Oracle

Oracle Mengandalkan Cloud di Tengah Transformasi AI

(Business Lounge – Global News) Oracle kembali menunjukkan bahwa bisnis cloud infrastructure kini menjadi mesin pertumbuhan yang semakin penting bagi perusahaan teknologi tersebut. Dalam kuartal pertama tahun fiskal 2027 yang berakhir 31 Agustus, Oracle membukukan pendapatan US$19,34 miliar, meningkat sekitar 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan sedikit melampaui ekspektasi pasar sebesar US$19,14 miliar. Laba bersih juga melonjak 60% menjadi US$4,76 miliar atau US$1,56 per saham. Namun, angka yang paling menarik berada di balik pertumbuhan tersebut: pendapatan cloud Oracle meningkat 62% menjadi US$11,61 miliar, sementara cloud infrastructure melonjak 121%. Pertumbuhan tersebut membantu mengimbangi penurunan 3% pada pendapatan unit software tradisional. The Wall Street Journal menggambarkan hasil ini sebagai bukti bahwa ekspansi Oracle di cloud, khususnya infrastruktur yang mendukung kecerdasan buatan, semakin mampu menutup tekanan dari bisnis software lama.

Perubahan komposisi bisnis tersebut memperlihatkan transformasi yang sedang berlangsung di Oracle. Selama puluhan tahun, perusahaan dikenal terutama sebagai penyedia database dan software perusahaan yang dipasang langsung di infrastruktur pelanggan. Model tersebut menghasilkan pendapatan yang relatif stabil, tetapi pertumbuhannya kini menghadapi tekanan karena semakin banyak perusahaan memindahkan sistem mereka ke cloud. Ironisnya, perpindahan tersebut justru membuka peluang baru bagi Oracle. Alih-alih hanya menjual software, Oracle kini menyediakan kapasitas komputasi, penyimpanan data, dan infrastruktur yang dibutuhkan perusahaan untuk menjalankan aplikasi serta model AI. Reuters melaporkan bahwa ledakan permintaan AI menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perusahaan memperluas pusat data dan memperoleh kontrak cloud baru dari perusahaan-perusahaan besar.

Angka cloud infrastructure menunjukkan seberapa cepat perubahan tersebut berlangsung. Pendapatan bisnis ini mencapai sekitar US$7,4 miliar pada kuartal tersebut, naik 121% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu jauh lebih cepat daripada bisnis software tradisional dan menunjukkan bahwa kebutuhan komputasi AI telah mengubah peta persaingan cloud. Oracle tidak hanya bersaing untuk mendapatkan pelanggan database, tetapi juga berusaha menjadi penyedia infrastruktur bagi perusahaan yang membutuhkan kapasitas komputasi dalam jumlah besar. Kontrak AI menjadi salah satu sumber permintaan tersebut. Menurut The Wall Street Journal, Oracle memperoleh lebih dari US$30 miliar kontrak cloud AI baru selama kuartal pertama, sementara total remaining performance obligations atau kewajiban kontraktual yang belum diakui sebagai pendapatan meningkat menjadi US$664 miliar. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai besarnya bisnis yang sudah dikontrakkan untuk masa depan, meskipun realisasinya tetap bergantung pada kemampuan Oracle membangun kapasitas yang diperlukan.

Di sinilah strategi Oracle memasuki fase yang lebih mahal. Untuk memenuhi permintaan AI, perusahaan harus membangun pusat data, membeli perangkat keras, menyediakan energi dan memperluas jaringan. Capital expenditure Oracle mencapai US$28,5 miliar pada kuartal pertama, jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Perusahaan memperkirakan belanja modal sepanjang tahun fiskal 2027 berada di kisaran US$90 miliar hingga US$95 miliar. Reuters mencatat bahwa besarnya investasi tersebut tetap menjadi perhatian karena ekspansi infrastruktur AI membutuhkan dana dalam jumlah sangat besar sebelum seluruh pendapatan dari kontrak baru benar-benar masuk ke laporan keuangan. Pada kuartal tersebut, Oracle masih mencatat free cash flow negatif sekitar US$5,4 miliar, meskipun angka tersebut lebih baik daripada perkiraan analis.

