(Business Lounge Journal – Tech)
Google semakin agresif membangun fondasi perangkat keras untuk menghadapi pertumbuhan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat itu berencana mempercepat pengembangan dan peluncuran chip generasi baru, sekaligus memperluas kapasitas riset dan pengembangan (R&D) di Taiwan.
Langkah tersebut menegaskan bahwa persaingan AI kini tidak hanya ditentukan oleh kemampuan model dan perangkat lunak. Ketersediaan serta kemampuan mengembangkan chip, sistem pendingin, jaringan, hingga komponen pendukung menjadi bagian penting dalam memenangkan perlombaan komputasi AI.
Amin Vahdat, Chief Technologist untuk AI dan Infrastruktur Google sekaligus Senior Vice President, mengatakan Taiwan memiliki posisi strategis dalam rantai pengembangan infrastruktur AI Google. Pernyataan itu disampaikan dalam ajang SEMICON Taiwan 2026 di Taipei.
Google akan memperbesar ruang kantor di pusat R&D infrastruktur AI di Shilin, Taipei, sebesar 60%. Ekspansi tersebut dilakukan ketika kebutuhan terhadap teknologi komputasi AI terus meningkat.
Menurut Google, Taiwan kini merupakan basis rekayasa perangkat keras terbesar perusahaan di luar Amerika Serikat. Ekosistem teknologi di negara tersebut memungkinkan Google bekerja secara langsung dengan berbagai perusahaan lokal dalam mengembangkan komponen dan sistem untuk kebutuhan AI.
Kolaborasi itu tidak terbatas pada pembuatan chip. Google juga mengandalkan mitra Taiwan untuk teknologi seperti advanced 3D packaging, motherboard server, sistem kelistrikan berdaya tinggi, serta liquid cooling.
Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan karakter infrastruktur AI. Ketika model AI menjadi semakin besar dan membutuhkan daya komputasi yang lebih tinggi, tantangannya bukan hanya bagaimana membuat prosesor lebih cepat, tetapi juga bagaimana seluruh sistem dapat bekerja secara efisien.
Google sendiri telah membangun kemampuan perangkat kerasnya melalui Tensor Processing Unit (TPU), chip khusus yang dirancang untuk menjalankan beban kerja AI. Perusahaan sebelumnya juga membuka pusat rekayasa perangkat keras AI di Taipei yang menjadi salah satu fasilitas penting di luar AS.
Ekspansi terbaru di Taiwan memperlihatkan bahwa Google ingin memperpendek jarak antara desain, pengembangan, pengujian, dan produksi perangkat keras. Dengan bekerja lebih dekat dengan pemasok dan produsen lokal, perusahaan dapat mempercepat proses pengembangan sekaligus menyesuaikan rancangan chip dengan kebutuhan pusat data.
Strategi tersebut menjadi semakin penting karena industri AI tengah menghadapi permintaan komputasi yang sangat tinggi. Alphabet, induk Google, sebelumnya menyatakan permintaan terhadap layanan AI dan infrastrukturnya telah melampaui kapasitas pasokan yang tersedia.
Di sisi lain, Taiwan tetap menjadi salah satu pusat utama ekosistem semikonduktor dunia. Negara ini memiliki jaringan perusahaan yang mencakup manufaktur chip, packaging, sistem server, hingga berbagai komponen pendukung. Google menilai kombinasi keahlian teknis dan kepadatan talenta tersebut membuat Taiwan sulit digantikan dalam pengembangan infrastruktur AI.
Dengan memperluas fasilitas R&D sebesar 60%, Google bukan hanya menambah ruang kerja. Perusahaan tampaknya sedang mempersiapkan kapasitas teknis untuk menghadapi fase berikutnya dari perlombaan AI, ketika kecepatan inovasi perangkat keras akan menjadi salah satu faktor penentu posisi perusahaan di industri tersebut.

