AXA

AXA Membidik Pertumbuhan Baru Setelah Restrukturisasi

(Business Lounge – Global News) Setelah beberapa tahun melakukan penyederhanaan organisasi dan menata kembali portofolio bisnisnya, AXA kini memasuki fase baru dengan target pertumbuhan yang lebih tinggi. Perusahaan asuransi asal Prancis tersebut pada 15 September 2026 memperkenalkan strategi baru untuk periode 2027–2029 yang diberi nama “Growing Forward”. Strategi ini dirancang untuk memanfaatkan hasil reorganisasi yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir sekaligus mendorong AXA mendapatkan pangsa pasar baru. Perusahaan menargetkan pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) laba per saham dasar sebesar 7% hingga 9% sepanjang periode 2026–2029, sementara underlying return on equity ditargetkan berada pada kisaran 15% hingga 17% selama 2027–2029. The Wall Street Journal melaporkan bahwa target tersebut menunjukkan ambisi AXA untuk mempertahankan pertumbuhan laba setelah periode transformasi organisasi yang bertujuan membuat perusahaan lebih sederhana dan fokus.

Strategi baru tersebut datang setelah AXA menyelesaikan sejumlah perubahan besar dalam struktur bisnisnya. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan berupaya membuat organisasi lebih sederhana dan memusatkan perhatian pada bisnis asuransi intinya. AXA kini ingin menggunakan struktur tersebut untuk memperluas hubungan dengan pelanggan dan mengejar pertumbuhan organik, bukan sekadar mengandalkan akuisisi. Dalam pernyataan resminya, AXA mengatakan strategi “Growing Forward” akan diarahkan untuk meningkatkan pangsa pasar di berbagai wilayah dan lini bisnis dengan memanfaatkan posisi perusahaan di pasar asuransi. Reuters melaporkan bahwa perusahaan melihat bisnis yang terdiversifikasi sebagai sumber pertumbuhan ketika kondisi pasar untuk beberapa segmen asuransi mulai menjadi lebih menantang.

Untuk 2026, AXA memperkirakan pertumbuhan underlying earnings per share berada di ujung atas kisaran target sebelumnya, yaitu 6% hingga 8%. Perusahaan juga memperkirakan underlying return on equity berada di bagian atas kisaran 14% hingga 16%. AXA memperkirakan laba dasar sekitar €8,6 miliar pada 2026, naik dari €8,4 miliar pada 2025. Kinerja tersebut memberikan dasar bagi target baru yang lebih tinggi untuk periode berikutnya. The Wall Street Journal mencatat bahwa AXA juga menargetkan rasio pembayaran kepada pemegang saham sebesar 75% dari underlying earnings per share. Dengan demikian, strategi pertumbuhan baru tetap disertai kebijakan pengembalian modal yang cukup besar kepada pemegang saham.

Salah satu perubahan penting dalam strategi AXA adalah fokus yang lebih besar pada pertumbuhan pangsa pasar di segmen yang dianggap memiliki ruang ekspansi. Perusahaan menyebut retail property and casualty, usaha kecil dan menengah, pasar menengah, serta bisnis life and health sebagai area utama untuk pertumbuhan. Segmen-segmen tersebut menyumbang sekitar 83% pendapatan AXA pada 2025. Perusahaan ingin memperluas basis pelanggan sekaligus memperdalam hubungan dengan pelanggan yang sudah ada. Reuters melaporkan bahwa AXA melihat kombinasi diversifikasi bisnis dan disiplin dalam pengelolaan risiko sebagai dasar untuk meningkatkan pangsa pasar tanpa harus mengejar pertumbuhan secara agresif di setiap lini.

