(Business Lounge – Global News) Lineage, operator cold storage terbesar di dunia berdasarkan kapasitas, menggugat perusahaan pengelola panel surya dan kontraktornya terkait kebakaran besar yang menghancurkan fasilitas pergudangan di Boyle Heights, Los Angeles. Gugatan yang diajukan ke Los Angeles Superior Court menuntut ganti rugi lebih dari US$1 miliar dan menempatkan persoalan keselamatan infrastruktur energi surya di atap bangunan komersial sebagai pusat sengketa. Kebakaran yang terjadi pada 17 Juni 2026 melanda fasilitas cold storage seluas sekitar 500.000 kaki persegi yang menyimpan jutaan pon makanan segar dan beku. Menurut The Wall Street Journal, Lineage menuduh kelalaian Altus Power, Los Palos Street Operating, dan Pearce Services menyebabkan kebakaran tersebut, sementara pihak-pihak yang digugat membantah tuduhan dan menyatakan penyelidikan mengenai penyebab serta asal api masih berlangsung.
Kasus ini menjadi jauh lebih besar daripada sekadar kerusakan sebuah gudang. Api yang muncul di area atap tersebut kemudian menjalar ke bagian dalam fasilitas dan bertahan selama berhari-hari, menyebabkan jutaan pon makanan membusuk setelah sistem cold storage tidak lagi berfungsi. Dampaknya kemudian meluas ke lingkungan sekitar melalui bau menyengat, masalah hama, asap, abu, dan kekhawatiran terhadap kualitas udara. Pemerintah California sebelumnya bahkan menetapkan keadaan darurat terkait kebakaran tersebut karena kondisi kompleks yang dihadapi petugas pemadam, termasuk keberadaan sistem refrigerasi dan bahan berbahaya seperti amonia. The Wall Street Journal melaporkan bahwa kondisi fasilitas yang terbakar membuat proses penanganan menjadi jauh lebih sulit dibandingkan kebakaran gudang biasa. Bagi Lineage, konsekuensi finansialnya mencakup bukan hanya nilai properti dan barang yang rusak, tetapi juga biaya pembersihan, gangguan operasi, kerusakan reputasi, serta tuntutan hukum dari masyarakat sekitar.
Dalam gugatannya, Lineage menyatakan bahwa kebakaran bermula ketika kontraktor yang bekerja untuk operator panel surya melakukan pekerjaan pada susunan panel di atap gudang. Los Palos Street Operating, anak usaha Altus Power, menyewa bagian atap fasilitas tersebut untuk memiliki dan mengoperasikan instalasi panel surya, sedangkan Pearce Services ditunjuk untuk melakukan pekerjaan pemeliharaan. Lineage menilai kegagalan dalam menangani persoalan pada sistem tersebut berkontribusi terhadap terjadinya kebakaran. Perusahaan juga mengklaim bahwa instalasi panel surya di atap yang sama sebelumnya pernah mengalami kebakaran lebih kecil pada Agustus 2024. The Wall Street Journal melaporkan bahwa Altus dan Pearce menolak tuduhan tersebut. Altus menyebut pernyataan Lineage mengandung informasi yang keliru dan berusaha mengalihkan tanggung jawab, sedangkan Pearce mengatakan penyelidikan mengenai penyebab, titik awal, serta alasan api menyebar masih berlangsung sehingga terlalu dini menentukan pihak yang bertanggung jawab.
Besarnya nilai gugatan memperlihatkan bagaimana sebuah kegagalan operasional dapat menciptakan efek berantai dalam rantai pasok pangan. Fasilitas cold storage bukan sekadar tempat menaruh barang, melainkan bagian penting dari infrastruktur logistik yang menjaga produk tetap berada dalam kondisi layak sebelum dikirim ke distributor, pengecer, restoran, atau konsumen. Ketika fasilitas sebesar itu berhenti beroperasi, dampaknya dapat menjalar ke pemilik barang, perusahaan transportasi, operator distribusi, pelanggan, pemasok, hingga masyarakat sekitar. Lineage juga menghadapi tekanan dari sisi lingkungan karena makanan dalam jumlah sangat besar yang membusuk menciptakan persoalan bau dan hama selama proses pembersihan. LAist melaporkan bahwa gugatan Lineage menilai kebakaran tersebut menyebabkan kerugian lebih dari US$1 miliar, sementara biaya pembersihan saja disebut telah mencapai lebih dari US$100 juta.
