(Businesslounge Journal-News & Insight) Buah yang telah menjadi bagian dari peradaban kuno selama ribuan tahun ini kini mengalami lonjakan popularitas dan penjualan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Salah satu makanan budidaya tertua dalam sejarah manusia kini kembali menjadi sorotan.
Kurma mengalami peningkatan popularitas yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir seiring semakin banyak konsumen meninggalkan camilan olahan dan beralih ke makanan yang lebih alami serta minim proses. Pada tahun lalu, penjualan kurma di Amerika Serikat melonjak 33 persen.
Sebagian dari lonjakan tersebut didorong oleh popularitas kurma di media sosial. Berbagai video viral menampilkan pengguna yang mencicipi kurma untuk pertama kali, membuat aneka resep pencuci mulut sehat berbahan kurma, hingga membagikan pengalaman berolahraga dengan mengonsumsi buah tersebut sebagai sumber energi.
Apa manfaat kesehatan kurma?
Menurut Healthline, kurma memiliki sejumlah manfaat kesehatan, termasuk membantu memperlancar pencernaan dan menurunkan risiko penyakit jantung, kanker, serta diabetes tipe 2 berkat kandungan antioksidannya. Kurma juga merupakan sumber zat besi alami yang kaya nutrisi sehingga dapat menjadi alternatif yang lebih sehat dibandingkan gula rafinasi.
Ahli gizi terdaftar Lisa Moskovitz mengatakan kepada Fox News bahwa meskipun kurma mungkin terlihat sebagai tren baru bagi sebagian konsumen, buah tersebut telah lama digunakan oleh para ahli gizi sebagai pemanis alami untuk smoothie dan berbagai makanan penutup rendah gula.
Pasar yang terus berkembang
Popularitas yang dipicu media sosial kini berubah menjadi peluang bisnis yang nyata. CEO Natural Delights, David Baxter, menyatakan bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap kurma merupakan perkembangan yang sangat menggembirakan, terutama setelah perusahaan melakukan investasi besar untuk meningkatkan kesadaran konsumen terhadap kategori produk tersebut di Amerika Serikat.
Menurut Baxter, kurma selama ini dianggap sebagai produk ceruk, namun meningkatnya minat terhadap makanan yang manis secara alami dan lebih baik bagi kesehatan telah menciptakan momentum pertumbuhan yang kuat.
Para petani dan produsen kurma juga mulai memanfaatkan tren tersebut. Tahun lalu, Wakil Presiden Penjualan Double Date Packing, Hope Barbee, mengungkapkan bahwa perusahaannya terus membeli lahan pertanian baru untuk memperluas produksi. Langkah itu dinilai masuk akal karena selama dua tahun berturut-turut seluruh hasil panen perusahaan selalu habis terjual.
Data pencarian daring di Amerika Serikat menunjukkan minat terhadap kurma tetap tinggi sepanjang tahun. Puncak pencarian biasanya terjadi pada akhir Februari, dengan lonjakan tambahan pada awal Maret dan pertengahan April.
Berakar dari peradaban kuno
Pertumbuhan industri kurma diperkirakan masih akan berlanjut. Fortune Business Insights memproyeksikan nilai industri ini mencapai 1,6 miliar dolar AS pada 2034.
Secara global, pasar kurma diprediksi tumbuh dari 34,5 miliar dolar AS pada 2026 menjadi 55,58 miliar dolar AS pada 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 6,1 persen.
Sejarah mencatat bahwa kurma telah dibudidayakan sejak zaman kuno. Para sejarawan menelusuri asal-usulnya ke wilayah Mesopotamia sekitar 6.000 hingga 8.000 tahun lalu. Hingga kini, buah tersebut tetap memiliki peran penting dalam budaya Timur Tengah, termasuk dalam tradisi umat Islam yang berbuka puasa Ramadan dengan kurma.
Tidak mengherankan jika lonjakan pencarian kurma di internet sering bertepatan dengan bulan Ramadan dan perayaan Idulfitri. Dominasi kawasan tersebut juga terlihat dari data pasar global, di mana wilayah Timur Tengah dan Afrika masih menguasai sekitar 85,3 persen pangsa pasar kurma dunia.

