amazon

17 Tahun Amazon Kejar Takhta Walmart

(Business Lounge – Global News) Selama lebih dari satu dekade, nama Walmart nyaris identik dengan gelar perusahaan terbesar di Amerika Serikat berdasarkan pendapatan tahunan. Sejak 2009, raksasa ritel itu duduk nyaman di puncak daftar Fortune 500. Namun peta kekuatan bisnis Amerika kini bergeser. Untuk pertama kalinya, Amazon melampaui Walmart dalam total pendapatan tahunan, menandai momen simbolik setelah 17 tahun perjalanan ekspansi tanpa henti.

Menurut laporan keuangan terbaru yang dirangkum Bloomberg dan Reuters, pendapatan Amazon sepanjang tahun fiskal terakhir melampaui angka Walmart. Ini bukan lonjakan sesaat. Kenaikan tersebut merupakan akumulasi dari transformasi panjang sejak Amazon masih dikenal terutama sebagai toko buku daring.

Perjalanan ini dimulai dari strategi yang tak biasa. Didirikan oleh Jeff Bezos pada 1994, Amazon sejak awal memilih membakar laba demi ekspansi. Bertahun-tahun perusahaan itu rela mencatat margin tipis, bahkan rugi, demi memperluas gudang, mempercepat pengiriman, dan menambah kategori produk. Banyak analis dulu meragukan model tersebut. Namun fondasi yang dibangun pelan-pelan menjelma mesin pendapatan raksasa.

Ketika Walmart mempertahankan dominasi lewat ribuan toko fisik dan efisiensi rantai pasok tradisional, Amazon membangun kerajaan digital. Layanan Prime menjadi kunci. Dengan biaya langganan tahunan, pelanggan mendapat pengiriman cepat, akses streaming, dan berbagai fasilitas lain. Skema ini menciptakan loyalitas tinggi sekaligus arus kas stabil. CNBC mencatat bahwa anggota Prime cenderung berbelanja lebih sering dan dalam nilai lebih besar dibanding pelanggan biasa.

Momentum besar datang saat pandemi. Ketika toko fisik banyak tutup, konsumen beralih ke belanja daring. Penjualan Amazon melesat tajam, mempercepat tren yang sebenarnya sudah berlangsung lama. Walmart memang tak tinggal diam dan agresif mengembangkan e-commerce, tetapi posisi Amazon sebagai pemain digital murni memberi keunggulan awal.

Namun cerita ini bukan hanya tentang belanja online. Mesin terbesar Amazon justru datang dari divisi komputasi awan, Amazon Web Services. AWS tumbuh menjadi penyumbang laba utama perusahaan. Banyak perusahaan global menggantungkan infrastruktur digital mereka pada layanan ini. Financial Times menulis bahwa margin AWS jauh lebih tebal dibanding bisnis ritel, sehingga memberi ruang bagi Amazon untuk terus berinvestasi agresif di sektor lain.

Walmart tetap tangguh. Dengan jaringan lebih dari 4.000 toko di AS, perusahaan itu mengandalkan skala dan harga murah untuk mempertahankan pelanggan lintas kelas. Dalam beberapa tahun terakhir, Walmart juga sukses menarik konsumen berpenghasilan lebih tinggi ke gerai bahan makanannya, seperti dicatat The Wall Street Journal. Bahkan bisnis online Walmart mencatat pertumbuhan dua digit.

Akan tetapi, model Amazon terbukti lebih elastis. Selain ritel dan cloud, perusahaan ini menancapkan kuku di iklan digital, perangkat pintar, logistik, hingga produksi konten. Diversifikasi tersebut memperluas sumber pendapatan di luar jual beli barang fisik. Iklan yang muncul di platform Amazon kini menjadi bisnis bernilai puluhan miliar dolar per tahun, menyaingi pemain besar lain di industri periklanan digital.

Perbandingan keduanya mencerminkan evolusi ekonomi Amerika. Walmart adalah simbol era ritel fisik dan efisiensi distribusi abad ke-20. Amazon mewakili ekonomi berbasis data, cloud, dan ekosistem digital abad ke-21. Selama 17 tahun terakhir, Amazon pelan-pelan mempersempit jarak pendapatan dengan Walmart. Setiap tahun selisihnya makin tipis, hingga akhirnya terlampaui.

Pencapaian ini juga sarat makna psikologis. Sejak 2009, tak ada perusahaan yang mampu menggoyang posisi Walmart sebagai pemuncak daftar pendapatan tahunan. Gelar itu seolah permanen. Kini tongkat estafet berpindah. Para analis yang dikutip Reuters menyebut momen ini sebagai titik balik simbolik dalam sejarah korporasi Amerika.

Meski begitu, ukuran pendapatan bukan satu-satunya ukuran kekuatan. Margin laba, arus kas, dan stabilitas bisnis tetap jadi faktor penting. Walmart masih menjadi raksasa dengan fondasi kuat dan pelanggan setia. Di sisi lain, Amazon menghadapi tantangan regulasi, tekanan biaya logistik, dan persaingan ketat di cloud computing.

Perjalanan 17 tahun Amazon menunjukkan bagaimana kesabaran strategi bisa mengubah peta industri. Dari toko buku online menjadi perusahaan dengan pendapatan terbesar di Amerika, transformasi ini lahir dari keberanian mengambil risiko dan konsistensi membangun infrastruktur digital.

Persaingan dua raksasa ini belum selesai. Walmart terus mempercepat pengiriman dan memperluas layanan digitalnya. Amazon terus mengasah efisiensi gudang dan memperluas lini bisnis. Takhta mungkin telah berpindah, tetapi duel inovasi akan terus memanaskan lanskap ritel dan teknologi Amerika.

Kini sejarah mencatat bab baru: Amazon berada di posisi teratas, menggeser Walmart setelah dominasi panjang sejak 2009. Sebuah tonggak yang menegaskan bahwa dalam dunia bisnis, bahkan pemimpin lama pun bisa tersalip ketika arus perubahan bergerak cepat dan konsisten.