(Business Lounge – Global News) Raksasa utilitas asal Italia, Enel, memetakan ambisi besar hingga 2028. Perusahaan ini berencana menggelontorkan lebih dari 26 miliar euro untuk bisnis terintegrasi, dengan porsi utama dialokasikan ke Eropa dan Amerika Utara. Tak berhenti di situ, lebih dari 26 miliar euro tambahan juga disiapkan untuk unit jaringan listriknya. Di saat bersamaan, Enel menjanjikan peningkatan imbal hasil bagi pemegang saham.
Rencana tersebut dirangkum dalam strategi jangka menengah terbaru yang dilaporkan Reuters dan Bloomberg. Fokusnya jelas: memperkuat posisi di pasar inti sekaligus menjaga disiplin finansial. Setelah beberapa tahun merapikan portofolio dan melepas aset non-strategis, Enel kini memasuki fase ekspansi yang lebih terarah.
Sebagian besar belanja modal akan mengalir ke proyek energi terbarukan dan penguatan infrastruktur jaringan. Eropa tetap menjadi jantung operasi, tetapi Amerika Utara juga mendapat porsi signifikan. Wilayah ini dinilai menawarkan potensi pertumbuhan stabil, terutama dalam pengembangan energi bersih dan modernisasi grid.
Unit jaringan listrik atau grids menjadi salah satu prioritas utama. Investasi lebih dari 26 miliar euro di segmen ini menunjukkan keyakinan bahwa infrastruktur distribusi adalah tulang punggung transisi energi. Permintaan listrik diperkirakan terus meningkat, dipicu elektrifikasi transportasi, pusat data, dan digitalisasi industri.
Analis yang dikutip Financial Times menilai strategi Enel mencerminkan pergeseran model bisnis utilitas modern. Alih-alih hanya mengandalkan pembangkitan listrik, perusahaan kini menempatkan jaringan sebagai aset bernilai tinggi dengan arus kas stabil. Grid yang kuat memungkinkan integrasi energi terbarukan dalam skala besar.
Di sisi lain, komitmen peningkatan pengembalian kepada pemegang saham menjadi sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap arus kas masa depan. Dalam paparan yang dilaporkan The Wall Street Journal, Enel menyebutkan target pertumbuhan dividen progresif hingga 2028. Janji ini penting untuk menjaga daya tarik saham di tengah persaingan sektor energi.
Langkah agresif ini datang setelah periode restrukturisasi. Enel sebelumnya memangkas utang dan menyederhanakan portofolio geografisnya. Beberapa aset di Amerika Latin dilepas untuk memperkuat neraca. Kini, dengan struktur yang lebih ramping, perusahaan merasa siap menekan pedal investasi.
Pasar merespons positif arah baru tersebut. Saham Enel bergerak menguat setelah detail rencana diumumkan. Investor melihat kombinasi investasi besar dan komitmen dividen sebagai keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
Tantangan tentu tetap ada. Proyek energi dan infrastruktur skala besar rentan terhadap risiko regulasi, fluktuasi biaya bahan baku, dan dinamika suku bunga. Namun Enel menilai fokus pada pasar dengan kepastian regulasi tinggi akan membantu meredam gejolak.
Strategi 2028 ini juga menempatkan Enel sebagai salah satu pemain kunci dalam transisi energi global. Dengan portofolio pembangkit terbarukan yang luas dan jaringan distribusi yang terus diperkuat, perusahaan ingin berada di garis depan transformasi sistem kelistrikan.
Bagi investor, pesan yang ingin disampaikan cukup gamblang: Enel tak sekadar bertahan, melainkan bersiap memperluas pijakan. Belanja modal puluhan miliar euro menjadi bukti bahwa perusahaan melihat peluang jangka panjang yang menjanjikan, terutama di Eropa dan Amerika Utara.
Dalam lanskap energi yang berubah cepat, keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian finansial menjadi kunci. Enel tampaknya memilih jalur progresif—mengucurkan investasi besar sembari tetap memanjakan pemegang saham dengan dividen yang ditargetkan terus naik. Tahun-tahun menuju 2028 akan menjadi ujian apakah strategi ini mampu menghasilkan pertumbuhan yang konsisten sekaligus menjaga neraca tetap solid.

