Kroger Hadapi Konsumen Hemat dan Tekanan Baru

(Business Lounge – Global News) Kroger menghadapi perlambatan penjualan ketika konsumen Amerika Serikat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Jaringan supermarket tersebut memang masih mencatat pertumbuhan, tetapi kecepatannya tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya sehingga perusahaan memangkas proyeksi penjualan tahunannya. Kroger kini memperkirakan penjualan toko yang sama, tidak termasuk bahan bakar, hanya akan meningkat 0,2% hingga 0,8% sepanjang tahun fiskal 2026, turun cukup jauh dari proyeksi sebelumnya sebesar 1% hingga 2%. Dalam laporan terbarunya, The Wall Street Journal menyebut tekanan terhadap anggaran rumah tangga dan kekhawatiran konsumen terhadap wabah Cyclospora sebagai faktor penting di balik revisi tersebut. Yang menarik, jumlah kunjungan pelanggan sebenarnya masih bertumbuh, tetapi pelanggan membeli lebih sedikit barang dalam setiap kunjungan. Perubahan kecil dalam perilaku belanja ini menjadi sinyal penting bagi industri ritel karena menunjukkan bahwa konsumen masih datang ke supermarket, tetapi semakin selektif menentukan apa yang benar-benar mereka butuhkan.

CEO Kroger Greg Foran menggambarkan perubahan tersebut sebagai konsumen yang semakin membeli berdasarkan kebutuhan. Tekanan itu datang dari berbagai arah, mulai dari berkurangnya manfaat SNAP bagi sebagian rumah tangga, harga bahan bakar yang lebih tinggi hingga melemahnya kepercayaan konsumen. Bagi supermarket, situasi seperti ini cukup kompleks karena makanan merupakan kebutuhan pokok, tetapi konsumen tetap memiliki ruang untuk mengubah pilihan. Mereka dapat membeli merek yang lebih murah, mengurangi jumlah produk yang dibeli, menunda pembelian barang tertentu atau memilih produk private label. Reuters melaporkan bahwa kelompok konsumen berpendapatan menengah dan rendah menjadi lebih berhati-hati dalam berbelanja ketika inflasi dan ketidakpastian ekonomi terus menekan daya beli. Karena itu, perlambatan Kroger tidak semata-mata menunjukkan masalah pada satu perusahaan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai bagaimana perubahan perilaku konsumen dapat memengaruhi industri grocery yang selama ini relatif defensif.

Pada kuartal kedua, penjualan toko yang sama Kroger hanya meningkat 0,2%, jauh di bawah ekspektasi analis sebesar 0,8%. Pendapatan keseluruhan masih naik sekitar 2% menjadi US$34,62 miliar, tetapi sedikit di bawah perkiraan analis sebesar US$34,64 miliar. Meski demikian, kinerja laba memberikan sisi yang berbeda. Laba bersih meningkat menjadi US$641 juta atau US$1,05 per saham, dibandingkan US$609 juta pada periode yang sama sebelumnya, sementara laba yang telah disesuaikan mencapai US$1,09 per saham dan sedikit melampaui ekspektasi analis. Reuters mencatat bahwa Kroger tetap mempertahankan proyeksi laba tahunannya meskipun memangkas target penjualan. Perbedaan antara penjualan yang melemah dan laba yang masih bertahan memperlihatkan bahwa perusahaan sedang berusaha mengimbangi tekanan pendapatan melalui pengendalian biaya, efisiensi operasional, serta pertumbuhan bisnis dengan margin yang lebih tinggi.

Salah satu gangguan yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan datang dari wabah Cyclospora yang memengaruhi konsumsi produk segar. Kekhawatiran terhadap kontaminasi membuat sebagian konsumen mengurangi pembelian produk tertentu, terutama sayuran dan bahan makanan yang diasosiasikan dengan wabah tersebut. Menurut Associated Press, wabah tersebut menjadi salah satu wabah Cyclospora terbesar yang pernah tercatat di Amerika Serikat, dengan hampir 13.000 kasus terkonfirmasi di 21 negara bagian dan ratusan pasien harus dirawat di rumah sakit. Pemerintah AS kemudian menyatakan wabah tersebut telah berakhir, meskipun investigasi mengenai sumber kontaminasi masih berlangsung. Bagi Kroger, dampaknya cukup nyata: perusahaan memperkirakan wabah tersebut mengurangi pertumbuhan penjualan toko yang sama sekitar 0,35 poin persentase pada kuartal tersebut.

