Transformasi Modal Ventura 2026: Era Baru Investasi Teknologi Berbasis DeepTech (2)

(Businesslounge Journal-News & Insight)

DeepTech Menjadi Primadona Baru

Tren investasi 2026 juga menunjukkan kebangkitan sektor DeepTech, yakni inovasi berbasis riset ilmiah, rekayasa teknik, dan teknologi canggih untuk menjawab tantangan global.

Investor kini menyadari bahwa perangkat lunak saja tidak cukup untuk mengatasi persoalan energi, iklim, maupun industri masa depan. Karena itu, perhatian mulai beralih pada teknologi seperti robotika berbasis AI, semikonduktor canggih, hingga Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor nuklir modular berukuran kecil.

Lembaga riset Mordor Intelligence memperkirakan pertumbuhan rata-rata sektor DeepTech mencapai 18,32 persen. Nilai pasarnya diproyeksikan meningkat dari US$2,29 miliar pada 2025 menjadi sekitar US$5,31 miliar pada 2030.

Amerika Utara masih menjadi pasar terbesar, sementara kawasan Asia Pasifik tercatat sebagai wilayah dengan pertumbuhan tercepat. Pertumbuhan tersebut didorong oleh besarnya anggaran transformasi digital korporasi, dukungan hibah pemerintah, serta meningkatnya kebutuhan negara untuk mencapai kedaulatan teknologi.

Meski demikian, investasi DeepTech memiliki risiko tinggi karena membutuhkan modal besar dan waktu pengembangan lebih panjang dibanding startup perangkat lunak biasa.

Karena itu, perusahaan VCaaS hadir sebagai penyangga operasional dengan menyediakan pengawasan teknik dan tata kelola berbasis pencapaian tahapan proyek. Model ini membantu investor melewati fase kritis antara prototipe laboratorium hingga produksi skala industri.

Era Uang Murah Telah Berakhir

Perubahan lain yang memengaruhi dunia investasi adalah berakhirnya era “free money” atau pendanaan murah. Meskipun suku bunga global mulai melandai sejak akhir 2025, investor kini menuntut disiplin keuangan dan jalur profitabilitas yang jelas sejak awal.

Biaya pengelolaan dana pada firma modal ventura tradisional juga disebut turun ke level terendah historis, rata-rata sekitar 1,86 persen, akibat tuntutan investor terhadap efisiensi yang lebih tinggi.

Dalam situasi tersebut, model VCaaS dianggap lebih relevan karena menggunakan skema berbasis layanan atau pencapaian proyek, bukan struktur tetap seperti model tradisional “2/20”. Pendekatan ini membuat biaya investasi lebih fleksibel dan selaras dengan kebutuhan portofolio.

Investasi Kini Berbasis Ketahanan Teknologi

Perubahan lanskap investasi global menunjukkan bahwa fokus utama kini bukan lagi sekadar mengejar eksposur teknologi, melainkan menciptakan diferensiasi teknologi yang kuat dan berkelanjutan.

Baik negara yang ingin mengamankan infrastruktur AI maupun perusahaan yang ingin mengotomatisasi rantai pasoknya, model VCaaS dinilai menjadi jembatan antara strategi makro dan implementasi teknologi di lapangan.

Transformasi tersebut sekaligus menandai berakhirnya era modal ventura lama yang berfokus pada pertumbuhan agresif, dan lahirnya pendekatan investasi baru yang lebih disiplin, berbasis kedaulatan, serta berorientasi pada teknologi mendalam.