Benarkah Musim Hujan, Keuangan Juga Bocor?

(Business Lounge Journal – Finance)

Wahhh… ternyata berpengaruh juga ya cuaca dan pengeluaran di musim penghujan ini. Tidak dapat dipungkiri kalau saat musim hujan, di mana curah hujan cukup sering setiap harinya, atau musim hujan yang lebih panjang dari biasanya, tanpa terasa uang juga ikut tergerus untuk hal ini dan itu, padahal hidup setiap harinya tidak banyak yang berubah.

Karena curah hujan yang konsisten ini, jika dilihat dari pengalaman sehari-hari, ada saja yang terjadi, mulai dari keterlambatan transportasi, kebutuhan makanan, bahkan sampai dengan pengeluaran untuk menunjang kesehatan. Mungkin jumlah pengeluarannya kecil-kecil, tetapi tanpa terasa hal ini membuat ada anggaran tidak terduga yang keluar setiap harinya dan membuat dana mendadak keluar terus.

Peristiwa ini bukanlah kebetulan, tetapi karena curah hujan yang cukup tinggi (cuaca ekstrem) sehingga berdampak langsung kepada manajemen keuangan yang sudah ada.

Apa saja jenis pengeluaran yang mendadak?

1. Makanan/Konsumsi

  • Menjadi lebih sering pesan makanan (jajan)
  • Membeli makanan siap saji dengan harga lebih mahal
  • Kurangnya keinginan belanja ke pasar tradisional

2. Transportasi

  • Menjadi lebih sering naik transportasi online
  • Konsumsi BBM bertambah (jalanan macet)
  • Waktu tempuh lebih lama (genangan/banjir)

3. Kesehatan

  • Sakit flu, batuk, hingga masuk angin
  • Beberapa pengeluaran untuk obat pendukung, kecil tetapi ada
  • Berobat/konsultasi ke dokter karena kesehatan

Melihat hal ini, maka bisa dilihat dari beberapa sudut pandang untuk perencanaan keuangannya:

1. Buatlah anggaran yang sifatnya musiman (bisa 2 versi):

  • Anggaran normal
  • Anggaran musim hujan (lain-lain)

Sebagai bahan pertimbangan, ada baiknya minimal ditambahkan dananya sekitar 5–10% dari total pengeluaran bulanan untuk menolong di musim penghujan ini.

2. Dana Darurat

Tidak hanya untuk mempersiapkan diri jika di-PHK, tetapi juga untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, kehilangan pekerjaan, dan lainnya. Karena secara praktiknya, dana darurat ini lebih sering terpakai untuk biaya tidak terduga, misalnya:

  • Biaya berobat ketika sakit
  • Servis kendaraan
  • Transportasi tambahan (jika diperlukan)

3. Cegah Kebocoran

Perkara jajan kecil-kecilan tetap diperhatikan dan dibatasi:

  • Camilan
  • Kopi hangat (minuman lainnya)
  • Biaya ongkir online
  • Jasa parkir dan tol

Tanpa terasa, kebocoran kecil-kecilan ini bisa mencapai angka Rp300.000–Rp700.000 per bulannya.

4. Cek Pengeluaran secara Berkala

Hal ini dapat dilakukan setiap dua minggu sekali, dengan tujuan bukan menjadi hemat yang berlebihan, tetapi:

  • Dapat mengidentifikasi setiap posnya
  • Dapat memperbaiki lebih awal sebelum terlambat

Perlu diketahui bahwa kelalaian yang membuat kita boros saat musim hujan adalah:

  1. Karena menganggap hujan sebagai sekadar faktor eksternal saja, bukan termasuk faktor finansial
  2. Tidak adanya persiapan dalam anggaran
  3. Mengambil dana darurat tanpa pencatatan
  4. Menganggap tidak bermasalah karena merasa pengeluaran kecil saja

Padahal, kalau dilihat secara akumulatif saat musim hujan turun, hal ini dapat menggerus 10–15% pengeluaran.

Karena musim tidak dapat direncanakan, tetapi keuangan dapat direncanakan.

Kita tahu bahwa musim hujan bukan menjadi musuh dalam keuangan, tetapi membuat kita belajar untuk disiplin dalam hal anggaran kita sendiri. Karena bukan soal bagaimana keluarga bertahan karena besarnya penghasilan, tetapi yang paling penting adalah bagaimana adaptif (menyesuaikan diri) ketika terjadi perubahan dalam kondisi tertentu.