Pendekatan tersebut terlihat berbeda ketika dibandingkan dengan AXA XL, unit yang bergerak dalam asuransi komersial dan risiko khusus. AXA memperkirakan kondisi pasar di AXA XL akan tetap menghadapi tekanan dan karena itu perusahaan tidak menjadikan ekspansi volume sebagai tujuan utama di unit tersebut. Sebaliknya, perusahaan mengatakan akan mempertahankan disiplin dalam underwriting dan memilih risiko yang memberikan imbal hasil lebih baik. Menurut Reuters, AXA XL menyumbang sekitar 17% pendapatan grup pada 2025. Perbedaan pendekatan antara AXA XL dan bisnis lainnya menunjukkan bahwa strategi “Growing Forward” tidak semata-mata mengejar pertumbuhan pendapatan, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pertumbuhan dan tingkat keuntungan yang dihasilkan dari setiap bisnis.

Teknologi menjadi komponen penting lainnya dalam strategi baru tersebut. AXA ingin meningkatkan penggunaan kecerdasan buatan di sepanjang rantai nilai bisnis, mulai dari penentuan harga, underwriting, pengelolaan klaim hingga operasional. Perusahaan memperkirakan berbagai inisiatif berbasis AI dan peningkatan efisiensi dapat menghasilkan manfaat sebelum pajak berulang sekitar €500 juta hingga €700 juta per tahun pada 2029. Reuters melaporkan bahwa manfaat tersebut diharapkan berasal dari kombinasi efisiensi biaya dan peningkatan kualitas proses bisnis. Bagi perusahaan asuransi, penggunaan AI memiliki potensi untuk mengubah cara risiko dinilai dan bagaimana klaim diproses, sekaligus mempercepat layanan kepada pelanggan.

Target keuangan AXA juga mencakup pertumbuhan nilai buku per saham pada tingkat mid-teens CAGR, termasuk dividen kumulatif, sepanjang 2026 hingga 2029. Selain itu, perusahaan memperkirakan dapat menghasilkan sekitar €25 miliar arus kas organik yang disalurkan dari anak perusahaan kepada perusahaan induk selama periode 2027–2029. Angka tersebut lebih tinggi daripada sekitar €21 miliar yang ditargetkan untuk periode 2024–2026. AXA mengatakan kebijakan distribusi modal akan tetap mempertahankan target payout ratio sebesar 75%. The Wall Street Journal mencatat bahwa fokus pada distribusi kas tersebut juga menunjukkan bahwa AXA tidak menjadikan akuisisi sebagai prioritas utama dalam penggunaan modal selama periode strategi baru.

Kekuatan neraca menjadi salah satu fondasi yang memungkinkan AXA menetapkan target tersebut. Perusahaan mencatat rasio solvabilitas yang kuat dan memperkirakan perubahan aturan Solvency II pada 2027 dapat memberikan tambahan sekitar 17 poin persentase terhadap rasio solvabilitasnya. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk menjalankan strategi pertumbuhan sekaligus mempertahankan ketahanan modal. Namun, AXA tetap menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan risiko akibat teknologi, perubahan iklim, meningkatnya biaya kesehatan, hingga populasi yang menua. Dalam strategi barunya, perusahaan mengatakan pencegahan akan semakin menjadi bagian dari produk dan layanan asuransi sebagai respons terhadap perubahan karakter risiko tersebut.

Perjalanan AXA dari restrukturisasi menuju fase pertumbuhan menunjukkan bagaimana perusahaan asuransi besar mencoba mengubah efisiensi internal menjadi ekspansi pasar. Setelah menyederhanakan organisasi dan memusatkan kembali bisnis pada asuransi, AXA kini ingin menggunakan fondasi tersebut untuk memperluas basis pelanggan, meningkatkan penggunaan teknologi, dan mempertahankan profitabilitas. Reuters menggambarkan rencana 2027–2029 sebagai strategi yang menggabungkan peningkatan target laba dengan disiplin dalam menghadapi kondisi pasar yang lebih menantang. Bagi AXA, tantangan dalam tiga tahun mendatang bukan lagi sekadar melakukan reorganisasi, melainkan membuktikan bahwa struktur yang lebih sederhana, teknologi AI, dan pengelolaan modal yang disiplin dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba serta pangsa pasar yang lebih besar.