(Business Lounge Journal – Medicine)
Ketika mendengar kata “jantung”, yang terbayang tentu organ vital di dalam dada yang berdetak tanpa henti sepanjang hidup. Namun tahukah Anda bahwa tubuh memiliki bagian lain yang sering disebut sebagai “jantung kedua”? Julukan ini diberikan kepada otot betis, karena perannya yang sangat penting dalam membantu mengalirkan darah kembali ke jantung.
Meski ukurannya jauh lebih kecil dibanding jantung, fungsi otot betis dalam sistem peredaran darah ternyata sangat besar. Bahkan, para ahli medis menganggap kesehatan otot betis sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga sirkulasi darah yang lancar.
Mengapa Otot Betis Disebut Jantung Kedua?
Setiap detik, jantung memompa darah ke seluruh tubuh, termasuk ke kaki yang berada paling jauh dari dada. Tantangannya muncul ketika darah harus kembali naik menuju jantung. Karena adanya gravitasi, proses ini tidak semudah yang dibayangkan.
Di sinilah otot betis berperan. Otot betis, terutama otot gastrocnemius dan soleus, bekerja seperti pompa alami yang membantu mendorong darah dari kaki kembali ke jantung.
Di dalam betis terdapat banyak pembuluh vena yang dilengkapi katup satu arah. Saat seseorang berjalan, berlari, atau bahkan sekadar berjinjit, otot betis akan berkontraksi dan menekan vena-vena tersebut. Tekanan ini mendorong darah bergerak ke atas. Ketika otot kembali relaks, katup vena menutup sehingga darah tidak mengalir kembali ke atas.
Mekanisme sederhana ini bekerja ribuan kali setiap hari dan sangat penting untuk menjaga kelancaran sirkulasi darah.
Bahaya Jika Terlalu Lama Duduk
Gaya hidup modern membuat banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam posisi duduk. Bekerja di depan komputer, menonton televisi, bermain gawai, hingga perjalanan jauh membuat otot betis jarang digunakan secara optimal.
Ketika otot betis tidak aktif, kemampuan memompa darah pun menurun. Akibatnya, darah dapat berkumpul di area kaki, yang dikenal sebagai venous pooling.
Gejala yang sering muncul antara lain:
- Kaki terasa berat dan pegal.
- Pergelangan kaki membengkak.
- Muncul rasa tidak nyaman setelah duduk lama.
- Kram pada kaki.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko varises, yaitu pelebaran vena yang tampak menonjol di permukaan kulit. Pada kasus yang lebih serius, kurangnya pergerakan dapat berkontribusi terhadap terbentuknya Deep Vein Thrombosis (DVT), yaitu gumpalan darah di vena dalam yang berpotensi berbahaya jika berpindah ke paru-paru.
Karena itu, para ahli kesehatan sering mengingatkan pentingnya bergerak secara berkala, terutama bagi pekerja kantoran dan mereka yang menjalani gaya hidup sedentari.
Cara Sederhana Menjaga “Jantung Kedua”
Kabar baiknya, menjaga kesehatan otot betis tidak memerlukan olahraga berat atau peralatan mahal. Aktivitas ringan yang dilakukan secara konsisten sudah cukup membantu mengaktifkan pompa alami ini.
1. Berjalan Kaki Lebih Sering
Berjalan merupakan latihan terbaik untuk mengaktifkan otot betis. Bahkan jalan santai selama 10–15 menit beberapa kali sehari dapat membantu meningkatkan aliran darah.
2. Melakukan Gerakan Jinjit
Latihan calf raise sangat mudah dilakukan. Berdirilah tegak, angkat tumit hingga bertumpu pada ujung kaki, tahan sesaat, lalu turunkan perlahan. Ulangi 15–20 kali.
3. Bangun dari Kursi Setiap Jam
Jika pekerjaan mengharuskan duduk lama, sempatkan berdiri dan berjalan selama 2–3 menit setiap satu jam.
4. Gunakan Tangga
Naik tangga memberikan kontraksi yang kuat pada otot betis sekaligus melatih daya tahan jantung dan paru-paru.
Jantung memang menjadi pusat sistem peredaran darah, tetapi otot betis adalah pendukung setia yang sering terlupakan. Tanpa bantuan “jantung kedua” ini, darah akan lebih sulit kembali ke jantung dan sirkulasi tubuh menjadi kurang optimal.
Aktivitas sederhana seperti berjalan, berjinjit, dan mengurangi waktu duduk terlalu lama dapat membantu menjaga fungsi otot betis tetap maksimal. Jadi, jika ingin menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, jangan hanya memperhatikan jantung di dada—rawat juga “jantung kedua” yang ada di kaki Anda.

