Duta Besar Swiss Olivier Zehnder Soroti Fondasi Kepercayaan dalam 75 Tahun Hubungan Indonesia–Swiss

(Business Lounge Journal – News)

Perayaan Hari Nasional Swiss tahun ini yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu (29/7/2026) menjadi momen yang lebih istimewa dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski Hari Nasional Swiss secara resmi diperingati setiap 1 Agustus sebagai hari lahir Konfederasi Swiss—yang juga dikenal sebagai Hari Nasional atau Hari Kemerdekaan Swiss—perayaan di Indonesia digelar lebih awal. Tahun ini, resepsi tersebut sekaligus menandai 75 tahun hubungan diplomatik antara Swiss dan Indonesia. Dalam sambutannya di hadapan para pejabat pemerintah Indonesia, korps diplomatik, pelaku bisnis, dan masyarakat Swiss di Jakarta, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Olivier Zehnder, mengajak seluruh tamu untuk melihat hubungan bilateral bukan sekadar deretan perjanjian antarnegara, melainkan sebuah perjalanan panjang yang dibangun melalui kepercayaan, inovasi, dan kemitraan.

75 Tahun Persahabatan yang Dibangun dengan Kesabaran

Di awal pidatonya, Olivier mengawali dengan sebuah perbandingan menarik.

Menurutnya, sekilas jam tangan Swiss dan batik Indonesia tampak tidak memiliki banyak kesamaan. Jam tangan dibuat dari ratusan komponen mekanis yang bergerak secara presisi untuk mengukur waktu. Sementara batik merupakan karya seni yang lahir dari ribuan garis, motif, dan benang yang dikerjakan dengan penuh ketelitian.

Namun, keduanya memiliki pesan yang sama.

“Nothing enduring is created in a single gesture. It is built patiently, it requires precision and one needs trust.”

Bagi Olivier, prinsip tersebut juga menggambarkan perjalanan hubungan Indonesia dan Swiss selama tujuh setengah dekade.

Ia menegaskan bahwa 75 tahun hubungan diplomatik bukan sekadar angka, melainkan akumulasi dari ribuan pertemuan, kolaborasi, dan hubungan antarmanusia yang telah membentuk fondasi kerja sama kedua negara. Bahkan, untuk memperingati tonggak sejarah tersebut, Kedutaan Besar Swiss tengah menyiapkan sebuah buku yang mendokumentasikan perjalanan panjang hubungan bilateral tersebut.

Menurutnya, kerja sama Indonesia dan Swiss kini telah berkembang jauh melampaui hubungan diplomatik formal. Kolaborasi telah mencakup perdagangan, investasi, pembangunan berkelanjutan, pendidikan, ilmu pengetahuan, hingga kebudayaan.

Namun di balik setiap nota kesepahaman dan perjanjian ekonomi, Olivier menekankan bahwa hubungan antarnegara pada akhirnya selalu dibangun oleh manusia.

Trust, Innovation, dan Partnership Menjadi Kompas Hubungan Bilateral

Dalam bagian utama pidatonya, Olivier merangkum filosofi hubungan Indonesia–Swiss ke dalam tiga kata sederhana namun fundamental: trust, innovation, dan partnership. Baginya, trust berarti menjadi mitra yang dapat diandalkan, konsisten, dan dapat diprediksi, terutama ketika dunia menghadapi berbagai ketidakpastian geopolitik maupun ekonomi. Sementara itu, innovation bukan hanya berarti menciptakan sesuatu yang baru, tetapi memiliki keberanian untuk membayangkan sesuatu yang lebih baik. Adapun partnership merupakan pengingat bahwa tidak ada satu negara pun yang mampu menyelesaikan tantangan global sendirian.

Meski Indonesia dan Swiss memiliki karakteristik yang sangat berbeda—baik dari sisi geografis, budaya, maupun ukuran negara—keduanya memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya keberagaman. Menurut Olivier, persatuan tidak selalu berarti keseragaman. Sebaliknya, keberagaman justru membutuhkan dialog, kompromi, dan kesabaran. Nilai-nilai tersebut menjadi sumber ketahanan, kreativitas, sekaligus kekuatan dalam menghadapi dunia yang semakin terpolarisasi.

Ia juga mengutip pesan Presiden Swiss tahun ini yang menegaskan bahwa optimisme bukan berarti menutup mata terhadap berbagai persoalan dunia, melainkan melihatnya secara jernih dan tetap memilih kerja sama daripada menyerah pada pesimisme.

Dalam konteks tersebut, Olivier menilai komitmen terhadap demokrasi, martabat manusia, hukum internasional, perdagangan terbuka, dan kemitraan yang jujur bukanlah nilai-nilai lama yang usang, melainkan pilihan yang justru semakin relevan di tengah perubahan global.

Pelajaran dari Indonesia: Hubungan Terbaik Selalu Dimulai dari Kemanusiaan

Bagian paling personal dalam pidato Olivier muncul ketika ia berbagi pengalamannya selama bertugas di Indonesia. Ia mengaku belajar bahwa jarak tidak selalu diukur dalam kilometer, dan percakapan yang paling berharga sering kali tidak dimulai tepat waktu. Namun, menurutnya, waktu yang digunakan untuk membangun kepercayaan tidak pernah menjadi waktu yang sia-sia.

Olivier bahkan mengungkapkan salah satu pertanyaan yang paling berkesan baginya selama tinggal di Indonesia. “Sudah makan?” Menurutnya, pertanyaan sederhana tersebut sesungguhnya mencerminkan nilai yang sangat besar. Sebelum membahas bisnis, negosiasi, maupun urusan diplomatik, masyarakat Indonesia terlebih dahulu menempatkan kemanusiaan sebagai prioritas. “Pertama-tama kita adalah manusia,” ungkapnya, seraya menilai bahwa kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain menjadi salah satu karakter paling berharga yang ia temukan selama bertugas.

Karena itu, menjelang berakhirnya masa penugasannya di Indonesia, Olivier menyampaikan rasa syukur kepada Pemerintah Indonesia, para mitra kerja, komunitas bisnis Swiss, tim Kedutaan Besar Swiss, masyarakat Swiss di Indonesia, hingga seluruh pihak yang telah berkontribusi mempererat hubungan kedua negara.

Menutup sambutannya, Olivier menyampaikan sebuah pantun sebagai simbol penghormatannya terhadap budaya Indonesia, sebelum mengajak seluruh tamu untuk memandang 75 tahun hubungan diplomatik bukan sebagai akhir sebuah perjalanan, melainkan awal dari babak baru kerja sama.

“Semoga 75 tahun berikutnya cukup berani untuk terus berinovasi, cukup sabar untuk membangun kepercayaan, dan cukup murah hati untuk tetap menjadi sebuah kemitraan yang sejati.”

Pidato tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa di tengah dinamika global yang semakin kompleks, hubungan Indonesia dan Swiss tidak hanya bertumpu pada kepentingan ekonomi maupun politik, tetapi juga pada nilai-nilai universal yang menjaga keberlanjutan sebuah persahabatan antarbangsa.