Persoalan lain yang membuat kasus ini semakin rumit adalah munculnya gugatan dari masyarakat. Sebelum Lineage menggugat operator panel surya, sejumlah warga sekitar sudah mengambil langkah hukum terhadap berbagai pihak yang berkaitan dengan kebakaran. Lebih dari 300 warga Boyle Heights, East Los Angeles, Commerce, dan Montebello sebelumnya menggugat Lineage dengan tuduhan bahwa asap, abu, amonia, dan kondisi lingkungan setelah kebakaran menimbulkan dampak terhadap kesehatan dan rumah mereka. Fox 11 Los Angeles melaporkan bahwa warga meminta pertanggungjawaban atas berbagai dampak yang mereka rasakan setelah kebakaran. Pemerintah kota Los Angeles juga telah mengambil langkah untuk mengevaluasi kemungkinan tuntutan terhadap Lineage guna memperoleh penggantian biaya yang muncul akibat respons dan dampak kebakaran. Dengan demikian, sengketa ini berpotensi berkembang menjadi rangkaian perkara hukum yang melibatkan operator gudang, pemilik properti, operator panel surya, kontraktor, perusahaan asuransi, pelanggan gudang, pemerintah, dan masyarakat.
Di balik sengketa tersebut terdapat pertanyaan yang lebih luas mengenai penggunaan panel surya pada bangunan komersial. Selama satu dekade terakhir, banyak pemilik gudang dan properti komersial memasang panel surya di atap untuk menekan biaya energi, mengurangi emisi, dan memanfaatkan ruang atap yang sebelumnya tidak produktif. Model tersebut semakin menarik bagi perusahaan logistik karena fasilitas gudang berukuran besar memiliki permukaan atap yang luas dan kebutuhan listrik yang tinggi, terutama fasilitas cold storage yang membutuhkan sistem pendingin untuk beroperasi secara terus-menerus. Namun, kasus Lineage menunjukkan bahwa manfaat ekonomi dan lingkungan tersebut harus berjalan bersama pengelolaan risiko yang lebih ketat, terutama dalam hal desain, instalasi, pemeliharaan, inspeksi, pemantauan, serta respons ketika muncul gangguan.
Risiko panel surya di atap bangunan komersial sebenarnya bukan isu yang sepenuhnya baru. The Wall Street Journal mencatat bahwa Walmart pernah menggugat Tesla pada 2019 dengan tuduhan bahwa panel surya yang dipasang di sejumlah tokonya memicu kebakaran. Sengketa tersebut akhirnya diselesaikan beberapa bulan kemudian. Kasus-kasus semacam ini menunjukkan bahwa ketika energi terbarukan dipasang dalam skala besar pada aset bernilai tinggi, tanggung jawab antara pemilik bangunan, operator sistem energi, kontraktor pemeliharaan, dan penyedia teknologi harus ditentukan secara jelas sejak awal. Kontrak yang mengatur siapa yang bertanggung jawab terhadap inspeksi dan kerusakan tidak lagi menjadi dokumen administratif semata, melainkan bagian dari manajemen risiko bisnis.
Bagi industri logistik, pelajaran terbesar dari kebakaran Lineage adalah bahwa efisiensi biaya energi tidak boleh dipisahkan dari ketahanan aset. Gudang modern semakin bergantung pada kombinasi listrik, sistem pendingin, otomatisasi, perangkat digital, dan infrastruktur energi terbarukan. Ketika salah satu komponen mengalami kegagalan, kerugiannya dapat jauh lebih besar daripada biaya penggantian perangkat tersebut karena seluruh aktivitas distribusi dapat ikut terhenti. Kebakaran Boyle Heights memperlihatkan bagaimana sebuah insiden pada bagian atap akhirnya berubah menjadi persoalan rantai pasok, lingkungan, reputasi, dan hukum dengan nilai kerugian yang mencapai miliaran dolar.
Karena itu, gugatan Lineage terhadap Altus Power dan Pearce Services akan menjadi perkara yang penting untuk diperhatikan, bukan hanya karena besarnya nilai tuntutan, tetapi juga karena hasilnya dapat memberikan gambaran mengenai pembagian tanggung jawab ketika fasilitas logistik besar menggunakan infrastruktur energi terbarukan. Untuk saat ini, belum ada penetapan hukum mengenai siapa yang bertanggung jawab atas kebakaran tersebut. Namun, semakin panjang proses pemulihan dan semakin banyak pihak yang mengajukan tuntutan, semakin jelas bahwa biaya sebenarnya dari sebuah gangguan infrastruktur tidak berhenti pada bangunan yang terbakar. Dalam ekonomi logistik modern, satu insiden dapat menghancurkan persediaan, mengganggu distribusi, membebani masyarakat, dan akhirnya menciptakan konsekuensi finansial yang berkali-kali lipat dari nilai aset yang pertama kali rusak.

