(Businesslounge Journal-Human Resources) Ketika AI mengancam menggantikan sebagian pekerjaan manusia, para eksekutif perlu tetap mengingat kebutuhan karyawan mereka yang sesungguhnya demi keberhasilan jangka panjang.
Anda mungkin membayangkan bahwa tugas seorang Chief Information Officer (CIO) atau Chief Technology Officer (CTO) berkutat pada komputer dan data, terutama saat perkembangan AI melaju sangat cepat. Anggapan itu memang tidak sepenuhnya salah. Namun, seperti banyak eksekutif tingkat atas lainnya, CIO dan CTO sebenarnya menghabiskan sebagian besar waktunya dalam rapat panjang, menelaah laporan keuangan, serta mengambil keputusan setelah diskusi yang rinci dan sering kali melelahkan.
Kini, sebuah perubahan menarik tampaknya sedang terjadi. Laporan terbaru menunjukkan bahwa para CIO mulai menyadari bahwa hadirnya AI yang revolusioner membuat peran mereka berubah. Mereka tidak lagi cukup hanya menjadi pemimpin teknologi, tetapi juga harus menjadi pemimpin bagi manusia.
Topik tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam MIT Sloan CIO Symposium baru-baru ini, sebagaimana dilaporkan HRDive. Dalam forum tersebut, para eksekutif teknologi berulang kali menyoroti tantangan baru yang muncul seiring berkembangnya AI.
Monica Caldas, Executive Vice President dan Global CIO perusahaan asuransi Liberty Mutual yang berbasis di Boston, menjelaskan bahwa AI berbeda dibandingkan transformasi teknologi sebelumnya. Menurutnya, AI tidak hanya mendorong modernisasi sistem dan infrastruktur teknologi, tetapi juga mengubah cara kerja perusahaan, keterampilan yang dibutuhkan, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Saat berbicara mengenai implementasi AI di perusahaannya, Caldas menegaskan bahwa proyek yang paling berhasil bukan hanya berfokus pada teknologinya. Keberhasilan juga ditentukan oleh perhatian terhadap budaya organisasi, peningkatan keterampilan karyawan, pengembangan sumber daya manusia, serta dukungan terhadap proses perubahan itu sendiri.
Secara terpisah, Irene Oh, CIO perusahaan distribusi rantai pasok Network Distribution yang berbasis di Illinois, mengangkat aspek manusia lain yang perlu diperhatikan, yakni rasa takut dan kecemasan karyawan terhadap AI.
Menurut Oh, jajaran pimpinan perusahaan harus mengakui bahwa kekhawatiran tersebut nyata. Karena itu, CIO dan CTO perlu melihat diri mereka bukan hanya sebagai pengelola teknologi, melainkan juga sebagai pemimpin yang memahami kebutuhan manusia. Ia mengingatkan bahwa sisi manusia dalam sebuah perubahan memiliki peran yang sangat penting.
Implementasi AI yang efektif, lanjutnya, membutuhkan kolaborasi antar-eksekutif agar kesiapan karyawan melalui pelatihan dan pendampingan berjalan seimbang dengan kesiapan infrastruktur teknologi. Dengan pendekatan tersebut, hasil terbaik akan lebih mudah dicapai.
Pandangan tersebut semakin relevan jika dikaitkan dengan riset terbaru dari perusahaan manajemen talenta Dayforce yang menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara pekerja lini depan dan manajemen tingkat atas.
Hasil penelitian itu menunjukkan hanya 42 persen pekerja yang merasa dipahami oleh pimpinan perusahaan. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan 62 persen pada 2024.
Masalah lainnya, hampir tiga dari empat pekerja lini depan mengaku masih harus mengandalkan solusi manual untuk mengatasi berbagai gangguan operasional sehari-hari. Kondisi ini menimbulkan inefisiensi dan biaya tersembunyi dalam aktivitas bisnis.
Kesalahan dan hambatan semacam itu pada akhirnya menurunkan produktivitas. Dalam banyak kasus, persoalan tersebut muncul karena lambannya pengambilan keputusan manajemen atau kurangnya perhatian terhadap masalah yang dihadapi pekerja yang menjalankan proses operasional perusahaan setiap hari.
Dalam laporan tersebut, Presiden sekaligus COO Dayforce, Steve Holdridge, menyatakan bahwa gangguan operasional bukanlah hal baru. Namun, cara perusahaan meminta karyawan untuk mengatasinya sudah tidak lagi berkelanjutan.
Menurutnya, perusahaan yang berhasil adalah mereka yang tidak terus-menerus membebani pekerja lini depan, melainkan membangun sistem dan operasional yang mampu beradaptasi secara cepat terhadap perubahan.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan bahwa CIO dan CTO perlu menyeimbangkan peran sebagai pemimpin teknologi dan pemimpin manusia. Namun demikian, hal tersebut juga menunjukkan bahwa penerapan AI kemungkinan tidak akan berjalan mulus dalam jangka pendek.
Berbagai laporan lain menunjukkan masih banyak perusahaan yang menerapkan AI sambil menuntut produktivitas lebih tinggi dari karyawan tanpa memberikan pelatihan yang memadai. Situasi ini dapat menjadi masalah serius.
Implementasi AI berisiko mengalami hambatan, bahkan dapat mendorong keluarnya karyawan berharga yang merasa terpinggirkan oleh teknologi baru yang masih menuai perdebatan tersebut.
Pelajaran bagi Perusahaan
Seluruh data dan pandangan para ahli tersebut mengarah pada satu pesan yang jelas: perusahaan yang mengadopsi AI tidak boleh melakukannya hanya dari sudut pandang teknologi.
Manajemen perlu menyadari bahwa AI masih menjadi isu yang sensitif bagi sebagian pekerja. Oleh karena itu, modernisasi teknologi harus berjalan beriringan dengan pembaruan keterampilan tenaga kerja, budaya perusahaan, dan kebijakan organisasi.
Tantangan terbesar adalah menjaga karyawan tetap termotivasi, terlibat, dan memperoleh pelatihan yang memadai saat perusahaan menerapkan AI. Apalagi banyak organisasi melakukan langkah tersebut demi mengejar peningkatan produktivitas sekaligus menghindari ketertinggalan dari pesaing.
Kuncinya sederhana: perusahaan harus ingat bahwa karyawan adalah manusia. Mereka membutuhkan pelatihan, dukungan, dan kesempatan untuk didengarkan selama proses transformasi berlangsung.

