(Business Lounge – Global News) WestJet akhirnya menutup perselisihan panjang dengan awak kabinnya setelah para pramugari menyetujui perjanjian kerja bersama yang baru. Sekitar 90,2% anggota serikat menyetujui kesepakatan tersebut dalam pemungutan suara, memberikan mandat kuat bagi kontrak yang berlaku mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2028. Kesepakatan ini mencakup kenaikan upah lebih dari 18% selama tiga tahun sekaligus pembayaran untuk pekerjaan yang sebelumnya tidak dihitung sebagai waktu kerja berbayar. The Wall Street Journal melaporkan bahwa ratifikasi tersebut mengakhiri perselisihan yang sebelumnya berujung pada pemogokan dan mengganggu ratusan penerbangan WestJet di Kanada.
Yang berubah bukan hanya angka gaji, tetapi cara kerja awak kabin dihargai.
Persoalan utama dalam negosiasi bukan sekadar besarnya upah per jam. Awak kabin selama ini melakukan berbagai pekerjaan sebelum pesawat lepas landas dan setelah pesawat mendarat, termasuk proses boarding, pemeriksaan kabin, dan tugas setelah penerbangan, tetapi sebagian waktu tersebut tidak dihitung seperti waktu ketika pesawat sedang terbang. Reuters melaporkan bahwa tuntutan pembayaran untuk seluruh waktu kerja menjadi salah satu isu utama yang mendorong konflik antara serikat dan perusahaan.
WestJet dan Canadian Union of Public Employees (CUPE), yang mewakili sekitar 4.400 awak kabin, akhirnya menyepakati mekanisme baru berupa Duty Period Premium. WestJet menjelaskan bahwa skema tersebut memberikan pembayaran tambahan untuk seluruh jam kerja dalam satu periode tugas. Rata-rata, perusahaan memperkirakan tambahan tersebut setara dengan sekitar 20 hingga 25 jam pembayaran setiap bulan, atau sekitar 12% tambahan terhadap gaji. Ditambah kenaikan upah 13% pada 2026 dan kenaikan 2,5% pada tahun-tahun berikutnya, perubahan total kompensasi menjadi cukup signifikan.
Pemogokan menjadi harga mahal untuk sebuah kesepakatan yang akhirnya tercapai.
Pada awal Agustus, sekitar 4.400 awak kabin WestJet melakukan aksi mogok setelah negosiasi gagal mencapai kesepakatan. Dampaknya langsung terasa pada jaringan penerbangan perusahaan. Reuters mencatat bahwa pemogokan menyebabkan pembatalan 922 penerbangan, sekitar 39% dari jadwal penerbangan WestJet antara 1 dan 5 Agustus, dan memengaruhi sekitar 250.000 penumpang.
WestJet sendiri sebelumnya telah mulai mengurangi penerbangan sebagai bagian dari upaya mengendalikan jaringan operasional sebelum aksi mogok berlangsung penuh. Pada 2 Agustus, perusahaan mengatakan penghentian kerja membuat penerbangan Boeing 737 dan 787 tidak dapat beroperasi seperti biasa. Sebelum kesepakatan sementara dicapai, ratusan penerbangan sudah dibatalkan dan penumpang harus mencari penerbangan alternatif atau menunggu pemulihan jaringan.
Dampaknya menunjukkan betapa mahalnya konflik tenaga kerja bagi maskapai.
Maskapai tidak hanya kehilangan pendapatan dari penerbangan yang dibatalkan. Gangguan juga menciptakan biaya untuk pemindahan pesawat dan awak, kompensasi penumpang, pengaturan ulang jadwal, serta potensi kehilangan kepercayaan pelanggan. Bagi WestJet, konflik tersebut terjadi pada periode liburan musim panas Kanada yang merupakan salah satu masa tersibuk dalam kalender perjalanan. Karena itu, keberhasilan mencapai kesepakatan sebelum gangguan berlangsung lebih lama menjadi sangat penting bagi perusahaan.
Namun, persoalan yang dihadapi WestJet bukan kasus yang berdiri sendiri. Industri penerbangan Amerika Utara sedang mengalami perubahan dalam cara awak kabin dibayar. Reuters mencatat bahwa sejumlah maskapai seperti Air Canada, American Airlines, Alaska Airlines, Delta Air Lines, dan United Airlines telah bergerak menuju bentuk kompensasi untuk waktu yang dihabiskan awak kabin di darat.
