(Business Lounge – Global News) Starbucks kembali memangkas tenaga kerja korporasi dengan mengurangi lebih dari 200 posisi sebagai bagian dari upaya merampingkan organisasi di bawah CEO Brian Niccol. Pemangkasan terbaru tersebut terutama menyasar fungsi teknologi serta pengembangan dan desain kedai kopi. Menurut The Wall Street Journal, sekitar 120 pekerja teknologi terdampak karena tidak bersedia pindah dari Seattle ke Nashville, sementara 104 posisi lainnya terkait dengan fungsi desain dan pengembangan coffeehouse. Langkah ini tidak disertai penutupan kedai baru.
Keputusan tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari restrukturisasi yang lebih besar, bukan sekadar pengurangan jumlah karyawan. Starbucks sedang mencoba mengubah struktur perusahaan agar lebih sederhana dan lebih banyak sumber daya diarahkan kepada aktivitas yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Strategi tersebut merupakan bagian dari agenda Back to Starbucks yang dicanangkan Niccol sejak mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Fokusnya adalah memperbaiki pengalaman di kedai, meningkatkan pelayanan, dan membuat operasi lebih konsisten. Starbucks sebelumnya telah mengumumkan pengurangan sekitar 900 posisi non-retail pada 2025, sehingga putaran terbaru memperpanjang proses perubahan organisasi tersebut.
Seattle Dikurangi, Nashville Diperkuat
Salah satu aspek paling menarik dari pemangkasan terbaru adalah pergeseran geografis fungsi korporasi Starbucks. Perusahaan sedang membangun kampus korporasi baru senilai sekitar US$100 juta di Nashville yang dirancang untuk menampung sekitar 2.000 pekerja di bidang teknologi dan rantai pasok. Sebagian pekerja yang terdampak memilih tidak pindah dari Seattle ke Nashville. Karena itu, sebagian pengurangan tenaga kerja bukan hanya berkaitan dengan penghematan, tetapi juga dengan keputusan Starbucks untuk mengonsolidasikan fungsi tertentu ke lokasi yang telah dipilih sebagai pusat operasi baru.
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana perusahaan besar dapat menggunakan restrukturisasi geografis untuk mengubah struktur biaya sekaligus cara kerja organisasi. Starbucks selama bertahun-tahun memiliki identitas korporasi yang sangat kuat di Seattle, tetapi Niccol ingin membangun organisasi yang lebih terintegrasi dengan prioritas bisnis baru. Nashville menjadi salah satu pusat penting dalam strategi tersebut, terutama untuk teknologi dan rantai pasok. Bagi perusahaan, konsolidasi dapat membantu mengurangi duplikasi fungsi, mempercepat pengambilan keputusan, dan menciptakan koordinasi yang lebih dekat antara tim yang memiliki fungsi saling terkait.
Dari Kantor Pusat ke Coffeehouse
Inti strategi Starbucks sebenarnya bukan sekadar mengurangi jumlah pegawai kantor. Perusahaan ingin memindahkan sumber daya dari fungsi korporasi yang dianggap kurang langsung menghasilkan nilai kepada konsumen menuju coffeehouse. Dalam pesan kepada karyawan pada 2025, Starbucks mengatakan bahwa pengurangan posisi non-retail dilakukan bersamaan dengan investasi pada jam kerja partner di gerai, pelayanan pelanggan, desain coffeehouse, dan inovasi. Dengan kata lain, pemangkasan korporasi dimaksudkan untuk membiayai perubahan yang terjadi di garis depan bisnis.
Strategi tersebut memiliki logika yang kuat karena Starbucks menjual lebih dari sekadar kopi. Pengalaman di kedai merupakan bagian penting dari proposisi merek. Ketika antrean panjang, pelayanan lambat, staf kekurangan tenaga, atau suasana kedai tidak sesuai ekspektasi pelanggan, masalah tersebut dapat langsung memengaruhi persepsi terhadap merek. Karena itu, investasi pada tenaga kerja di gerai dapat memiliki dampak yang lebih langsung terhadap penjualan dan loyalitas dibandingkan mempertahankan struktur korporasi yang terlalu kompleks.
Teknologi Dipangkas, Tetapi Tetap Diinvestasikan
Pemangkasan tenaga kerja di bidang teknologi tidak berarti Starbucks mengurangi ambisi digitalnya. Justru perusahaan sedang mengubah cara teknologi digunakan untuk mendukung operasi coffeehouse. Starbucks menyatakan bahwa AI digunakan untuk membantu pekerja memperoleh informasi secara cepat, mengurangi gangguan selama jam sibuk, meningkatkan konsistensi layanan, serta membantu penjadwalan dan peramalan kebutuhan tenaga kerja. Teknologi diposisikan sebagai alat untuk membuat pekerjaan di kedai lebih mudah, bukan sebagai pengganti hubungan manusia.
