(Business Lounge Journal – Culture)
Smithsonian Institution melalui National Museum of Asian Art (NMAA) memperkuat kerja sama dengan Indonesian Heritage Agency melalui kegiatan diskusi dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan museum, konservasi, kurasi, serta digitalisasi koleksi budaya. Acara tersebut berlangsung pada Rabu malam, 24 Juni 2026, di @america, Pacific Place, Jakarta, dan menghadirkan perwakilan Smithsonian, Indonesian Heritage Agency, akademisi, mahasiswa, serta pemerhati budaya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen jangka panjang Smithsonian terhadap Asia Tenggara, bukan hanya sebagai wilayah kajian akademik, tetapi juga sebagai mitra budaya yang penting. Dalam sambutan pembuka, perwakilan Smithsonian menekankan bahwa kolaborasi dengan Indonesian Heritage Agency menunjukkan pentingnya kerja sama lintas negara yang dibangun atas dasar saling menghormati dan kepentingan bersama.
Acara ini juga menjadi bagian dari inisiatif Freedom 250, program satu tahun untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat. Melalui kegiatan tersebut, Smithsonian menempatkan pertukaran budaya sebagai salah satu pilar diplomasi, dengan keyakinan bahwa hubungan antarmasyarakat melalui seni, warisan budaya, dan sejarah bersama dapat membangun kepercayaan serta memperkuat kerja sama antarbangsa.
Diskusi menghadirkan empat perwakilan dari National Museum of Asian Art, yaitu Dr. Emma Natalya Stein, Jeffrey P. Cunard sebagai Curator of Southeast Asian Art; Hutomo Wicaksono sebagai Senior Producer and Operations Manager for Video and Interactive Multimedia; Erin Bryant sebagai Senior Project Manager for Exhibitions; serta Jennifer Bosworth sebagai Exhibitions Conservator. Keempatnya membagikan pengalaman mengenai proses di balik penyelenggaraan pameran museum, mulai dari riset kuratorial, manajemen proyek, konservasi benda koleksi, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Dr. Emma Stein menjelaskan bahwa NMAA merupakan bagian dari Smithsonian Institution, sebuah institusi besar yang menaungi 21 museum, lebih dari 20 perpustakaan, pusat pendidikan dan riset, serta lebih dari 200 museum afiliasi. NMAA sendiri memiliki sekitar 46.000 koleksi, dengan sekitar 95 persen koleksi telah tersedia secara daring. Menurutnya, akses digital menjadi penting agar masyarakat global, termasuk mereka yang tidak dapat berkunjung langsung ke Washington, D.C., tetap dapat mempelajari dan menggunakan koleksi museum sebagai sumber pengetahuan.
Dalam paparannya, Dr. Stein juga menyoroti perhatian NMAA terhadap seni Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Ia menyebut bahwa koleksi Asia Tenggara di museum tersebut berjumlah sekitar 900 objek, dengan sebagian besar berupa keramik. Meski demikian, NMAA memiliki sejumlah koleksi penting dari Indonesia, termasuk karya perunggu, yang terus diupayakan untuk ditampilkan dan dihubungkan dengan konteks sejarah serta budaya asalnya.
Para pembicara juga menekankan bahwa pameran museum merupakan hasil kerja lintas bidang. Erin Bryant menjelaskan bahwa perencanaan sebuah pameran dapat memakan waktu sekitar dua tahun untuk pameran berskala kecil, dan tiga hingga empat tahun untuk pameran besar yang melibatkan pinjaman koleksi dari berbagai institusi. Sementara itu, Hutomo Wicaksono menyoroti pentingnya teknologi digital dalam memperluas akses publik, termasuk melalui video, konten interaktif, dokumentasi proses kerja museum, serta digitalisasi koleksi.
Sementara itu, Executive Director Indonesian Heritage Agency, Ibu Asdianti Djojohadikusumo, menyambut baik kerja sama ini dan menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim Smithsonian di Jakarta. Ia menjelaskan bahwa Indonesian Heritage Agency mengelola 19 museum dengan karakter dan koleksi yang sangat beragam, mulai dari Museum Nasional Indonesia hingga museum-museum yang lebih baru. Menurutnya, pengelolaan museum bukan hanya soal menampilkan koleksi, tetapi juga melibatkan kerja besar di balik layar, termasuk riset, pendanaan, perizinan, konservasi, dan koordinasi lintas tim.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya museum sebagai ruang pendidikan, pertukaran pengetahuan, dan diplomasi budaya. Melalui kolaborasi antara Smithsonian dan Indonesian Heritage Agency, kedua institusi diharapkan dapat membuka peluang kerja sama lebih luas, termasuk pameran bersama, program riset, pengembangan kapasitas, serta eksplorasi warisan budaya Indonesia di berbagai situs sejarah.
National Museum of Asian Art memiliki akar sejarah yang panjang di Washington, D.C. Museum ini terdiri dari dua bangunan utama, yaitu Freer Gallery of Art dan Arthur M. Sackler Gallery. Freer Gallery dibuka untuk publik pada 1923 dan menjadi museum seni pertama di National Mall, sementara Sackler Gallery dibuka pada 1987 sebagai ruang yang memungkinkan pameran lebih dinamis, termasuk pameran khusus dan pinjaman koleksi internasional. Saat ini, keduanya berada di bawah identitas Smithsonian’s National Museum of Asian Art.
Smithsonian Institution sendiri berdiri pada 1846 melalui warisan ilmuwan Inggris, James Smithson, yang mewasiatkan hartanya kepada Amerika Serikat untuk mendirikan sebuah institusi bagi “peningkatan dan penyebaran pengetahuan.” Dari mandat tersebut, Smithsonian berkembang menjadi salah satu institusi pendidikan, riset, dan museum terbesar di dunia, dengan koleksi dan program yang mencakup sains, sejarah, seni, kebudayaan, serta pendidikan publik.

