(Businesslounge Journal-Do You Know) Saat bangun tidur, kita mengalami proses yang disebut “sleep inertia” atau inersia tidur. Apa yang dilakukan selama periode tersebut dapat memengaruhi cara kerja otak sepanjang hari. Alih-alih langsung meraih ponsel, luangkan waktu sejenak untuk berpikir dan memusatkan perhatian.
Waktu yang paling kuat untuk memengaruhi jalannya hari justru terjadi ketika kita baru membuka mata. Apa yang kita pilih untuk dilakukan dalam beberapa menit pertama setelah bangun dapat menentukan bagaimana sisa hari akan berlangsung.
Sleep inertia merupakan masa transisi dari kondisi tidur menuju keadaan terjaga. Ketika kesadaran mulai kembali, berbagai bagian otak secara bertahap mulai aktif. Fokus, kewaspadaan, perhatian, kesadaran, kemampuan mengatur emosi, hingga kreativitas semuanya perlahan mulai bekerja kembali.
Pada saat tersebut, memori kerja jangka pendek berada dalam kondisi paling kosong. Sepanjang hari, memori kerja biasanya menampung dan berganti-ganti antara sekitar tiga hingga lima hal sekaligus. Kita mungkin harus mengingat untuk menjemput anak sepulang sekolah, menyiapkan makan malam, mempersiapkan rapat, membayar tagihan, atau mengerjakan sebuah proyek secara bersamaan. Namun ketika baru bangun, kondisinya seolah-olah seperti melakukan penyegaran ulang terhadap memori.
Jika kedua kondisi tersebut digabungkan, periode setelah bangun menjadi waktu yang sangat efektif untuk mengarahkan perhatian atau “attentional priming“, yakni membantu otak menentukan apa yang perlu menjadi fokus sepanjang hari. Karena itu, apa yang kita masukkan ke dalam pikiran pada beberapa menit pertama setelah bangun dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap sisa hari.
Bayangkan saja seperti ini: Anda tentu tidak akan bangun tidur lalu langsung memberi tubuh lima cupcake dan satu liter soda. Namun, hal serupa sebenarnya terjadi ketika Anda berguling dan langsung meraih ponsel. Saat menggulir layar, Anda sedang memenuhi otak dengan berbagai gangguan, keputusasaan, perbandingan sosial, dan rasa takut.
Hal tersebut kemudian dapat sangat memengaruhi tiga hal berikut:
Suasana hati. Apa yang kita konsumsi melalui media dapat memengaruhi emosi dan kemampuan mengatur emosi. Perhatikan bagaimana perasaan Anda setelah menonton atau membaca konten yang dipenuhi rasa takut, keputusasaan, atau kemarahan. Anda mungkin merasa mudah tersinggung, kesal, marah, tertekan, atau sedih. Sebaliknya, perhatikan bagaimana perasaan Anda ketika mengonsumsi materi yang membangkitkan semangat, menginspirasi, memotivasi, memberdayakan, dan memberikan kebahagiaan.
Fokus. Gambar dan berbagai materi yang kita berikan kepada otak akan membantu menentukan apa yang menjadi perhatian kita terhadap dunia di sekitar. Jika Anda melihat dua orang bertengkar di internet, misalnya, Anda kemungkinan akan lebih mudah memperhatikan berbagai situasi konflik yang terjadi sepanjang hari.
Cara memandang situasi. Segala sesuatu yang terjadi sepanjang hari dapat dipandang sebagai sebuah peluang ataupun krisis. Jika sejak pagi Anda memberi otak berbagai situasi yang penuh tekanan, ketakutan, dan kecemasan, Anda akan lebih cenderung melihat krisis daripada peluang.
Selain memengaruhi cara kita memandang hari, terdapat mekanisme biologis lain yang ikut berperan, yaitu dopamin. Meraih ponsel ketika otak masih setengah sadar memberikan stimulasi cepat dan mudah bahkan sebelum kaki menyentuh lantai. Hal tersebut seolah memberi sinyal kepada sistem saraf bahwa tingkat stimulasi seperti itulah yang seharusnya diharapkan sepanjang hari.
Masalahnya, kehidupan nyata tidak mampu bersaing dengan aliran konten yang telah dioptimalkan untuk memberikan rangsangan secara terus-menerus. Setelah pagi hari dimulai dengan berbagai rangsangan cepat, aktivitas sederhana seperti membuat kopi, melihat ke luar jendela, atau duduk dalam keheningan dapat terasa sangat membosankan. Otak akhirnya terbiasa menginginkan masukan tanpa henti sejak menit pertama, sehingga gangguan menjadi semakin sulit dihindari.
Saya memahami bahwa mengambil ponsel begitu bangun tidur merupakan kebiasaan yang sangat menggoda. Banyak orang melakukannya. Namun, kebiasaan tersebut dapat diubah. Mengambil sebuah buku dan menghabiskan lima menit untuk membaca dapat membantu memulai hari dengan lebih baik. Ingatlah prinsip: “Mind Before Media” — dahulukan pikiran sebelum media.
Ini bukan berarti Anda harus meninggalkan ponsel selamanya. Intinya adalah sebuah pertanyaan yang perlu dijawab setiap pagi: “siapa yang akan berbicara kepada Anda terlebih dahulu?” Apakah algoritma yang dirancang untuk mendapatkan keuntungan dari kecemasan Anda, atau pandangan jernih Anda sendiri mengenai hari yang akan dijalani? Gangguan adalah sebuah pilihan yang sebenarnya tidak perlu Anda ambil.
Jadi, besok pagi, sebelum meraih ponsel, luangkan waktu untuk sejenak memikirkan sesuatu yang benar-benar berasal dari diri Anda sendiri. Waktunya mungkin singkat, tetapi momen tersebut sepenuhnya milik Anda. Apa yang Anda masukkan ke dalamnya akan memengaruhi segala sesuatu yang terjadi setelahnya.