Starbucks juga sedang mengembangkan sejumlah perangkat lunak internal dengan bantuan AI yang berpotensi menggantikan sebagian aplikasi yang saat ini dibeli dari perusahaan seperti Microsoft dan IBM. Menurut Fortune yang mengutip Bloomberg, perusahaan sedang mengembangkan alternatif untuk sistem yang digunakan dalam pengelolaan persediaan dan pemeliharaan. Beberapa sistem tersebut berpotensi mulai digunakan pada akhir 2027, tergantung hasil pengujian. Perkembangan ini menunjukkan bahwa pengurangan tenaga kerja teknologi dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan investasi teknologi, karena Starbucks ingin memperoleh teknologi yang lebih terintegrasi dengan kebutuhan operasionalnya.
AI untuk Mengurangi Friksi di Kedai
Pendekatan Starbucks terhadap AI cukup berbeda dari narasi otomatisasi yang sering muncul di industri jasa. Perusahaan menekankan bahwa teknologi seharusnya membuat pekerjaan partner lebih mudah sehingga mereka dapat memberikan lebih banyak perhatian kepada pelanggan. Green Dot Assist, misalnya, dirancang sebagai pendamping bagi pekerja coffeehouse dengan menyediakan jawaban cepat mengenai resep, prosedur, dan standar layanan. Smart Queue digunakan untuk mengatur aliran pesanan dari café, drive-through, mobile order, dan delivery agar proses produksi lebih teratur.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi teknologi Starbucks diarahkan pada operational efficiency. Tujuannya bukan semata-mata mengurangi tenaga manusia, tetapi mengurangi pekerjaan administratif dan hambatan operasional yang mengganggu pelayanan. Jika teknologi dapat membuat pekerja lebih cepat menemukan informasi, mengatur pesanan, atau mempersiapkan kebutuhan pelanggan, Starbucks dapat meningkatkan produktivitas tanpa harus mengorbankan unsur manusia yang menjadi bagian penting dari pengalaman mereknya.
Mengapa Tidak Menutup Kedai?
Hal yang membedakan restrukturisasi terbaru Starbucks dengan beberapa aksi korporasi sebelumnya adalah penegasan bahwa pemangkasan ini tidak berkaitan dengan penutupan coffeehouse. Perusahaan memang telah menutup sejumlah lokasi yang dianggap tidak memiliki jalur menuju kinerja finansial yang sehat sebagai bagian dari evaluasi portofolio. Namun, langkah terbaru justru diarahkan pada struktur korporasi, sementara perusahaan terus berinvestasi untuk memperbaiki kedai yang dipertahankan.
Keputusan tersebut memperlihatkan perubahan prioritas yang cukup jelas. Starbucks tidak ingin mengatasi persoalan bisnis dengan sekadar mengurangi jumlah gerai. Perusahaan justru ingin membuat jaringan coffeehouse yang ada bekerja lebih baik. Starbucks sebelumnya menargetkan peningkatan lebih dari 1.000 lokasi melalui program Coffeehouse Uplift, dengan fokus pada suasana, desain, kenyamanan, dan pengalaman pelanggan. Pada saat yang sama, perusahaan juga memperkuat kepemimpinan di tingkat coffeehouse melalui posisi coffeehouse coach.
Investasi di Garis Depan
Pada Juni 2026, Starbucks mengumumkan perluasan nasional posisi coffeehouse coach setelah uji coba di 62 coffeehouse di enam pasar. Lebih dari 300 posisi diharapkan terisi dalam satu bulan, dengan ribuan posisi tambahan ditargetkan pada akhir tahun. Peran tersebut dirancang untuk membantu pemimpin coffeehouse dalam mengelola operasi, mengembangkan partner, dan menciptakan konsistensi pelayanan. Starbucks juga menargetkan 90% posisi kepemimpinan retail diisi secara internal.
Jika dilihat bersamaan dengan pemangkasan korporasi, arah strateginya menjadi lebih mudah dipahami. Starbucks mengurangi lapisan tertentu di kantor pusat sambil memperkuat struktur kepemimpinan di coffeehouse. Perusahaan ingin organisasi yang lebih dekat dengan pelanggan memiliki kemampuan lebih besar untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah sehari-hari. Dengan demikian, restrukturisasi bukan hanya soal menghemat biaya, tetapi juga soal mengubah lokasi tempat sumber daya dan kewenangan berada.
Target Penghematan US$2 Miliar
Di balik berbagai perubahan tersebut terdapat sasaran finansial yang lebih besar. Menurut The Wall Street Journal, Starbucks menargetkan pengurangan biaya sekitar US$2 miliar hingga akhir tahun fiskal 2028. Penghematan tersebut kemudian diharapkan dapat digunakan kembali untuk memperkuat operasi coffeehouse. Strategi semacam ini memperlihatkan pendekatan cost transformation: biaya dikurangi bukan semata-mata untuk memperbesar laba jangka pendek, tetapi untuk mengalihkan modal dan sumber daya ke area yang dianggap memiliki potensi pertumbuhan lebih besar.
