(Business Lounge – Global News) Blackstone, manajer aset terbesar di dunia dengan dana kelolaan lebih dari $1 triliun, kembali menunjukkan ambisinya dalam sektor infrastruktur dan energi. Langkah terbaru datang lewat kesepakatan akuisisi senilai $5,7 miliar tunai atas TXNM Energy, sebuah perusahaan induk energi yang memiliki dan mengoperasikan aset jaringan energi di kawasan barat daya Amerika Serikat. Dengan transaksi ini, Blackstone Infrastructure Partners memperkuat posisinya sebagai salah satu investor terbesar dalam transisi energi dan infrastruktur Amerika Serikat.
Menurut laporan eksklusif yang dirilis oleh The Wall Street Journal, akuisisi ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Blackstone untuk mengalihkan sebagian besar modal investasinya ke aset riil, terutama yang terkait dengan kebutuhan struktural jangka panjang seperti energi, transportasi, dan air. Kesepakatan ini juga menandai salah satu transaksi infrastruktur terbesar tahun ini di tengah iklim suku bunga tinggi dan ketidakpastian geopolitik global.
TXNM Energy sendiri adalah perusahaan induk swasta yang mengelola jaringan pipa gas alam, terminal penyimpanan energi, dan fasilitas distribusi listrik yang tersebar di Texas, New Mexico, dan Arizona. Meski namanya tidak sepopuler pemain besar seperti Kinder Morgan atau Williams, TXNM memainkan peran penting sebagai penyambung distribusi energi dari pusat produksi utama AS ke berbagai wilayah konsumen. Seperti dijelaskan dalam analisis dari Bloomberg, aset TXNM sangat strategis dalam konteks pertumbuhan permintaan energi di wilayah Sun Belt, yang mencakup sejumlah negara bagian dengan populasi dan aktivitas ekonomi yang tumbuh pesat.
Blackstone melihat peluang besar di sana. Dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh Reuters, Sean Klimczak, Global Head of Infrastructure di Blackstone, menyatakan bahwa “TXNM adalah platform energi kelas dunia yang memiliki jalur pertumbuhan jangka panjang, didukung oleh tren demografis, industrialisasi, dan kebutuhan stabilitas pasokan energi di wilayah barat daya Amerika Serikat.”
Kesepakatan ini juga mencerminkan pendekatan Blackstone terhadap transisi energi: bukan semata-mata meninggalkan energi fosil secara total, melainkan membangun portofolio yang mampu mendukung stabilitas energi hari ini sambil mempercepat peralihan ke teknologi yang lebih bersih. TXNM dinilai strategis karena sebagian besar asetnya mendukung infrastruktur gas alam, yang dalam pandangan banyak analis, tetap akan menjadi “bahan bakar transisi” untuk beberapa dekade ke depan.
Menurut Financial Times, meskipun gas alam tetap menjadi sumber energi yang kontroversial karena emisinya, banyak investor besar mulai melihatnya sebagai solusi pragmatis untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara sambil menunggu kapasitas energi terbarukan menjadi lebih stabil dan terjangkau. Blackstone, lewat unit infrastrukturnya, telah mengucurkan miliaran dolar untuk pembangkit listrik tenaga surya, baterai penyimpanan, dan sistem smart grid, namun tetap memosisikan gas sebagai bagian penting dari bauran energinya.
TXNM menjadi target ideal karena kepemilikan infrastrukturnya yang sulit ditiru dan telah mendapat izin operasi jangka panjang. Seperti dijelaskan dalam laporan CNBC, aset seperti pipa transmisi, terminal gas cair, dan stasiun distribusi bukan hanya mahal untuk dibangun, tetapi juga membutuhkan proses regulasi yang panjang dan rumit. Dalam banyak kasus, membangun ulang infrastruktur seperti itu di wilayah urban hampir mustahil. Oleh karena itu, aset-aset milik TXNM dinilai sangat defensif dan cocok bagi investor institusional yang mengincar imbal hasil stabil dalam jangka panjang.
Blackstone Infrastructure Partners, yang dibentuk secara formal pada 2017, telah menjadi salah satu pilar pertumbuhan utama perusahaan induk Blackstone Inc. Unit ini secara aktif memburu aset infrastruktur global—dari jalan tol di India, menara telekomunikasi di Eropa, hingga jaringan air di Amerika Serikat. Kesepakatan dengan TXNM adalah cerminan dari transformasi besar di dunia investasi global: aset infrastruktur, yang dulu dianggap statis dan membosankan, kini menjadi “bintang” karena menjanjikan pendapatan jangka panjang dan relatif terlindungi dari volatilitas pasar saham.
