Kapal perang Amerika Serikat USS Essex tiba di Pearl Harbor untuk RIMPAC 2026. Sumber: Wikipedia Commons/United States Navy

RIMPAC 2026 Perkuat Interoperabilitas 30 Negara Mitra di Indo-Pasifik

(Businesslounge Journal-News) Latihan maritim multinasional Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026 resmi memasuki tahap penutupan pekan ini setelah mempertemukan 30 negara dalam latihan yang berlangsung di sekitar Hawaii. Dalam konferensi pers virtual, Komandan RIMPAC 2026 Vice Admiral Jeffrey T. Jablon menegaskan bahwa latihan tersebut berfokus pada peningkatan kesiapan, interoperabilitas, serta kerja sama antarnegara dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan dan kemanusiaan di kawasan Indo-Pasifik.

RIMPAC pertama kali diselenggarakan pada 1971 dan tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-30 dari latihan maritim internasional tersebut.

Melibatkan 30 Negara dan Puluhan Ribu Personel

Menurut Jablon, RIMPAC 2026 melibatkan 30 negara peserta, lebih dari 30.000 personel, 31 kapal permukaan, 5 kapal selam, serta lebih dari 190 pesawat.

Mengusung tema “Partners Integrated and Prepared”, latihan ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan negara-negara peserta dalam beroperasi bersama sebelum menghadapi situasi krisis.

Kapal perang Singapura RSS Steadfast ikut serta dalam RIMPAC 2026. Sumber: Wikipedia Commons/United States Navy

Selama pelaksanaan latihan, pasukan gabungan melaksanakan lebih dari 500 kegiatan latihan maritim, 2.400 sorti penerbangan, serta lebih dari 5.000 skenario latihan operasional yang mencakup domain maritim, udara, siber, dan amfibi.

Latihan Tempur dan Bantuan Kemanusiaan

Jablon menjelaskan berbagai latihan taktis, termasuk SINKEX, memperlihatkan kemampuan negara-negara peserta untuk mendeteksi, melacak, menargetkan, hingga menghancurkan sasaran secara terintegrasi.

Selain latihan tempur, RIMPAC juga menggelar latihan Humanitarian Assistance and Disaster Response (HADR) yang melibatkan unsur militer, lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan pengamat internasional. Latihan tersebut mencakup penanganan korban massal, triase medis, koordinasi logistik, serta distribusi bantuan darurat.

Latihan bersama antara Marinir Amerika Serikat, Naval Infantry Peru, dan Marinir Filipina. Sumber: Wikipedia Commons/United States Marines

Menurut Jablon, keberhasilan latihan HADR tahun ini mendorong penyelenggara untuk memperluas kegiatan serupa pada RIMPAC 2028.

Teknologi Baru Turut Diuji

RIMPAC 2026 juga menjadi ajang pengujian lebih dari 35 eksperimen teknologi baru.

Beberapa di antaranya meliputi penggunaan sistem tanpa awak, pencetakan suku cadang menggunakan printer 3D di kapal, pengiriman logistik dengan drone otonom, hingga keberhasilan kapal permukaan nirawak Typhoon memasuki well deck USS Essex secara otonom dalam simulasi pengisian logistik.

Jablon mengatakan eksperimen tersebut membantu memahami bagaimana teknologi baru dapat diterapkan dalam operasi maritim.

RIMPAC 2026 juga mencatat sejumlah pencapaian baru dalam struktur kepemimpinan latihan.

Republik Korea untuk pertama kalinya memimpin Combined Force Maritime Component, Peru memimpin Amphibious Task Force, Chile menjadi wakil komandan Combined Task Force, sementara Penjaga Pantai Filipina mengikuti RIMPAC untuk pertama kalinya dengan kapal patroli lepas pantai.

Jablon mengatakan peran tersebut menunjukkan meningkatnya kemampuan negara-negara mitra dalam memikul tanggung jawab operasional bersama.

Mengenai Taiwan dan China

Beberapa jurnalis juga menanyakan kaitan RIMPAC dengan skenario Taiwan maupun uji coba rudal yang dilakukan China.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Jablon menegaskan bahwa RIMPAC bukan ditujukan untuk mengirimkan sinyal kepada negara tertentu, melainkan untuk meningkatkan kesiapan negara-negara peserta.

Menurutnya, kawasan Indo-Pasifik terlalu luas untuk dijaga oleh satu negara saja sehingga diperlukan kemampuan berbagai negara untuk beroperasi bersama, merespons krisis, dan menjaga stabilitas kawasan.

Menjawab Pertanyaan tentang Filipina

Saat ditanya mengenai manfaat latihan bagi Filipina, Jablon menyoroti partisipasi perdana Philippine Coast Guard dalam RIMPAC.

Menurutnya, penjaga pantai Filipina memberikan kontribusi dalam bidang penegakan hukum maritim, pencarian dan penyelamatan, serta bantuan kemanusiaan.

Ia mengatakan keikutsertaan tersebut mencerminkan meningkatnya peran penjaga pantai dalam keamanan maritim kawasan sekaligus memperkuat kemitraan Amerika Serikat dan Filipina.

Interoperabilitas Menjadi Pesan Utama

Menjawab pertanyaan mengenai pentingnya kepemimpinan multinasional dalam latihan, Rear Admiral Taku Kobayashi mengatakan RIMPAC membantu berbagai negara mengidentifikasi perbedaan kemampuan, prosedur, maupun sistem sebelum menghadapi situasi nyata.

Menurutnya, hubungan personal dan komunikasi yang dibangun selama latihan menjadi fondasi penting bagi kerja sama jangka panjang.

Jablon menambahkan bahwa posisi kepemimpinan yang dipegang Korea Selatan, Jepang, Peru, dan Chile bukan sekadar simbolis, melainkan merupakan tanggung jawab operasional yang memperkuat interoperabilitas seluruh peserta.

Menutup konferensi pers, Jablon mengatakan hubungan, kepercayaan, dan interoperabilitas yang dibangun selama RIMPAC akan terus berlanjut setelah latihan berakhir.

Menurutnya, RIMPAC 2026 menunjukkan bagaimana negara-negara mitra dapat berlatih bersama di berbagai domain operasi serta memperkuat komitmen bersama terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka.