(Business Lounge – Global News) Campbell’s sedang menghadapi salah satu titik balik paling penting dalam perjalanan bisnisnya. Produsen makanan yang dikenal melalui Campbell’s Soup, Goldfish, Pepperidge Farm, dan Rao’s tersebut memangkas sekitar 13% tenaga kerja bergaji tetap sebagai bagian dari program pemulihan bisnis. Langkah itu dilakukan setelah perusahaan mencatat kerugian pada kuartal terakhir tahun fiskal 2026, ketika kenaikan biaya dan melemahnya permintaan menekan penjualan sekaligus profitabilitas. The Wall Street Journal melaporkan bahwa lebih dari 550 posisi bergaji tetap dihapus, sementara perusahaan juga menutup fasilitas produksi dan menyiapkan program penghematan biaya yang jauh lebih agresif.
Angka keuangan Campbell’s memperlihatkan mengapa manajemen memilih langkah drastis. Penjualan kuartal keempat turun 8% menjadi sekitar US$2,1 miliar, sementara laba bersih berubah menjadi rugi US$69 juta dari laba US$145 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk keseluruhan tahun fiskal, penjualan turun 5% menjadi US$9,7 miliar dan adjusted EBIT merosot 21% menjadi sekitar US$1,2 miliar. Tekanan tersebut bukan hanya persoalan penjualan yang melemah, tetapi juga kombinasi inflasi biaya, biaya rantai pasok, tarif, dan perubahan perilaku konsumen yang membuat margin semakin sulit dipertahankan.
Masalah terbesar terlihat pada bisnis snacks. Penjualan segmen tersebut turun 12% pada kuartal terakhir, menunjukkan bahwa konsumen mulai lebih berhati-hati dalam membeli produk makanan ringan bermerek. Reuters melaporkan bahwa Campbell’s menghadapi tekanan dari konsumen yang semakin sensitif terhadap harga, terutama rumah tangga berpendapatan lebih rendah yang beralih ke produk dengan harga lebih murah. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi perusahaan consumer goods karena kenaikan harga yang biasanya digunakan untuk melindungi margin justru berisiko mempercepat perpindahan konsumen ke merek yang lebih murah atau produk private label milik peritel.
Campbell’s sebenarnya sudah menaikkan harga untuk menghadapi tekanan biaya. Sekitar 60% portofolionya terkena kenaikan harga rata-rata 4% hingga 5%. Tetapi strategi tersebut memiliki batas. Ketika harga dinaikkan terlalu jauh sementara volume penjualan melemah, keuntungan dari harga yang lebih tinggi dapat hilang karena jumlah produk yang terjual turun. Inilah dilema klasik industri makanan kemasan saat inflasi berlangsung lama. Perusahaan harus memilih antara mempertahankan margin melalui harga, menerima margin yang lebih rendah untuk menjaga volume, atau melakukan efisiensi besar-besaran agar struktur biaya kembali sesuai dengan kemampuan konsumen membayar.
Karena itu, pemangkasan tenaga kerja bukan sekadar tindakan penghematan jangka pendek. Campbell’s sedang mencoba mengubah struktur biaya perusahaan secara lebih mendasar. Perusahaan menargetkan penghematan biaya sebesar US$500 juta hingga tahun fiskal 2030. Program tersebut mencakup pengurangan tenaga kerja, penutupan pabrik, optimalisasi pengeluaran, serta perubahan cara perusahaan mengelola biaya langsung dan tidak langsung. Campbell’s sebelumnya telah mencapai sekitar US$225 juta penghematan dari program lama, sehingga target baru tersebut menunjukkan bahwa manajemen melihat efisiensi sebagai salah satu sumber utama untuk mengembalikan kesehatan keuangan perusahaan.
Namun, pengurangan biaya saja tidak akan menyelesaikan persoalan Campbell’s. Perusahaan harus menjawab pertanyaan yang lebih sulit, yaitu mengapa konsumen mulai kehilangan minat terhadap sejumlah produknya. Dalam bisnis makanan, merek yang kuat tidak otomatis menjamin pertumbuhan. Konsumen dapat tetap mengenal Campbell’s tetapi memilih produk lain ketika harga, rasa, kemasan, atau persepsi nilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan mereka. Barron’s mencatat bahwa investor semakin mempertanyakan kurangnya katalis pertumbuhan pada saham consumer staples, sementara industri secara keseluruhan menghadapi perubahan perilaku konsumen, tekanan inflasi, dan persaingan dari produk yang lebih murah.
