(Business Lounge Journal – Event)
Batik Indonesia dan sulaman tradisional Hungaria mungkin berasal dari dua belahan dunia yang berbeda. Namun, keduanya memiliki satu kesamaan: sama-sama menjadi bagian penting dari identitas budaya dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kesamaan inilah yang diangkat dalam pameran Threads of Wax: A Cultural Confluence of Indonesian and Hungarian Heritage yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Hungaria di Jakarta bekerja sama dengan Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta.
Pameran yang berlangsung di Museum Seni Rupa dan Keramik, kawasan Kota Tua Jakarta, pada 30 Juni hingga 21 Juli 2026 ini merupakan bagian dari perayaan HUT ke-499 Kota Jakarta. Melalui pameran ini, Indonesia dan Hungaria merayakan hubungan persahabatan kedua negara melalui karya seni dan tradisi budaya.
Dalam pameran tersebut, pengunjung dapat melihat berbagai karya batik yang terinspirasi dari motif sulaman tradisional Hungaria, khususnya dari tradisi Matyó dan Kalocsai yang terkenal dengan motif bunga berwarna-warni. Motif-motif khas Hungaria tersebut diinterpretasikan kembali menggunakan teknik dan gaya visual batik Indonesia, sehingga menghasilkan karya yang unik sekaligus tetap menghormati karakter asli masing-masing budaya.
Menurut penyelenggara, pameran ini tidak hanya menampilkan karya seni, tetapi juga menjadi ruang untuk memperlihatkan bagaimana tradisi dari dua negara yang berjauhan dapat saling bertemu dan berdialog. Baik batik Indonesia maupun sulaman tradisional Hungaria sama-sama mengandung nilai tentang identitas, kebersamaan, sejarah, dan cara masyarakat mengekspresikan kehidupan melalui karya tekstil.
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara perajin Indonesia, tradisi budaya Hungaria, serta desainer asal Venezuela, Jesus Cedeño, yang bersama tim Playo merancang keseluruhan konsep pameran. Dukungan dari Uni Eropa juga turut membantu terwujudnya proyek budaya lintas negara ini.
Selain menikmati karya-karya yang dipamerkan, pengunjung juga dapat mempelajari berbagai makna simbolis yang terdapat dalam motif tekstil kedua negara, mulai dari simbol kesuburan, perlindungan, kemakmuran, hingga nilai-nilai kehidupan bermasyarakat.
Acara pembukaan pameran akan dihadiri oleh sejumlah tokoh dari Indonesia dan komunitas internasional, termasuk Pramono Anung, Lilla Karsay, serta Denis Chaibi. Kehadiran para pemimpin dan diplomat tersebut menunjukkan bahwa kerja sama budaya tetap menjadi salah satu cara penting untuk mempererat hubungan antarnegara.
Pameran Threads of Wax terbuka untuk umum tanpa biaya masuk dan diharapkan dapat menarik berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, seniman, akademisi, hingga masyarakat luas. Melalui perpaduan antara batik Indonesia dan sulaman tradisional Hungaria, pameran ini mengajak pengunjung untuk melihat bahwa perbedaan budaya bukanlah penghalang, melainkan sumber inspirasi untuk menciptakan sesuatu yang baru.

