(Business Lounge Journal – News and Insight)
Meta Platforms berada di titik strategis yang kompleks: di satu sisi perusahaan mempercepat investasi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dalam skala raksasa, di sisi lain menghadapi sengketa pajak hampir USD 16 miliar dengan Internal Revenue Service (IRS) Amerika Serikat. Kombinasi belanja teknologi dan tekanan regulasi ini menunjukkan bagaimana era AI bukan hanya tentang inovasi, tetapi juga tentang geopolitik teknologi dan tata kelola pajak global.
Diversifikasi AI: Dari Nvidia ke AMD
Dalam langkah yang mencerminkan eskalasi perlombaan AI global, Meta baru-baru ini menandatangani perjanjian multi-tahun dengan AMD untuk mengerahkan hingga enam gigawatt GPU Instinct guna menopang gelombang berikutnya infrastruktur AI perusahaan. Pengiriman tahap awal diperkirakan dimulai pada paruh kedua 2026.
Kesepakatan ini datang hanya beberapa hari setelah Meta juga mengumumkan kontrak besar dengan Nvidia, menandai strategi diversifikasi sumber chip AI. Langkah ini mencerminkan realitas baru industri teknologi: kelangkaan chip, keterbatasan listrik data center, dan dominasi Nvidia memaksa hyperscaler seperti Meta untuk mengamankan lebih dari satu pemasok.
Struktur kesepakatan Meta–AMD juga tidak biasa. AMD memberikan warrant saham berbasis kinerja, yang akan vesting jika target pengiriman tercapai. Ini membuat hubungan pemasok–klien menjadi kontrak berbasis eksekusi, di mana kegagalan pengiriman bisa berdampak langsung pada insentif finansial.
Secara keseluruhan, nilai kontrak diperkirakan mencapai USD 60–100 miliar dalam lima tahun, sementara belanja infrastruktur AI Meta tahun ini diproyeksikan bisa mencapai USD 135 miliar—angka yang menunjukkan intensitas investasi dalam era AI generatif.
Ancaman Pajak USD 16 Miliar dan Pertarungan atas Kekayaan Intelektual
Di sisi lain, Meta juga menghadapi sengketa pajak besar dengan IRS terkait valuasi kekayaan intelektual (intellectual property/IP) yang dipindahkan ke luar negeri sejak 2010. Saat itu, Facebook (nama lama Meta) memindahkan hak teknologi ke entitas luar negeri untuk mengurangi pajak melalui struktur seperti “Double Irish.”
IRS kini menilai bahwa Meta gagal melaporkan sekitar USD 54 miliar pendapatan dan menuntut hampir USD 16 miliar pajak dan denda. Sengketa ini menyoroti perbedaan besar antara proyeksi keuntungan saat transfer IP dan keuntungan aktual yang terjadi selama lebih dari satu dekade.
Meta menentang pendekatan baru IRS yang menggunakan data profit nyata setelah transfer IP untuk menghitung pajak. Jika pendekatan ini diterima pengadilan, dampaknya bisa sangat luas, karena banyak perusahaan multinasional lain juga menggunakan struktur valuasi IP yang serupa. Bahkan ada estimasi bahwa potensi pajak tambahan di industri teknologi bisa mencapai USD 700 miliar secara agregat.
AI, Pajak, dan Masa Depan Big Tech
Kisah Meta mencerminkan dua realitas utama industri teknologi global. Pertama, AI telah menjadi proyek infrastruktur nasional bagi perusahaan teknologi, dengan skala investasi setara proyek energi atau telekomunikasi. Kedua, pemerintah mulai mengejar potensi pajak dari model bisnis digital yang selama ini memanfaatkan celah lintas yurisdiksi.
Bagi Meta, diversifikasi chip AI bukan sekadar strategi teknis, melainkan langkah geopolitik untuk mengamankan rantai pasok teknologi. Namun, pertarungan pajak menunjukkan bahwa pemerintah juga memperluas “front perang” baru terhadap Big Tech, khususnya pada valuasi aset tak berwujud seperti algoritma, data, dan perangkat lunak.
Ke depan, perusahaan teknologi global kemungkinan akan menghadapi dua tekanan simultan: kebutuhan investasi AI yang semakin besar dan pengawasan fiskal yang semakin agresif. Meta hanya menjadi studi kasus paling mencolok dari dinamika baru ekonomi digital global.