Menariknya, Campbell’s tidak sepenuhnya meninggalkan bisnis makanan tradisionalnya. Perusahaan justru melihat peluang pada tren memasak di rumah. Strategi baru tersebut berfokus pada apa yang disebut sebagai semi-scratch cooking, yaitu makanan rumahan yang tetap praktis tetapi membutuhkan sedikit proses tambahan. Konsep tersebut memungkinkan Campbell’s memanfaatkan kekuatan produk seperti broth, condensed soup, pasta sauce, dan merek Rao’s. The Wall Street Journal mencatat bahwa perusahaan mulai mengembangkan kombinasi produk dan resep, termasuk paket makanan seperti spaghetti dan meatballs, untuk membuat konsumen menggunakan lebih banyak produk Campbell’s dalam satu kesempatan makan.
Strategi tersebut penting karena Campbell’s sebenarnya memiliki aset merek yang sangat kuat. Campbell’s, Goldfish, Pepperidge Farm, dan Rao’s memberikan perusahaan portofolio yang mencakup berbagai kebutuhan makanan. Persoalannya adalah bagaimana mengubah kekuatan merek tersebut menjadi pertumbuhan yang relevan dengan konsumen saat ini. Rao’s, misalnya, memberikan Campbell’s akses ke segmen yang lebih premium, sementara produk tradisional seperti sup dan broth dapat mengambil keuntungan dari meningkatnya minat terhadap makanan rumahan. Tantangannya adalah menyatukan portofolio yang luas tersebut menjadi strategi yang lebih fokus, bukan sekadar kumpulan merek dengan karakter yang berbeda-beda.
Tekanan Campbell’s juga tercermin dari keputusan yang cukup sensitif bagi investor, yaitu memangkas dividen kuartalannya sebesar 36% menjadi US$0,25 per saham. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perusahaan kini menempatkan pengurangan utang dan penguatan neraca di atas komitmen mempertahankan tingkat pembayaran dividen sebelumnya. Campbell’s memperkirakan perubahan tersebut akan mengurangi arus kas keluar tahunan sekitar US$170 juta yang dapat dialihkan untuk mengurangi utang. Bagi perusahaan consumer staples yang selama ini sering dianggap sebagai saham defensif dengan pendapatan relatif stabil, pemotongan dividen merupakan sinyal bahwa manajemen menghadapi tekanan keuangan yang tidak bisa lagi ditangani hanya melalui penyesuaian kecil.
Panduan bisnis untuk tahun fiskal 2027 juga menunjukkan bahwa pemulihan tidak akan berlangsung cepat. Campbell’s memperkirakan penjualan bersih turun 2% hingga 4%, sementara adjusted EBIT diperkirakan turun 7% hingga 12%. Adjusted EPS diproyeksikan berada di kisaran US$1,65 hingga US$1,80, turun 17% hingga 24%. Reuters melaporkan bahwa proyeksi tersebut berada di bawah ekspektasi analis, sehingga pasar merespons negatif setelah pengumuman. Saham Campbell’s sempat mengalami penurunan tajam, memperlihatkan bahwa investor tidak hanya menilai rencana restrukturisasi, tetapi juga mempertanyakan seberapa cepat strategi tersebut dapat menghasilkan pertumbuhan baru.
Kisah Campbell’s menunjukkan perubahan yang sedang terjadi di industri consumer goods Amerika. Perusahaan makanan besar tidak lagi dapat mengandalkan kombinasi merek terkenal, distribusi luas, dan kenaikan harga untuk mempertahankan pertumbuhan. Konsumen semakin memperhatikan harga, ukuran kemasan, nilai yang diterima, serta alasan untuk tetap membeli produk bermerek. Bahkan perusahaan dengan sejarah panjang harus terus berinovasi agar tetap relevan. Campbell’s kini mencoba melakukan dua hal sekaligus, yaitu memangkas biaya secara agresif dan menemukan kembali alasan konsumen memilih produknya.
Karena itu, keberhasilan restrukturisasi Campbell’s pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh berapa banyak pekerjaan yang berhasil dipangkas atau berapa besar biaya yang dapat dihemat. Ukuran yang lebih penting adalah apakah efisiensi tersebut dapat menciptakan ruang untuk berinvestasi kembali pada merek, inovasi produk, distribusi, dan pengalaman konsumen. Jika penghematan hanya memperbaiki laporan keuangan tanpa menghidupkan kembali permintaan, Campbell’s berisiko memasuki siklus pemotongan biaya berikutnya. Tetapi jika perusahaan berhasil menggunakan penghematan untuk memperkuat merek seperti Campbell’s, Rao’s, Goldfish, dan Pepperidge Farm, restrukturisasi ini dapat menjadi awal dari fase baru. Tantangan terbesar Campbell’s bukan sekadar menjadi perusahaan yang lebih kecil, melainkan menjadi perusahaan makanan yang lebih relevan bagi konsumen modern.

