(Business Lounge – Global News) Ledakan investasi kecerdasan buatan (AI) yang selama ini identik dengan angka investasi raksasa dan valuasi perusahaan yang melambung, kini menghadapi rintangan yang jauh lebih membumi yaitu penolakan warga di halaman belakang rumah mereka sendiri. Perusahaan-perusahaan teknologi besar yang tadinya bisa menggarap proyek data center secara senyap, sekarang dipaksa turun ke ruang pertemuan balai kota untuk meyakinkan penduduk lokal bahwa fasilitas raksasa penyedot listrik dan air itu layak dibangun di dekat rumah mereka.
Menurut laporan The Wall Street Journal, sejumlah perusahaan teknologi mulai meninggalkan pola kerja tertutup yang selama ini menjadi ciri khas pengembangan data center. Mereka kini menggelar pertemuan terbuka, menjanjikan lapangan kerja, berinvestasi pada sistem air, dan menawarkan dana komunitas senilai ratusan juta dolar. OpenAI, misalnya, menggelar open house saat mengumumkan rencana data center di dekat Savannah, Georgia, tempat warga bisa bertanya langsung soal tarif listrik, pasokan air, hingga pajak, sembari perusahaan menjanjikan investasi komunitas senilai 80 juta dolar AS dan kredit pelatihan koding senilai hingga 71 juta dolar bagi pelajar. Meta pun mengumumkan dana komunitas senilai 1 miliar dolar AS, seiring rencana belanja modal tahunan yang bisa mencapai 145 miliar dolar AS, sebagian besar untuk infrastruktur AI.
Tekanan dari akar rumput ini bukan tanpa hasil politik. Gubernur New York Kathy Hochul menjatuhkan larangan sementara terhadap pembangunan data center berskala besar pada Juli lalu, sementara Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro menandatangani perintah eksekutif yang menetapkan sejumlah pagar pembatas bagi fasilitas baru, sebagaimana dilaporkan PYMNTS.
Skala penolakan ini tergambar jelas dalam liputan Associated Press. Media itu mencatat bahwa rencana data center berskala besar semakin sering kalah dalam pertarungan di tingkat komunitas, di tempat-tempat yang penduduknya tak ingin tinggal berdekatan dengan fasilitas tersebut. Rapat dewan kota yang dulunya sepi kini dipadati warga yang marah, seperti yang terjadi di East Vincent Township, Pennsylvania, ketika seorang warga bernama Larry Shank mempertanyakan kepada para pejabat setempat apakah mereka mau proyek semacam itu dibangun di halaman belakang rumah mereka sendiri. Andy Cvengros, eksekutif di firma real estat komersial JLL, bahkan mengaku melihat penentang proyek melakukan kampanye dari pintu ke pintu, membagikan kaos, hingga memasang papan penolakan di halaman rumah warga. Data yang dihimpun Data Center Watch, proyek dari konsultan keamanan AI 10a Labs, mencatat bahwa antara April hingga Juni saja, sebanyak 20 proposal senilai total 98 miliar dolar AS di 11 negara bagian tertunda atau diblokir akibat penolakan lokal dan tekanan tingkat negara bagian, setara dua pertiga dari seluruh proyek yang mereka pantau.
Akar dari kemarahan ini sebagian besar bermuara pada satu isu, tagihan listrik. Analisis Bloomberg menemukan bahwa harga listrik grosir di wilayah dekat aktivitas data center telah naik hingga 267 persen dibanding lima tahun lalu, meski angka tersebut merujuk pada harga grosir, bukan tagihan rumah tangga secara langsung, seperti diklarifikasi oleh PolitiFact saat memeriksa klaim senator Elizabeth Warren yang sempat viral di media sosial. Laporan Consumer Reports mencatat kisah warga Manassas, Virginia bernama John Steinbach yang kaget menerima tagihan listrik 281 dolar AS, jauh melonjak dari sekitar 100 dolar AS pada bulan sebelumnya, di tengah proyeksi bahwa total kebutuhan energi data center di AS akan hampir dua kali lipat dari 80 menjadi 150 gigawatt antara 2025 dan 2028. Di jaringan listrik PJM Interconnection yang mencakup 13 negara bagian, Fortune melaporkan tagihan konsumen telah naik sekitar 13,8 miliar dolar AS akibat lonjakan permintaan yang didorong data center.
Namun gambaran ini tidak sepenuhnya hitam-putih. Fortune juga mengutip riset dari Electric Power Research Institute yang menunjukkan bahwa hingga setidaknya 2024, operasional data center justru cenderung menekan turun biaya listrik eceran, meski tren ini terancam berbalik seiring investasi yang diproyeksikan menembus 7 triliun dolar AS hingga 2030. Sementara itu, Forbes menyoroti bagaimana aturan main di masing-masing negara bagian, seperti tarif khusus data center di Ohio yang mewajibkan fasilitas besar menanggung sendiri sebagian besar risiko kapasitas yang mereka pesan, akan sangat menentukan siapa yang pada akhirnya menanggung beban biaya: perusahaan data center, rumah tangga, atau investor utilitas.
Di balik angka-angka itu, ada persoalan kepercayaan yang lebih mendasar. Opini yang dimuat The Hill mengutip data 2026 AI Index dari Stanford yang mencatat lebih dari 5.400 data center kini beroperasi di Amerika Serikat, dan menegaskan bahwa yang sesungguhnya diminta dari komunitas bukan sekadar persetujuan membangun gedung berisi server, melainkan kesediaan untuk mempercayai bahwa manfaat ekonomi dan teknologi sepadan dengan beban listrik, air, dan gangguan lingkungan yang harus mereka tanggung.
Bagi raksasa teknologi yang tengah berlomba membangun “pabrik AI”, tantangan berikutnya bukan lagi soal kecepatan konstruksi atau kapasitas chip, melainkan bagaimana meyakinkan warga biasa bahwa revolusi AI tidak dibangun di atas beban tagihan listrik dan sumber daya lokal yang mereka tanggung sendiri.