Perubahan standar industri membuat model pembayaran lama semakin sulit dipertahankan.
Selama bertahun-tahun, struktur kompensasi awak kabin memiliki karakter yang berbeda dari pekerjaan dengan jam kerja konvensional. Pembayaran sering dikaitkan dengan waktu penerbangan, sementara sejumlah aktivitas di bandara sebelum dan sesudah penerbangan tidak memperoleh kompensasi yang sama. Dari perspektif perusahaan, sistem tersebut memiliki sejarah panjang dan membantu menjaga struktur biaya. Dari perspektif pekerja, masalahnya sederhana: pekerjaan tetap dilakukan meskipun pesawat belum bergerak.
Kesepakatan WestJet menjadi penting karena memberikan pengakuan finansial terhadap pekerjaan tersebut. Presiden CUPE 8125 Alia Hussain mengatakan ratifikasi merupakan mandat kuat dari anggota dan menunjukkan keberhasilan perjuangan untuk memperoleh pembayaran atas lebih banyak pekerjaan yang memang sudah mereka lakukan. Serikat tersebut juga menekankan bahwa kontrak ini baru merupakan perjanjian kolektif kedua bagi awak kabin WestJet yang diwakilinya.
Bagi pekerja, keberhasilan ini dapat menjadi standar baru untuk negosiasi berikutnya.
Sementara itu, WestJet melihat kesepakatan tersebut dari sisi yang berbeda. CEO WestJet Group Alexis von Hoensbroech mengatakan kontrak baru memodernisasi sistem kompensasi awak kabin dan memberikan fondasi bagi keberlanjutan perusahaan. Artinya, perusahaan berusaha memastikan kenaikan kompensasi tetap dapat berjalan bersama kebutuhan untuk mempertahankan daya saing dan efisiensi operasional.
Di sinilah tantangan sebenarnya dimulai. Kenaikan kompensasi akan meningkatkan biaya tenaga kerja, tetapi perusahaan tidak selalu dapat menaikkan harga tiket dengan jumlah yang sama. Industri penerbangan sangat sensitif terhadap harga dan persaingan. Jika biaya tenaga kerja meningkat terlalu cepat, maskapai harus menemukan produktivitas tambahan atau efisiensi di bagian lain agar margin tetap terjaga.
Namun, membayar pekerjaan secara lebih transparan juga dapat memberikan manfaat jangka panjang.
Hubungan tenaga kerja yang lebih stabil dapat mengurangi risiko pemogokan dan gangguan operasional. Maskapai juga memperoleh kepastian dalam merencanakan jadwal, kapasitas, dan ekspansi. Bagi pekerja, struktur pembayaran yang lebih jelas dapat mengurangi ketegangan dalam negosiasi berikutnya. Dengan demikian, biaya tambahan dalam kontrak baru dapat dilihat sebagai investasi untuk mengurangi ketidakpastian operasional.
WestJet kini memiliki ruang untuk kembali fokus pada bisnis setelah periode yang sangat mengganggu. Perusahaan merupakan maskapai terbesar kedua di Kanada dan melayani lebih dari 100 destinasi. Dengan kontrak baru yang berlaku hingga akhir 2028, perusahaan dan awak kabin memiliki periode relatif panjang untuk membangun kembali hubungan kerja tanpa harus segera menghadapi negosiasi baru.
Kesepakatan WestJet memperlihatkan perubahan besar dalam ekonomi pekerjaan penerbangan.
Pertarungan mengenai boarding pay dan ground pay mungkin terlihat seperti persoalan internal perusahaan. Namun, dampaknya jauh lebih luas. Ketika semakin banyak maskapai mulai membayar waktu kerja awak kabin secara lebih menyeluruh, standar industri perlahan berubah. WestJet kini menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar dari kesepakatan ini mungkin bukan angka kenaikan gaji 18%, melainkan pengakuan bahwa pekerjaan awak kabin dimulai jauh sebelum pesawat meninggalkan landasan dan belum selesai ketika pesawat mendarat. Bagi industri penerbangan yang selama ini sangat terobsesi dengan efisiensi setiap menit penerbangan, perubahan cara menghitung waktu kerja tersebut dapat menjadi salah satu perubahan ketenagakerjaan paling penting dalam beberapa tahun ke depan.

