(Business Lounge – Global News) Dubai International Airport (DXB) menghadapi salah satu periode paling berat dalam sejarah operasionalnya. Konflik Iran yang pecah pada akhir Februari 2026 memaksa sejumlah maskapai membatalkan penerbangan, mengubah rute, dan mengurangi kapasitas di kawasan Teluk. Dampaknya langsung terlihat pada lalu lintas penumpang. Menurut The Wall Street Journal, DXB hanya menangani sekitar 13 juta penumpang pada kuartal kedua, turun sekitar 30% dibandingkan kuartal pertama yang mencapai 18,5 juta. Namun, di balik angka tersebut muncul sinyal yang lebih positif: lalu lintas bulanan terus meningkat sepanjang kuartal.
Penurunan tajam ternyata tidak berlangsung dengan pola yang sama setiap bulan.
Pada April, DXB hanya mencatat sekitar 3,5 juta penumpang. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 4,5 juta pada Mei dan mencapai 5 juta pada Juni. Dubai Airports mengatakan perkembangan tersebut menunjukkan kapasitas maskapai mulai kembali, konektivitas internasional membaik, dan tingkat keterisian pesawat semakin kuat. Dengan kata lain, meskipun kuartal kedua secara keseluruhan masih mengalami tekanan berat, data bulanannya menunjukkan bahwa pasar mulai bergerak ke arah pemulihan.
Masalahnya, pemulihan itu dimulai dari titik yang sangat rendah.
Selama enam bulan pertama 2026, DXB menangani 31,5 juta penumpang, turun 31,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pergerakan pesawat juga merosot 32,1% menjadi sekitar 150.600 penerbangan. Reuters melaporkan bahwa gangguan tersebut terjadi ketika pembatasan wilayah udara dan pembatalan penerbangan meluas di kawasan Teluk setelah konflik Iran-Amerika Serikat mengganggu jaringan penerbangan regional. Harga bahan bakar jet yang meningkat kemudian menambah tekanan terhadap maskapai.
Bagi Dubai, persoalan ini jauh lebih besar daripada sekadar jumlah penumpang yang hilang di terminal. DXB merupakan salah satu simpul utama penerbangan internasional dunia, dengan sebagian besar kekuatannya berasal dari kemampuan menghubungkan berbagai kota melalui Dubai. Ketika rute-rute tersebut terganggu, dampaknya menjalar ke hotel, restoran, pusat perbelanjaan, bisnis konferensi, dan sektor pariwisata yang selama ini sangat bergantung pada arus wisatawan internasional.
Karena itu, pemulihan bandara menjadi indikator penting bagi ekonomi Dubai.
Paul Griffiths, CEO Dubai Airports, tetap optimistis bahwa lalu lintas akan menguat pada paruh kedua tahun ini. Kepada The National, ia mengatakan kapasitas DXB telah kembali sekitar 86% dan jaringan Emirates serta flydubai diperkirakan pulih hingga sekitar 90%. Lebih banyak maskapai internasional juga diharapkan kembali menjelang musim dingin yang secara tradisional menjadi periode sibuk bagi Dubai.
Namun, maskapai internasional belum seluruhnya kembali. Sebelum konflik, DXB dilayani sekitar 90 maskapai, sedangkan jumlahnya turun menjadi sekitar 56 pada periode setelah gangguan. Lufthansa dan Singapore Airlines termasuk perusahaan yang masih berhati-hati dan memperpanjang penghentian sejumlah rute. Bagi sebuah hub global, kembalinya maskapai menjadi sama pentingnya dengan kembalinya penumpang karena konektivitas adalah produk utama yang dijual bandara tersebut.
Dubai membutuhkan jaringan globalnya kembali, bukan sekadar terminal yang kembali ramai.
Kondisi tersebut juga memperlihatkan betapa rentannya hub penerbangan yang sangat bergantung pada konektivitas internasional. Dubai tidak harus menjadi tujuan akhir perjalanan untuk memperoleh manfaat ekonomi. Penumpang yang hanya transit tetap menghasilkan pendapatan bagi maskapai, bandara, toko, restoran, dan berbagai layanan lainnya. Ketika penerbangan transit terganggu, aktivitas ekonomi yang sebelumnya terjadi di sekitar bandara ikut menghilang.
Data Dubai Airports memperlihatkan bahwa permintaan sebenarnya belum hilang. Ketika kapasitas penerbangan kembali tersedia, penumpang juga segera meningkat. Dari 3,5 juta penumpang pada April menjadi 5 juta pada Juni, pertumbuhan tersebut mencapai sekitar 43%. Ini menjadi sinyal bahwa sebagian besar persoalan bukan berasal dari hilangnya minat masyarakat untuk terbang, melainkan dari keterbatasan kapasitas dan gangguan jaringan penerbangan akibat konflik.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya menghilang.
Perkembangan terbaru menunjukkan ketegangan Iran-Amerika Serikat masih memberikan tekanan terhadap kawasan. Reuters melaporkan pada 31 Agustus bahwa pasar saham Teluk kembali melemah setelah eskalasi militer di sekitar kawasan, sementara Uni Emirat Arab mengatakan telah mencegat drone Iran di wilayah perairannya. Situasi tersebut menunjukkan bahwa maskapai harus mempertimbangkan risiko keamanan ketika menentukan kapan dan seberapa cepat mereka mengembalikan seluruh kapasitas penerbangan.
Bagi Dubai Airports, persoalan tersebut membuat target pertumbuhan harus disesuaikan. Sebelum konflik, DXB berharap dapat mendekati 100 juta penumpang pada 2026. Kini, menurut The National, perkiraannya berada di sekitar 70 juta penumpang dan target 100 juta ditunda hingga 2027. Angka tersebut menunjukkan besarnya dampak gangguan pada enam bulan pertama, tetapi juga memperlihatkan bahwa bandara tidak menganggap penurunan tersebut sebagai perubahan permanen dalam posisi Dubai sebagai pusat penerbangan dunia.
Strategi Dubai kini bukan mengubah arah, melainkan mempercepat pemulihan.
Itu terlihat dari investasi berkelanjutan dan upaya mengembalikan konektivitas. Dubai Airports juga melihat peluang dari pesawat generasi baru seperti Airbus A321XLR yang mampu terbang lebih jauh dengan biaya yang memungkinkan maskapai membuka rute-rute yang sebelumnya kurang ekonomis. Teknologi tersebut dapat membantu Dubai memperluas jaringan tanpa selalu bergantung pada pesawat berbadan lebar berkapasitas besar.
Pada akhirnya, angka 31,5 juta penumpang pada semester pertama memang menggambarkan pukulan besar. Tetapi tren April, Mei, dan Juni memberikan cerita berbeda. Dubai bukan sedang kehilangan perannya sebagai hub global; untuk sementara, perannya terganggu oleh kondisi geopolitik yang berada di luar kendali industri penerbangan.
Pertanyaan sebenarnya adalah seberapa cepat dunia kembali mempercayai langit kawasan Teluk.
Jika maskapai Eropa, Amerika, dan Asia kembali meningkatkan kapasitas menjelang musim dingin, DXB memiliki peluang besar untuk mempercepat pemulihan. Namun, selama ketegangan regional tetap tinggi, maskapai akan terus menimbang antara permintaan penumpang yang kuat dan risiko operasional. Bagi Dubai, kemampuan mempertahankan posisi sebagai hub penerbangan terbesar dunia pada akhirnya tidak hanya bergantung pada jumlah landasan atau terminal, tetapi pada stabilitas kawasan yang menjadi pintu gerbangnya menuju dunia.