Tekanan pada produk segar juga menunjukkan betapa sensitifnya bisnis supermarket terhadap perubahan persepsi konsumen. Bahkan ketika masalah keamanan pangan hanya terkait kategori tertentu, konsumen dapat menjadi lebih berhati-hati terhadap kategori yang lebih luas. The Guardian melaporkan bahwa harga selada di Amerika Serikat turun tajam selama Juli dan Agustus setelah wabah tersebut menekan permintaan terhadap sayuran berdaun hijau. Situasi ini menciptakan efek berantai bagi produsen, distributor dan pengecer. Bagi Kroger, persoalannya bukan hanya kehilangan penjualan satu jenis produk, tetapi bagaimana mempertahankan kepercayaan pelanggan untuk tetap berbelanja di seluruh toko. Dalam bisnis supermarket, kepercayaan menjadi aset yang sangat penting karena pelanggan melakukan transaksi berulang dan sering kali membeli berbagai kategori barang dalam satu kunjungan.

Pada saat yang sama, Kroger menghadapi tekanan dari perubahan struktur bisnis lainnya. Pendapatan apotek mengalami tekanan akibat perubahan kebijakan harga obat melalui Inflation Reduction Act, sementara penurunan harga telur juga memengaruhi pertumbuhan penjualan. Namun, perusahaan masih memiliki beberapa sumber pertumbuhan yang relatif lebih kuat. Reuters mencatat bahwa e-commerce dan bisnis retail media menjadi salah satu area yang membantu mempertahankan profitabilitas. Perkembangan ini menunjukkan bahwa supermarket modern semakin jauh dari sekadar bisnis menjual bahan makanan melalui toko fisik. Data pelanggan, penjualan digital, iklan di dalam ekosistem ritel, layanan pengiriman dan program loyalitas semakin menjadi bagian dari model bisnis yang dapat menghasilkan pendapatan tambahan sekaligus memperkuat hubungan dengan konsumen.

Strategi Kroger berikutnya akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan menjaga persepsi harga tanpa mengorbankan profitabilitas. Konsumen yang semakin sensitif terhadap harga dapat dengan mudah berpindah ke Walmart, Aldi, Costco atau jaringan supermarket lain apabila mereka menemukan nilai yang lebih baik. Karena itu, Kroger harus mencari keseimbangan antara harga yang kompetitif, kualitas produk, private label dan pengalaman belanja. Perusahaan telah menjalankan berbagai inisiatif pengendalian biaya dan berupaya menurunkan harga, tetapi inflasi tetap membuat penghematan tersebut terasa terbatas bagi konsumen. Barron’s mencatat bahwa Kroger tetap mempertahankan proyeksi laba US$5,10 hingga US$5,30 per saham untuk tahun fiskal ini, sekaligus menaikkan dividennya sebesar 11% dan membeli kembali sekitar US$1 miliar saham pada kuartal tersebut.

Yang membuat perkembangan Kroger menarik adalah perbedaan antara lalu lintas pelanggan dan nilai setiap transaksi. Pelanggan masih datang ke supermarket, tetapi keranjang belanja mereka semakin kecil. Jika pola tersebut berlanjut, perusahaan ritel harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan pendapatan tanpa sekadar menaikkan harga. Di sinilah kemampuan Kroger mengelola private label, promosi, digitalisasi, retail media dan efisiensi operasional akan menjadi semakin penting. Penurunan proyeksi penjualan dari 1%-2% menjadi 0,2%-0,8% memang memperlihatkan perlambatan yang nyata, tetapi perusahaan masih mempertahankan proyeksi laba. Bagi industri grocery, pesan yang lebih luas adalah bahwa konsumen belum berhenti berbelanja—mereka hanya semakin selektif tentang apa yang masuk ke keranjang. Dan bagi Kroger, perubahan kecil dalam kebiasaan tersebut dapat menentukan seberapa jauh pertumbuhan perusahaan dapat bertahan di tengah tekanan biaya hidup yang belum sepenuhnya mereda.