AS Soroti Peran Indonesia dalam Agenda Infrastruktur Indo-Pasifik

(Business Lounge Journal – News & Insight)

Indonesia turut menjadi bagian dari pembahasan mengenai pengembangan infrastruktur dan investasi di kawasan Indo-Pasifik dalam virtual press briefing yang digelar U.S. Department of State Asia-Pacific Media Hub, menyusul Luzon Economic Corridor Investment Forum di Manila, Filipina.

Dalam briefing tersebut, Ambassador Heather Variava, Senior Advisor pada Bureau of Economic, Energy, and Business Affairs, U.S. Department of State, bersama Thomas R. Hardy dari U.S. Trade and Development Agency (USTDA) dan Dan Petrie dari Millennium Challenge Corporation (MCC), menjelaskan berbagai agenda Amerika Serikat dalam mendorong investasi infrastruktur di kawasan.

Indonesia disebut secara langsung dalam pembahasan mengenai program MCC, kerja sama USTDA, serta peluang di sektor energi, infrastruktur digital, dan critical minerals.

Indonesia dalam Portofolio Infrastruktur MCC

Dan Petrie mengatakan bahwa MCC memiliki kehadiran yang terus berkembang di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia menjadi salah satu negara yang disebut dalam portofolio tersebut, bersama sejumlah negara lain seperti Kiribati, Nepal, Solomon Islands, Tonga, dan Fiji.

Menurut Petrie, MCC saat ini memiliki program compact yang berjalan di Indonesia dengan fokus pada infrastruktur serta membantu pembiayaan infrastruktur di negara tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika Petrie menjelaskan pendekatan MCC dalam mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, lembaga tersebut tidak hanya berfokus pada transaksi atau proyek individual, tetapi juga berupaya mengatasi berbagai kendala sistemik yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan investasi.

Dalam konteks Filipina, pendekatan tersebut diwujudkan melalui Energy Threshold Program senilai US$60 juta yang ditujukan untuk mengatasi persoalan tata kelola dan regulasi di sektor energi. Sementara di Indonesia, Petrie menyebut terdapat pekerjaan yang sebanding dalam upaya menciptakan fondasi bagi investasi infrastruktur.

USTDA Soroti Energi, Digital Infrastructure dan Critical Minerals

Indonesia juga disebut oleh Thomas Hardy sebagai salah satu negara yang memiliki sejarah panjang kerja sama dengan USTDA.

Hardy mengatakan USTDA telah lama bekerja di Indonesia dalam sejumlah bidang, khususnya energi, infrastruktur digital, dan critical minerals. Ia menilai keterlibatan pemerintah saja tidak cukup untuk mendorong investasi, karena keberadaan sektor swasta yang aktif juga menjadi faktor penting dalam menarik perusahaan Amerika untuk meningkatkan aktivitasnya di negara-negara Indo-Pasifik.

Pernyataan tersebut muncul dalam pembahasan yang lebih luas mengenai strategi AS untuk memperkuat konektivitas dan investasi di Asia Tenggara.

Di Filipina, USTDA saat ini mendukung berbagai proyek yang berkaitan dengan transportasi, energi dan infrastruktur digital. Sementara secara regional, Hardy menyoroti pentingnya pengembangan konektivitas digital, termasuk jaringan kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan berbagai negara di kawasan.

Bagi Indonesia, penyebutan energi, digital infrastructure, dan critical minerals menjadi relevan karena ketiganya merupakan bagian dari sektor yang mendapat perhatian dalam agenda kerja sama ekonomi AS di Indo-Pasifik.

Pemerintah dan Swasta Menjadi Dua Sisi Investasi

Pembahasan mengenai Indonesia juga memperlihatkan bagaimana pemerintah dan sektor swasta ditempatkan dalam strategi investasi AS di kawasan.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan penerapan model seperti Luzon Economic Corridor di negara-negara ASEAN, Ambassador Variava mengatakan bahwa keberhasilan inisiatif semacam itu sangat bergantung pada keterlibatan tiga pihak: pemerintah negara terkait, pemerintah Amerika Serikat, dan sektor swasta. Ia juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan investasi yang memberikan kepastian dan konsistensi bagi perusahaan.

Pandangan tersebut sejalan dengan penjelasan Petrie mengenai peran MCC. Menurutnya, dari perspektif sektor swasta, salah satu persoalan utama yang sering muncul adalah apakah lingkungan operasional dan regulasi di suatu negara mendukung investasi. Karena itu, selain mendukung proyek tertentu, MCC berupaya membantu menciptakan kondisi yang memungkinkan investasi swasta berkembang lebih jauh.

Dalam briefing tersebut, Indonesia ditempatkan dalam konteks yang lebih luas dari keterlibatan ekonomi AS di Indo-Pasifik. Bukan hanya melalui proyek individual, tetapi juga melalui penguatan infrastruktur, energi, konektivitas digital, dan sektor strategis seperti critical minerals.

Sementara Luzon Economic Corridor menjadi salah satu contoh konkret pendekatan tersebut di Filipina, penyebutan Indonesia menunjukkan bahwa agenda serupa memiliki cakupan yang lebih luas di kawasan. Bagi Amerika Serikat, keterlibatan pemerintah dan sektor swasta menjadi bagian penting dalam membuka peluang investasi dan memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara Indo-Pasifik.