(Business Lounge Journal – Etiquette Directory)

Menjadi tailor di Indonesia selalu memiliki tantangan tersendiri; tuntutan untuk production speed pastinya selalu menjadi faktor utama, tapi di daerah seperti di Jakarta Barat atau Utara misalnya, persaingan dengan merk terkenal dan strong establishment sering kali menjadi kendala tersendiri yang mungkin lebih dirasakan kuat daripada di Jakarta Selatan atau Pusat.

Terra, tailoring house asal Jakarta Utara awalnya didirikan dari kesukaan dua pendirinya, Rio dan Arya terhadap denim; mereka sudah bergabung dengan komunitas darahkubiru sejak lama. Selang beberapa tahun di dunia denim, muncul suatu ketertarikan terhadap dunia tailoring, terutama tailoring à la Napoli, Italia – dengan ciri khas soft shoulder construction, yang terkesan lebih kasual dan relax dibandingkan dengan yang ditawarkan pada umumnya.

Sulit memang, menawarkan sesuatu yang baru – no matter how excellent it is – di daerah dimana persepsi terhadap harga, brand, dan prestige ada di atas segalanya. Ini kisah bagaimana Terra berhasil menemukan pangsa pasarnya dan tetap eksis di tengah kerasnya gempuran persepsi harga, brand, prestige, dan bagaimana komunikasi serta brand education menjadi kunci penting untuk survive di lingkungan serupa.

Disclaimer: Interview ini dilakukan sebelum masa pandemi berlangsung dan PSBB diberlakukan di Indonesia.


Special thanks to Three Folks Pesanggrahan.

Michael Judah Sumbayak adalah pengajar di Vibiz LearningCenter (VbLC) untuk entrepreneurship dan branding. Seorang penggemar jas dan kopi hitam. Follow instagram nya di @michaeljudahsumbek