan.

Asia Pasifik Justru Tumbuh

Kontras paling jelas terlihat di Asia Pasifik. Penjualan organik kawasan tersebut meningkat 10,2% pada kuartal kedua, sedangkan penjualan like-for-like tumbuh 1,4%. Dalam enam bulan pertama tahun fiskal, penjualan organik bahkan meningkat 11,3%. Menurut laporan JD Sports Fashion, pertumbuhan tersebut didukung oleh kinerja footwear dan apparel serta pertumbuhan penjualan online yang kuat.

Kontribusi Asia Pasifik memang masih relatif kecil, sekitar 5% dari penjualan kuartal kedua. Namun, tingkat pertumbuhannya memberikan gambaran mengenai peluang geografis yang masih tersedia. Ketika Amerika Utara menjadi sumber tekanan terbesar, pasar Asia Pasifik dapat menjadi salah satu penyeimbang. Perusahaan tetap harus berhati-hati dalam melakukan ekspansi, tetapi perbedaan kinerja antarwilayah menunjukkan bahwa strategi JD Sports tidak harus bergantung pada satu pasar.

Inggris Mulai Membawa Angin Positif

Inggris juga menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Penjualan like-for-like meningkat 0,8% pada kuartal kedua, didukung oleh apparel, aksesori, penjualan jersey sepak bola, serta membaiknya bisnis Outdoor. JD Sports menyebut kinerja Inggris sebagai salah satu titik positif dalam periode tersebut, terutama ketika pasar Amerika Utara mengalami tekanan yang jauh lebih besar.

Eropa masih berada di wilayah negatif, tetapi penurunannya relatif lebih ringan. Penjualan like-for-like turun 2,7%, sementara penjualan organik hanya turun 0,4%. Perusahaan menyebut tren Eropa membaik dibandingkan kuartal pertama dengan dukungan dari bisnis Sporting Goods. Dengan demikian, persoalan JD Sports lebih terkonsentrasi di Amerika Utara daripada terjadi secara merata di seluruh jaringan globalnya.

Promosi Semakin Menentukan

Lingkungan promosi menjadi salah satu faktor yang tidak dapat diabaikan. JD Sports melakukan investasi harga secara terkontrol untuk tetap kompetitif, sementara margin kotor semester pertama masih berada sesuai ekspektasi perusahaan. Reuters melaporkan bahwa tekanan promosi mencerminkan persaingan yang semakin ketat ketika konsumen menghadapi biaya hidup yang lebih tinggi.

Strategi harga memang dapat membantu menarik konsumen, tetapi memiliki konsekuensi terhadap margin. Perusahaan harus memastikan bahwa diskon tidak menjadi satu-satunya alasan konsumen membeli. Produk baru, pengalaman toko, pilihan merek, dan loyalitas pelanggan harus bekerja bersama agar JD Sports dapat mempertahankan penjualan tanpa harus terus meningkatkan intensitas promosi.

Online Masih Menjadi Penopang

Di tengah tekanan pada toko fisik, penjualan online justru tumbuh 2,6% pada kuartal kedua. Pertumbuhan tersebut didukung oleh kekuatan kategori apparel dan meningkatnya pemenuhan pesanan melalui toko. Laporan JD Sports menunjukkan bahwa kanal digital semakin penting dalam menghubungkan jaringan toko dengan pelanggan.

Model tersebut memberikan keuntungan karena toko tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai bagian dari sistem pemenuhan pesanan. Persediaan yang tersedia di toko dapat digunakan untuk memenuhi permintaan online sehingga perusahaan memiliki lebih banyak fleksibilitas dalam mengelola stok. Ini menjadi semakin penting ketika perusahaan harus menghadapi tekanan promosi dan memastikan persediaan bergerak secara efisien.

Arus Kas Masih Terjaga

Pemangkasan proyeksi laba tidak diikuti perubahan pada proyeksi arus kas bebas. JD Sports masih memperkirakan free cash flow tahun fiskal 2026/27 berada di kisaran £460 juta hingga £520 juta. Menurut laporan perusahaan, JD Sports juga berada dalam posisi kas bersih pada 1 Agustus sebelum memperhitungkan kewajiban sewa, dibandingkan posisi utang bersih pada tahun sebelumnya.

