Tiga Pelajaran dari Pompeii untuk Indonesia dari Ahli Geofisika Italia Roberto Carniel

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Prof. Roberto Carniel, Atase Ilmiah Kedutaan Besar Italia di Jakarta sekaligus Associate Professor of Applied Geophysics di University of Udine, menilai tragedi Pompeii tetap menyimpan pelajaran penting bagi negara-negara yang hidup berdampingan dengan gunung api, termasuk Indonesia. Dengan latar belakang riset di bidang geofisika, seismologi gunung api, analisis deret waktu, serta pemantauan dan prakiraan aktivitas vulkanik, Carniel menekankan bahwa bencana seperti letusan Gunung Vesuvius bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga peringatan tentang pentingnya memahami tanda awal, fase erupsi, dan pendidikan publik.

Letusan Gunung Vesuvius pada tahun 79 Masehi yang menghancurkan Pompeii kerap menjadi salah satu contoh paling terkenal tentang bagaimana sebuah kota dapat berubah menjadi situs bencana dalam waktu singkat. Kota-kota Romawi di sekitar Vesuvius tertutup material vulkanik, namun justru karena tertutup itulah bentuk kota, bangunan, dan kehidupan masyarakatnya terawetkan secara luar biasa. Dari sisi arkeologi, Pompeii menjadi jendela langka untuk melihat kota Romawi sebagaimana adanya ketika bencana terjadi.

1. Jangan Abaikan Tanda-Tanda Awal

Dalam penjelasannya dalam wawancara dengan Business Lounge Journal di Jakarta, Profesor Carniel menekankan bahwa salah satu pelajaran utama dari Pompeii adalah pentingnya tidak mengabaikan tanda-tanda pendahulu (precursors). Sebelum fase kuat letusan Vesuvius terjadi, aktivitas gempa pasti meningkat. Gunung pasti bergemuruh, gas pasti muncul, dan masyarakat melihat bahwa sesuatu sedang terjadi.

Masalahnya, menurut narasumber, masyarakat saat itu tidak memahami apa yang sedang berlangsung. Mereka melihat gempa-gempa kecil dan emisi dari gunung, tetapi tidak memiliki ingatan historis mengenai letusan besar sebelumnya. Karena tidak ada memori kolektif tentang bahaya besar Vesuvius, tanda-tanda itu tidak diterjemahkan sebagai peringatan serius.

Pelajaran ini penting bagi Indonesia. Di banyak wilayah gunung api, masyarakat sudah terbiasa hidup dengan gempa kecil, asap kawah, suara gemuruh, atau aktivitas vulkanik lain. Kebiasaan ini dapat menjadi kekuatan jika diikuti dengan pengetahuan yang benar, tetapi juga dapat menjadi kelemahan jika tanda bahaya dianggap sebagai kejadian biasa.

Dalam konteks modern, tanda awal erupsi tidak cukup hanya “dilihat” oleh masyarakat. Tanda tersebut harus dipantau, dianalisis, lalu dikomunikasikan dengan bahasa yang dipahami publik. Di Indonesia, peran lembaga pemerintah menjadi penting karena pemantauan gunung api tidak hanya mencatat aktivitas, tetapi juga memberikan peringatan dini dan rekomendasi teknis mitigasi.

2. Erupsi Tidak Selalu Langsung Besar Sejak Awal

Pelajaran kedua dari Pompeii adalah bahwa erupsi dapat berlangsung dalam beberapa fase. Profesor Carniel menjelaskan bahwa masyarakat Pompeii kemungkinan melihat aktivitas awal sebagai sesuatu yang kecil, mungkin hanya letusan kecil. Namun, setelah itu muncul fase lain yang jauh lebih intens. Menurutnya, hal seperti ini cukup umum: erupsi besar tidak selalu terlihat besar dari awal sampai akhir. Ada beberapa fase dan sebagian fase dapat menjadi sangat besar.

Ia juga menjelaskan bahwa Vesuvius mampu menghasilkan erupsi berbahaya karena karakter magmanya yang sangat kental. Jika magma sangat cair, gas lebih mudah keluar sehingga ledakan cenderung kecil atau tidak terjadi. Tetapi jika magma sangat kental, gas sulit keluar, tekanan meningkat, dan magma dapat membentuk kubah. Kubah yang tidak stabil dapat runtuh dan menghasilkan aliran piroklastik.

Narasumber menegaskan bahwa aliran piroklastik berbeda dari aliran lava biasa. Aliran ini dapat bergerak sangat cepat, sangat panas, dan jika seseorang berada di jalurnya, hampir tidak ada solusi untuk menyelamatkan diri pada saat itu juga.

