(Business Lounge-Global News) Adobe memasuki fase baru dalam perjalanan bisnisnya ketika jumlah pengguna aktif bulanan di seluruh platform perusahaan menembus satu miliar orang. Pencapaian tersebut datang bersamaan dengan kinerja keuangan kuartal ketiga tahun fiskal 2026 yang cukup kuat dan keputusan perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan serta laba untuk setahun penuh. Pendapatan Adobe mencapai US$6,76 miliar, meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan laba bersih naik menjadi US$1,83 miliar atau US$4,62 per saham. Laba yang disesuaikan mencapai US$6,13 per saham, sedikit di atas ekspektasi analis. The Wall Street Journal mencatat bahwa pertumbuhan tersebut memperlihatkan bagaimana Adobe masih mampu memperluas bisnis berlangganannya ketika industri perangkat lunak kreatif sedang mengalami perubahan besar akibat kecerdasan buatan. Namun, di balik angka satu miliar pengguna tersebut terdapat strategi yang lebih luas: Adobe sedang berusaha memperbesar basis pengguna melalui produk AI gratis atau freemium, kemudian mengubah sebagian pengguna tersebut menjadi pelanggan berbayar.
Angka satu miliar pengguna menjadi semakin menarik karena pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari pelanggan profesional yang selama ini menjadi basis utama Adobe. Lebih dari 100 juta pengguna kini menggunakan produk kreatif Adobe dalam versi freemium, meningkat lebih dari 70% dibandingkan setahun sebelumnya. Strategi tersebut memberikan Adobe cara baru untuk menghadapi perubahan perilaku konsumen. Produk seperti Photoshop, Acrobat, Premiere, dan berbagai aplikasi kreatif lainnya sebelumnya sangat identik dengan pelanggan yang bersedia membayar langganan untuk mendapatkan seluruh fitur. Kini, Adobe membuka sebagian kemampuan produknya kepada kelompok pengguna yang jauh lebih luas, termasuk mereka yang menggunakan perangkat lunak hanya sesekali. Quartz melaporkan bahwa model freemium tersebut dipandang sebagai saluran untuk membangun basis pengguna masa depan sekaligus memperkenalkan kemampuan AI kepada lebih banyak orang.
Perubahan itu penting karena kecerdasan buatan telah mengubah persaingan dalam perangkat lunak kreatif. Berbagai layanan berbasis AI memungkinkan pengguna menghasilkan gambar, video, desain, atau konten hanya dengan memberikan instruksi dalam bentuk teks. Adobe harus menghadapi perusahaan seperti Canva, Figma dan berbagai platform AI baru yang menawarkan proses pembuatan konten dengan hambatan yang lebih rendah. Karena itu, perusahaan tidak hanya menambahkan AI ke dalam produk lamanya, tetapi juga mencoba membangun pengalaman baru yang menjadikan AI bagian dari alur kerja pengguna. Reuters melaporkan bahwa pendapatan berulang tahunan dari produk yang dikategorikan sebagai AI-first tumbuh lebih dari dua kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan bahwa Adobe mulai mengubah investasi AI menjadi sumber pendapatan yang dapat diukur, meskipun skalanya masih relatif kecil dibandingkan keseluruhan bisnis perusahaan.
Pertumbuhan AI-first annual recurring revenue tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk memahami strategi Adobe. Perusahaan tidak harus membuat produk AI yang sepenuhnya berdiri sendiri untuk menghasilkan uang dari teknologi tersebut. Sebaliknya, Adobe dapat memasukkan AI ke dalam produk yang sudah digunakan jutaan orang, sehingga pengguna mendapatkan kemampuan baru tanpa harus berpindah ke platform lain. Pendekatan ini memberikan keuntungan berupa basis pelanggan yang sudah besar, data penggunaan yang luas, serta hubungan jangka panjang dengan perusahaan dan profesional kreatif. The Futurum Group mencatat bahwa AI-first ARR Adobe telah melampaui US$650 juta dan tumbuh lebih dari 150% secara tahunan. Bagi Adobe, tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tersebut tidak berhenti sebagai peningkatan penggunaan fitur, tetapi berkembang menjadi pendapatan berulang yang mampu meningkatkan pertumbuhan keseluruhan perusahaan.
Di sisi keuangan, kuartal ketiga menunjukkan bahwa bisnis utama Adobe masih menghasilkan arus pendapatan yang kuat. Pendapatan berbasis subscription meningkat sekitar 14%, sementara pendapatan dari kelompok konsumen dan profesional bisnis tumbuh 16%. Pendapatan subscription untuk Creative dan Marketing Professionals juga meningkat 13%. Constellation Research mencatat bahwa Adobe menghasilkan arus kas operasi sekitar US$2,52 miliar pada kuartal tersebut dan total annual recurring revenue perusahaan pada akhir kuartal mencapai sekitar US$27,5 miliar. Data ini memperlihatkan bahwa meskipun perhatian publik banyak tertuju pada AI, mesin pendapatan Adobe masih berasal dari model subscription yang telah dibangun selama bertahun-tahun. AI sekarang berfungsi sebagai lapisan baru di atas ekosistem tersebut, dengan harapan dapat meningkatkan nilai produk sekaligus memperluas jumlah pengguna.
Adobe kemudian menaikkan proyeksi kinerja setahun penuh. Perusahaan kini memperkirakan pendapatan fiskal 2026 berada di kisaran US$26,576 miliar hingga US$26,626 miliar, naik dari proyeksi sebelumnya US$26,5 miliar hingga US$26,6 miliar. Target laba per saham yang disesuaikan juga dinaikkan menjadi US$24,45 hingga US$24,50, dibandingkan proyeksi sebelumnya US$24,35 hingga US$24,45. Untuk kuartal keempat, Adobe memperkirakan pendapatan US$6,8 miliar hingga US$6,85 miliar. The Wall Street Journal melaporkan bahwa meskipun perusahaan meningkatkan panduan tahunan, saham Adobe justru mengalami tekanan setelah laporan tersebut karena proyeksi kuartal berikutnya dianggap belum memberikan akselerasi yang cukup kuat bagi sebagian investor.
Tekanan pasar tersebut juga berkaitan dengan perubahan kepemimpinan yang sedang berlangsung. Anil Chakravarthy akan menggantikan Shantanu Narayen sebagai CEO Adobe pada 1 Desember. Narayen telah memimpin perusahaan selama 18 tahun dan menjadi tokoh penting dalam transformasi Adobe dari perusahaan yang menjual perangkat lunak dengan model lisensi menuju bisnis subscriptio
