(Business Lounge Journal – Human Resources)
Transformasi digital telah mengubah hampir seluruh aspek bisnis, mulai dari cara perusahaan melayani pelanggan hingga bagaimana keputusan strategis dibuat. Kini, hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mempercepat perubahan tersebut. AI tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi mulai memengaruhi proses bisnis, analisis data, bahkan pengambilan keputusan.
Di tengah perubahan ini, peran Chief Information Officer (CIO) mengalami evolusi yang signifikan. Jika dahulu CIO dikenal sebagai pemimpin yang bertanggung jawab atas infrastruktur teknologi informasi, kini mereka dituntut menjadi mitra strategis CEO sekaligus memastikan bahwa pemanfaatan AI dilakukan secara bertanggung jawab.
Pandangan ini disampaikan oleh John Marcante, yang menilai bahwa kepemimpinan teknologi saat ini tidak lagi hanya berbicara tentang sistem dan perangkat lunak, tetapi juga tentang bagaimana teknologi menciptakan nilai bisnis sekaligus mengelola risiko yang menyertainya.
CIO Kini Tidak Lagi Mengelola Teknologi, tetapi Mengelola Bisnis
Selama bertahun-tahun, keberhasilan seorang CIO diukur dari stabilitas sistem perusahaan. Selama jaringan berjalan lancar, aplikasi tidak mengalami gangguan, dan pusat data tetap aman, fungsi CIO dianggap telah berjalan dengan baik.
Namun, dunia bisnis telah berubah. Hampir setiap strategi perusahaan kini bergantung pada teknologi digital. Pengalaman pelanggan, layanan keuangan, rantai pasok, pemasaran, hingga pengembangan produk semuanya memanfaatkan data dan teknologi sebagai fondasi utama. Dalam kondisi seperti ini, teknologi tidak lagi menjadi fungsi pendukung, melainkan bagian dari strategi bisnis itu sendiri.
John Marcante menilai bahwa CIO modern harus mampu berbicara dalam bahasa bisnis, bukan hanya bahasa teknologi. Mereka perlu memahami arah pertumbuhan perusahaan, perilaku pelanggan, dinamika industri, hingga risiko yang dihadapi organisasi. Dengan kata lain, CIO harus mampu menjelaskan bagaimana investasi teknologi akan meningkatkan pendapatan, memperkuat daya saing, atau menciptakan efisiensi operasional.
Perubahan ini juga mengubah hubungan CIO dengan jajaran direksi. Jika sebelumnya CIO lebih sering melaporkan progres proyek teknologi atau kondisi infrastruktur IT, kini mereka diharapkan mampu memberikan pandangan strategis mengenai bagaimana teknologi, khususnya AI, dapat membantu perusahaan mencapai tujuan bisnisnya.
Hal tersebut membuat posisi CIO semakin dekat dengan CEO dan anggota dewan direksi. Mereka tidak lagi hanya diminta memastikan sistem bekerja, tetapi juga berperan dalam menentukan arah transformasi perusahaan. Inilah yang menjadikan CIO sebagai salah satu pemimpin bisnis paling strategis di era digital.
Ketika AI Mulai Membuat Keputusan, Tata Kelola Menjadi Prioritas
Semakin banyak perusahaan mengadopsi AI untuk mempercepat pekerjaan, meningkatkan produktivitas, hingga menghasilkan rekomendasi bisnis. Namun, di balik manfaat tersebut muncul tantangan baru yang tidak kalah besar: siapa yang bertanggung jawab ketika AI menghasilkan keputusan yang keliru?
Inilah isu yang kini menjadi perhatian banyak organisasi. Pesan yang diangkat dalam WSJ CIO Journal sangat jelas: “Govern AI before it governs you.” Artinya, perusahaan perlu membangun tata kelola AI sebelum teknologi tersebut digunakan secara luas dalam proses bisnis.
Masalahnya bukan semata-mata apakah AI mampu bekerja dengan baik, melainkan bagaimana organisasi mengendalikan penggunaannya. AI dapat menghasilkan bias, memberikan rekomendasi yang tidak akurat, atau menggunakan data yang tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan. Tanpa tata kelola yang jelas, risiko tersebut dapat berdampak pada reputasi, kepatuhan terhadap regulasi, bahkan kepercayaan pelanggan.
Karena itu, AI governance tidak boleh dipahami hanya sebagai tanggung jawab departemen teknologi. Perusahaan perlu memiliki kerangka kerja yang mengatur bagaimana AI dipilih, dikembangkan, diuji, diimplementasikan, dan diawasi sepanjang siklus penggunaannya.
Di sinilah peran CIO berkembang lebih jauh. Mereka tidak hanya bertanggung jawab memastikan AI dapat digunakan, tetapi juga memastikan setiap implementasi AI memiliki tujuan bisnis yang jelas, risiko yang dapat dikelola, serta mekanisme akuntabilitas yang transparan. CIO juga perlu bekerja sama dengan fungsi lain seperti legal, manajemen risiko, keamanan informasi, hingga sumber daya manusia agar penggunaan AI tetap sejalan dengan nilai dan kebijakan perusahaan.
Dengan kata lain, keberhasilan implementasi AI tidak lagi ditentukan oleh kecanggihan model yang digunakan, melainkan oleh kemampuan organisasi mengelola teknologi tersebut secara bertanggung jawab.
Board of Directors Kini Harus Melek AI
Perubahan besar lain yang mulai terlihat adalah semakin pentingnya keterlibatan dewan direksi dalam isu AI. Jika dahulu pembahasan AI sering dianggap sebagai urusan departemen teknologi, kini AI telah menjadi isu tata kelola perusahaan (corporate governance). Dewan direksi tidak lagi cukup memahami laporan keuangan, strategi bisnis, dan risiko operasional. Mereka juga perlu memahami bagaimana AI digunakan di dalam organisasi serta implikasi yang mungkin ditimbulkannya.
Pertanyaan-pertanyaan yang kini perlu diajukan oleh board bukan lagi sekadar berapa besar anggaran untuk proyek AI, tetapi juga AI apa saja yang digunakan perusahaan, siapa yang bertanggung jawab apabila AI menghasilkan keputusan yang merugikan, bagaimana risiko dari penyedia AI pihak ketiga dikelola, serta bagaimana perusahaan mengukur manfaat nyata dari investasi AI tersebut.
Di sinilah peran CIO menjadi semakin strategis. CIO bukan hanya menjadi penghubung antara teknologi dan bisnis, tetapi juga menjadi penasihat utama bagi dewan direksi dalam memahami peluang sekaligus risiko AI. Mereka membantu board mengambil keputusan yang tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga mempertimbangkan aspek etika, kepatuhan, keamanan data, dan keberlanjutan bisnis.
Pada akhirnya, perusahaan tidak akan dinilai hanya dari seberapa cepat mereka mengadopsi AI, tetapi dari seberapa baik mereka mengelola teknologi tersebut. AI memang dapat mempercepat inovasi, namun tanpa tata kelola yang kuat, teknologi yang sama juga dapat menghadirkan risiko yang besar.
Evolusi peran CIO menunjukkan bahwa kepemimpinan teknologi kini telah memasuki babak baru. CIO bukan lagi sekadar penjaga sistem informasi, melainkan arsitek transformasi bisnis sekaligus penjaga tata kelola AI. Di era ketika AI semakin memengaruhi setiap keputusan perusahaan, kemampuan mengelola teknologi secara bertanggung jawab akan menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang paling menentukan.