Tantangannya adalah memastikan bahwa pengurangan biaya tidak justru mengurangi kemampuan perusahaan untuk berinovasi. Starbucks tetap membutuhkan teknologi, desain, pemasaran, pengembangan produk, dan fungsi korporasi lainnya untuk mempertahankan daya saing. Karena itu, restrukturisasi harus menemukan titik keseimbangan antara organisasi yang lebih ramping dan kemampuan perusahaan untuk terus berkembang. Pemangkasan yang terlalu dalam dapat mengurangi biaya dalam jangka pendek, tetapi berpotensi menciptakan masalah baru jika fungsi penting kehilangan kapasitas.
Turnaround Brian Niccol Mulai Memasuki Fase Baru
Brian Niccol mengambil alih Starbucks dengan mandat untuk memperbaiki bisnis yang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari pengalaman pelanggan, kompleksitas menu, kecepatan layanan, hingga persepsi merek. Strateginya berangkat dari gagasan bahwa Starbucks harus kembali fokus pada kekuatan utamanya sebagai coffeehouse. Perubahan organisasi terbaru menunjukkan bahwa agenda tersebut sekarang memasuki fase yang lebih struktural: perusahaan tidak hanya memperbaiki menu dan kedai, tetapi juga mengubah cara kantor pusat bekerja.
Menariknya, Starbucks dalam beberapa kuartal terakhir telah menunjukkan tanda-tanda perbaikan operasional. Dalam laporan kuartal kedua tahun fiskal 2026, perusahaan menyebut peningkatan skor pengalaman pelanggan, waktu pelayanan yang tetap sesuai target meskipun volume transaksi meningkat, serta perbaikan konsistensi kinerja coffeehouse. Sistem GROW yang digunakan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kinerja gerai juga menunjukkan kemajuan, dengan proporsi coffeehouse yang mencapai standar tertentu meningkat lebih dari 30 poin persentase sejak program tersebut diluncurkan.
Efisiensi Harus Terlihat oleh Pelanggan
Ini menjadi ukuran keberhasilan paling penting bagi restrukturisasi Starbucks. Konsumen tidak akan secara langsung mengetahui berapa banyak pekerja korporasi yang dipangkas, berapa besar biaya yang dihemat, atau bagaimana organisasi dipindahkan dari Seattle ke Nashville. Mereka hanya akan melihat apakah kopi datang lebih cepat, apakah pesanan lebih akurat, apakah staf lebih siap membantu, apakah kedai terasa nyaman, dan apakah pengalaman secara keseluruhan membaik.
Karena itu, keberhasilan strategi Niccol pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi pengalaman pelanggan yang lebih baik. Jika pengurangan biaya menghasilkan layanan yang lebih cepat dan konsisten, investasi teknologi membuat pekerja lebih produktif, dan penguatan coffeehouse meningkatkan loyalitas pelanggan, maka restrukturisasi tersebut dapat dianggap berhasil. Sebaliknya, jika penghematan hanya menghasilkan organisasi yang lebih kecil tanpa memperbaiki pengalaman di gerai, manfaat strateginya akan jauh lebih terbatas.
Starbucks Sedang Mengubah Cara Bertumbuh
Pemangkasan lebih dari 200 pekerja korporasi karena itu sebaiknya tidak dibaca hanya sebagai berita PHK. Ini merupakan bagian dari perubahan model operasi Starbucks. Perusahaan sedang mencoba mengurangi kompleksitas kantor pusat, mengonsolidasikan fungsi tertentu, memanfaatkan AI dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, sekaligus mengalihkan lebih banyak perhatian kepada coffeehouse dan pelanggan. Tidak adanya rencana penutupan kedai dalam aksi terbaru memperkuat pesan bahwa pusat strategi perusahaan sekarang berada di garis depan bisnis.
Pertaruhan Starbucks cukup besar. Perusahaan harus membuktikan bahwa organisasi yang lebih ramping dapat bergerak lebih cepat, teknologi dapat mengurangi friksi tanpa menghilangkan sentuhan manusia, dan investasi pada coffeehouse dapat menghasilkan pertumbuhan yang lebih berkelanjutan. Jika keseimbangan tersebut berhasil dicapai, pemangkasan korporasi bukan sekadar program penghematan, melainkan bagian dari transformasi yang membuat Starbucks lebih fokus terhadap bisnis intinya.
Starbucks sedang mencoba menjawab pertanyaan yang lebih besar daripada berapa banyak pekerja yang harus dikurangi. Pertanyaannya adalah di mana perusahaan seharusnya menempatkan sumber daya agar pertumbuhan kembali muncul. Jawaban Niccol tampaknya semakin jelas: lebih sedikit kompleksitas di belakang layar, lebih banyak kekuatan di coffeehouse, dan teknologi yang bekerja untuk membuat pengalaman pelanggan menjadi lebih baik.