Situasi ini menciptakan paradoks baru bagi Oracle. Di satu sisi, pertumbuhan pendapatan memperlihatkan bahwa permintaan terhadap layanan cloud dan AI sangat kuat. Di sisi lain, perusahaan harus mengeluarkan modal besar untuk membangun kapasitas sebelum dapat sepenuhnya menikmati pendapatan dari kontrak tersebut. Oracle bahkan menggunakan pembiayaan eksternal untuk mendukung ekspansi infrastrukturnya. Reuters melaporkan bahwa perusahaan menghadapi perhatian investor terkait kebutuhan pendanaan, utang, belanja modal, dan arus kas ketika investasi AI terus meningkat. Dengan demikian, keberhasilan Oracle tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mendapatkan kontrak, tetapi juga kemampuan mengubah kontrak tersebut menjadi pendapatan dan arus kas dengan tingkat efisiensi yang memadai.

Menariknya, Oracle tidak meninggalkan bisnis software meskipun kontribusinya terhadap pertumbuhan kini semakin kecil. Pendapatan software justru turun 3% pada kuartal tersebut karena pelanggan secara bertahap beralih dari sistem on-premise menuju layanan cloud. Namun, pergeseran tersebut tidak selalu berarti hilangnya pelanggan bagi Oracle. Perusahaan berusaha mempertahankan hubungan dengan pelanggan melalui model cloud yang memungkinkan database dan aplikasi Oracle tetap digunakan tanpa pelanggan harus mengoperasikan seluruh infrastrukturnya sendiri. Dengan pendekatan ini, transformasi cloud dapat menjadi migrasi model bisnis, bukan sekadar kehilangan bisnis lama. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan cloud cukup cepat untuk menggantikan pendapatan software tradisional yang mulai menurun.

Oracle juga menaikkan ekspektasi untuk tahun fiskal berjalan. Perusahaan mempertahankan target pendapatan tahunan setidaknya US$90 miliar dan menaikkan target laba per saham yang disesuaikan menjadi sedikitnya US$8,10. Untuk kuartal kedua, Oracle memperkirakan pertumbuhan pendapatan sekitar 30% hingga 34%. MarketScreener, yang mengutip laporan Dow Jones, mencatat bahwa kinerja kuartal pertama tersebut menunjukkan akselerasi yang cukup tajam pada cloud infrastructure, dengan pendapatan infrastruktur lebih dari dua kali lipat.

Perkembangan Oracle memperlihatkan bahwa perlombaan AI pada akhirnya bukan hanya mengenai siapa yang memiliki model AI paling populer, tetapi juga siapa yang mampu menyediakan infrastruktur untuk menjalankan model tersebut dalam skala besar. Oracle sedang mencoba mengambil posisi di lapisan infrastruktur tersebut. Pertumbuhan 121% pada cloud infrastructure menunjukkan adanya permintaan yang sangat kuat, sementara lonjakan kontrak AI memberikan visibilitas terhadap potensi pendapatan di masa mendatang. Tetapi investasi US$90 miliar hingga US$95 miliar dalam satu tahun juga menunjukkan besarnya taruhan yang sedang dibuat perusahaan. Oracle kini berada dalam fase ketika pertumbuhan pendapatan, belanja modal, utang, dan arus kas harus bergerak secara seimbang. Jika investasi infrastruktur berhasil dikonversikan menjadi pendapatan cloud secara konsisten, struktur bisnis Oracle dapat berubah secara signifikan dari perusahaan software tradisional menjadi salah satu pemain penting dalam infrastruktur ekonomi AI. Jika tidak, besarnya biaya ekspansi akan menjadi persoalan yang harus terus diperhatikan investor.