Kondisi kas tersebut memberi perusahaan ruang untuk tetap menjalankan program pengembalian modal kepada pemegang saham. JD Sports telah memulai tranche kedua senilai £100 juta dari program share buyback tahunan sebesar £200 juta. Keputusan ini menunjukkan bahwa meskipun prospek laba sedang mengalami tekanan, manajemen masih melihat kemampuan menghasilkan kas sebagai salah satu kekuatan utama perusahaan.

Strategi Mulai Bergeser

Tekanan yang terjadi juga memperlihatkan perubahan fokus JD Sports. Perusahaan kini tidak hanya mengejar pertumbuhan melalui pembukaan toko, tetapi semakin menekankan produktivitas toko, digital, AI, data, loyalitas, efisiensi biaya, dan pengelolaan persediaan. Financial Times mencatat bahwa perusahaan sedang menghadapi tekanan untuk membuktikan efektivitas strategi pertumbuhan globalnya setelah periode ekspansi yang panjang.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa JD Sports memasuki fase yang berbeda. Perusahaan harus mendapatkan pertumbuhan lebih banyak dari aset dan pelanggan yang sudah dimiliki. Jika toko yang ada dapat menghasilkan penjualan lebih tinggi, kanal digital terus tumbuh, dan kategori baru berkembang, perusahaan tidak perlu sepenuhnya bergantung pada ekspansi jaringan untuk meningkatkan pendapatan.

Amerika Serikat Menjadi Penentu

Untuk jangka pendek, pemulihan Amerika Serikat tetap menjadi faktor paling penting. Kawasan tersebut memberikan kontribusi lebih dari sepertiga penjualan JD Sports, sehingga perbaikan kecil saja dapat memberikan dampak signifikan terhadap kinerja grup. Sebaliknya, jika permintaan tetap lemah, tekanan terhadap laba dapat terus berlanjut. Reuters menilai bahwa pemulihan penjualan Amerika akan sangat berkaitan dengan membaiknya sentimen konsumen dan siklus produk footwear.

Ada sedikit ruang untuk optimisme karena sebagian permintaan back-to-school yang biasanya terjadi pada Juli bergeser ke paruh pertama Agustus. Namun, perusahaan juga menghadapi persoalan yang lebih panjang berupa perubahan preferensi konsumen dan lemahnya beberapa produk utama. Karena itu, JD Sports tidak bisa hanya mengandalkan faktor musiman untuk memperbaiki kinerja Amerika.

Memasuki Fase Pembuktian

JD Sports masih memiliki sejumlah kekuatan untuk menghadapi tekanan tersebut. Asia Pasifik tumbuh, Inggris mulai stabil, apparel dan aksesori memberikan kontribusi positif, running menunjukkan momentum, penjualan online meningkat, dan arus kas tetap kuat. Menurut laporan resmi JD Sports, perusahaan juga terus mengendalikan biaya, persediaan, belanja modal, dan biaya operasional toko.

Namun, kekuatan tersebut harus diterjemahkan menjadi pertumbuhan yang lebih konsisten. Penurunan proyeksi laba menunjukkan bahwa strategi lama belum sepenuhnya mampu menghadapi perubahan kondisi pasar. JD Sports sekarang perlu membuktikan bahwa diversifikasi produk, penguatan digital, efisiensi toko, dan ekspansi di pasar dengan pertumbuhan lebih tinggi dapat mengimbangi tekanan Amerika Utara.

Persoalan JD Sports bukan sekadar penjualan yang turun dalam satu kuartal. Perusahaan sedang menghadapi perubahan yang lebih luas dalam perilaku konsumen, siklus produk, persaingan merek, dan strategi harga. The Wall Street Journal, Reuters, Financial Times, The Guardian, dan laporan resmi JD Sports sama-sama menggambarkan sebuah perusahaan yang masih memiliki kekuatan besar, tetapi harus menyesuaikan mesin pertumbuhannya. Tantangan berikutnya adalah mengubah momentum dari Asia Pasifik, running, apparel, dan digital menjadi pertumbuhan yang cukup kuat untuk menutup kelemahan Amerika Utara.

Dari berbagai sumber