Menurut analisis dari PitchBook, Blackstone termasuk pionir dalam memosisikan infrastruktur sebagai bagian dari portofolio utama bagi dana pensiun, sovereign wealth fund, dan institusi besar lainnya. Portofolio infrastrukturnya kini bernilai lebih dari $50 miliar, mencakup berbagai subsektor, dan terus tumbuh. TXNM akan menjadi bagian penting dari strategi ini, khususnya dalam konteks energi regional Amerika Serikat.
Yang juga menarik dari kesepakatan ini adalah struktur pembiayaannya. Berbeda dengan banyak akuisisi leveraged buyout (LBO) tradisional, akuisisi TXNM dilakukan dengan 100% pembayaran tunai tanpa utang tambahan, mencerminkan kekuatan likuiditas Blackstone dan kehati-hatian terhadap tekanan suku bunga. Dalam kondisi pasar saat ini, di mana pembiayaan berbasis utang menjadi lebih mahal, strategi ini dinilai cerdas. Seperti diungkapkan oleh Barron’s, banyak perusahaan ekuitas swasta kini kesulitan mengeksekusi transaksi karena bunga tinggi, tetapi Blackstone tampak tetap agresif berkat struktur modalnya yang kuat.
Reaksi dari pasar energi cukup positif. Para analis menilai bahwa kehadiran Blackstone bisa memberikan TXNM akses pada modal yang lebih besar untuk ekspansi. Dengan permintaan energi di wilayah barat daya AS yang terus meningkat—terutama karena pertumbuhan industri data center, pabrik chip, dan proyek EV—TXNM dapat memperluas jaringan infrastrukturnya lebih cepat di bawah kepemilikan Blackstone.
Namun akuisisi ini tidak lepas dari tantangan. TXNM akan tetap beroperasi dalam sektor yang secara politik dan regulasi sangat sensitif. Isu lingkungan, tekanan emisi, serta pengawasan ketat dari regulator federal dan negara bagian menjadi perhatian utama. The Guardian menyoroti bahwa organisasi lingkungan telah lama mengkritik ekspansi jaringan pipa dan menyebutnya sebagai hambatan transisi energi bersih. Blackstone akan ditantang untuk membuktikan bahwa kepemilikannya tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga konsisten dengan tujuan keberlanjutan jangka panjang.
Untuk merespons tantangan ini, Blackstone mengumumkan akan membentuk komite lingkungan dan keberlanjutan khusus untuk aset TXNM. Dalam pernyataan lanjutan yang dikutip oleh Bloomberg Green, perusahaan mengatakan akan meningkatkan pengawasan ESG, melakukan audit emisi, dan menjajaki konversi sebagian aset TXNM menjadi infrastruktur energi terbarukan di masa depan. Ini merupakan pendekatan yang serupa dengan strategi mereka di CoreTrust, portofolio jalan tol yang kini dilengkapi infrastruktur EV charging di beberapa negara.
Para investor institusional besar yang berpartner dengan Blackstone—termasuk dana pensiun Kanada dan universitas ternama di AS—diyakini akan mendorong akuntabilitas lebih tinggi terhadap ESG. Dalam laporan Harvard Business Review, disebutkan bahwa investor masa kini tidak lagi hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga menginginkan transparansi, keberlanjutan, dan kontribusi sosial dari aset yang mereka danai. Maka tak mengherankan jika dalam setiap kesepakatan strategis seperti ini, Blackstone juga harus merancang narasi publik yang meyakinkan.
Kesepakatan dengan TXNM juga terjadi di saat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi harga energi global. Meskipun aset TXNM bersifat domestik, stabilitas pasokan energi regional kini menjadi isu nasional. TXNM, dengan asetnya yang berada di pusat distribusi utama AS, dapat menjadi bagian penting dari strategi ketahanan energi nasional. Ini membuat investasi Blackstone bukan hanya relevan secara bisnis, tapi juga secara strategis dalam konteks kebijakan energi AS.
Lebih luas lagi, kesepakatan ini menunjukkan bahwa meskipun pasar modal masih diliputi kehati-hatian, sektor infrastruktur tetap menjadi primadona. Seperti dikatakan oleh Managing Director Lazard dalam wawancara dengan CNBC, “ketika volatilitas tinggi, investor besar akan mencari aset yang menghasilkan arus kas stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap siklus ekonomi.” TXNM, dan aset serupa, berada tepat di titik perpotongan antara kebutuhan jangka pendek dan fondasi ekonomi jangka panjang.
Bagi Blackstone, ini bukan sekadar akuisisi $5,7 miliar. Ini adalah sinyal bahwa mereka tidak hanya memburu pertumbuhan, tapi juga menyiapkan fondasi untuk menjadi pemimpin jangka panjang dalam transisi energi global. Dalam lanskap di mana modal besar mencari tempat berlindung yang aman dan produktif, infrastruktur energi tetap menjadi pilihan utama—dan Blackstone telah mengambil langkah pertama yang tegas untuk mendominasi wilayah ini.