Penjelasan ini relevan untuk Indonesia karena bahaya gunung api tidak hanya berupa lava. Bahaya langsung juga dapat berupa awan panas, jatuhan piroklastik, hujan abu, lahar letusan, lumpur panas, dan gas vulkanik beracun. Karena itu, memahami zona bahaya dan mengikuti rekomendasi evakuasi jauh lebih penting daripada menunggu bencana terlihat “besar” secara kasat mata.

Dengan kata lain, letusan kecil bukan jaminan bahwa fase berikutnya akan tetap kecil. Pada gunung api tertentu, fase awal justru dapat menjadi pembuka bagi aktivitas yang lebih berbahaya. Inilah sebabnya masyarakat tidak boleh membuat keputusan sendiri berdasarkan pengamatan visual semata, melainkan harus mengikuti informasi resmi dari pengamat gunung api dan otoritas kebencanaan.

3. Pendidikan Publik Sama Pentingnya dengan Alat Pemantau

Ketika ditanya apakah pendidikan penting untuk bertahan menghadapi bencana, Profesor Carniel menjawab bahwa ia setuju. Ia menekankan bahwa persiapan menghadapi bencana alam bukanlah satu hal tunggal. Tidak cukup hanya memasang seismometer. Tidak cukup juga hanya memiliki sistem peringatan.

Menurutnya, seluruh rantai mitigasi harus dibangun. Harus ada seismometer dan instrumen pemantauan lain. Data dari instrumen tersebut harus dapat diproses. Para ilmuwan harus mampu membuat model untuk memahami apa yang sedang terjadi. Mereka juga harus dapat membuat prakiraan secara probabilistik mengenai apa yang mungkin terjadi, baik dalam konteks erupsi maupun gempa.

Namun, pada akhirnya, semua itu harus sampai kepada masyarakat. Narasumber menegaskan bahwa jika ilmuwan mengetahui semuanya tetapi tidak mampu mengkomunikasikan informasi itu kepada orang terakhir yang tinggal di dekat gunung api, maka pengetahuan tersebut menjadi tidak berguna.

Inilah pelajaran terbesar untuk Indonesia. Mitigasi bencana gunung api tidak boleh berhenti pada teknologi. Sirene, sensor, pos pemantauan, peta bahaya, dan sistem informasi hanya efektif jika masyarakat tahu artinya dan tahu apa yang harus dilakukan. Informasi teknis harus diterjemahkan menjadi tindakan praktis: kapan harus menjauh, jalur mana yang harus digunakan, barang apa yang perlu disiapkan, siapa yang harus dibantu terlebih dahulu, dan kapan tidak boleh kembali ke zona bahaya.

Pendidikan publik juga harus berulang, bukan hanya dilakukan setelah terjadi krisis. Anak sekolah, keluarga, tokoh masyarakat, pengelola wisata, petani, dan pelaku usaha di kawasan gunung api perlu memahami bahwa hidup di sekitar gunung api berarti hidup dengan manfaat sekaligus risiko. Tanah yang subur, pariwisata, dan sumber daya alam harus diimbangi dengan disiplin terhadap peringatan bencana.

Indonesia dan Tantangan Hidup di Negeri Gunung Api

Indonesia bukan sekadar memiliki “banyak” gunung api; skalanya memang luar biasa. Kementerian ESDM mencatat Indonesia memiliki 127 gunung api, sekitar 70 di antaranya tergolong sangat aktif, sementara USGS (United States Geological Survey) menyebut Indonesia sebagai negara dengan aktivitas vulkanik paling tinggi di dunia jika dilihat dari 75 gunung api yang aktif secara historis. Sejarah bencana vulkanik Indonesia juga termasuk beberapa yang paling besar di dunia: Tambora pada tahun 1815 dikenal sebagai letusan eksplosif terbesar dalam sejarah modern dan diperkirakan menyebabkan sekitar 60.000 korban jiwa, Krakatau pada tahun 1883 memicu tsunami besar dengan lebih dari 36.000 korban jiwa, sementara letusan Kelud pada tahun 1919 menewaskan 5.156 orang akibat lahar panas dari danau kawah—peristiwa yang kemudian mendorong lahirnya lembaga pemantauan gunung api di Indonesia.

Risiko itu bukan hanya catatan masa lalu. Merapi pada tahun 2010 menewaskan 341 orang, menghancurkan lebih dari 2.000 rumah, dan memaksa hampir 350.000 orang mengungsi, tetapi peringatan ilmiah dan evakuasi besar-besaran juga menyelamatkan ribuan hingga puluhan ribu orang. Pada 2018, longsoran tubuh Anak Krakatau memicu tsunami Selat Sunda yang menewaskan 437 orang; pada 2021, erupsi Semeru menewaskan sedikitnya 51 orang; dan pada 2024, erupsi Gunung Ruang di Sulawesi Utara membuat lebih dari 12.000 warga dievakuasi serta memunculkan peringatan potensi tsunami akibat runtuhan material vulkanik ke laut.