(Business Lounge – Lead & Follow) Banyak perusahaan masih menganggap kesalahan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Namun penelitian Ron Friedman terhadap ribuan pekerja menunjukkan hal yang berbeda. Tim dengan performa terbaik justru tidak mengejar kesempurnaan. Mereka fokus pada pembelajaran berkelanjutan dan terus mencari cara untuk berkembang.
Ron Friedman meraih gelar Ph.D. dan Magister di bidang Psikologi Sosial dan Kepribadian dari University of Rochester. Dia adalah seorang psikolog organisasi, penulis, dan peneliti perilaku kerja yang banyak mempelajari faktor-faktor yang membedakan tim biasa dengan tim berkinerja luar biasa. Bersama tim penelitinya, ia melakukan survei terhadap ribuan pekerja dari berbagai industri untuk memahami bagaimana tim terbaik mampu mempertahankan performa tinggi dalam jangka panjang. Dari penelitian tersebut lahirlah konsep super teams, yaitu kelompok kecil tim yang memperoleh skor sempurna dalam efektivitas kerja dan pencapaian tujuan.
Untuk mengidentifikasi super teams, Friedman mengajukan dua pertanyaan utama kepada para responden. Pertama, seberapa efektif tim mereka dalam mencapai target yang telah ditetapkan. Kedua, bagaimana performa tim tersebut dibandingkan tim lain dalam industri yang sama. Dari hasil survei tersebut, muncul sekelompok kecil tim dengan penilaian tertinggi yang kemudian menjadi fokus penelitian lebih lanjut.
Friedman dan timnya tidak hanya melihat hasil akhir yang dicapai oleh tim-tim tersebut. Mereka juga mempelajari aktivitas sehari-hari yang dilakukan anggota tim, mulai dari cara mengatur waktu, mengelola energi, menjalankan rapat, berkolaborasi, hingga cara mereka beristirahat pada malam hari dan akhir pekan. Dari pengamatan tersebut muncul pola-pola yang sangat konsisten dan berbeda dibandingkan organisasi pada umumnya.
Tiga Kekuatan Utama Super Teams
Penelitian tersebut menemukan bahwa super teams memiliki tiga kekuatan utama. Pertama, mereka mampu menyelesaikan lebih banyak pekerjaan karena lebih efektif dalam mengelola waktu, energi, dan perhatian. Mereka memahami bahwa produktivitas bukan sekadar bekerja lebih lama, melainkan mengalokasikan sumber daya mental secara lebih cerdas agar dapat menghasilkan dampak yang lebih besar.
Kedua, anggota super teams tidak hanya bekerja sama dengan baik. Mereka secara aktif membantu satu sama lain menjadi lebih baik. Setiap interaksi dalam tim dipandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas kerja kolektif. Karena itu, keberhasilan tidak dipandang sebagai pencapaian individu, melainkan hasil dari kemampuan tim dalam saling memperkuat satu sama lain.
Ketiga, dan yang menjadi fokus utama pembahasan Friedman, adalah kemampuan untuk terus berkembang dari waktu ke waktu. Tim-tim terbaik tidak pernah merasa puas hanya karena berhasil mencapai target saat ini. Mereka terus mencari cara meningkatkan kemampuan, memperbaiki proses kerja, dan membangun kompetensi baru yang akan membantu mereka menghadapi tantangan masa depan.
Mengapa Perbaikan Sangat Sulit Dilakukan?
Menurut Friedman, sebagian besar perusahaan sebenarnya memahami pentingnya perbaikan berkelanjutan. Namun dalam praktiknya, proses tersebut sering kali sangat sulit diwujudkan. Penyebab utamanya adalah karena perbaikan membutuhkan dua hal yang membuat banyak organisasi tidak nyaman, yaitu risk taking dan failure.
Ketika seseorang mencoba pendekatan baru, kemungkinan melakukan kesalahan akan meningkat. Banyak perusahaan secara tidak sadar menciptakan budaya yang menghukum kesalahan sehingga karyawan memilih bermain aman. Akibatnya, orang hanya melakukan pekerjaan yang sudah mereka kuasai dan menghindari tantangan yang berpotensi menghasilkan pembelajaran baru.
Padahal proses belajar tidak dapat dipisahkan dari kemungkinan gagal. Jika anggota tim tidak merasa aman untuk melakukan kesalahan, mereka akan berhenti bereksperimen. Ketika eksperimen berhenti, pembelajaran juga berhenti. Pada akhirnya organisasi kehilangan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan bisnis.
Budaya Experimentation
Salah satu ciri paling menonjol dari super teams adalah budaya experimentation. Mereka terus melakukan berbagai percobaan kecil untuk mencari cara kerja yang lebih efektif. Alih-alih langsung berkomitmen pada keputusan besar, mereka lebih memilih menguji ide dalam skala kecil terlebih dahulu untuk memperoleh informasi tambahan.Friedman menjelaskan bahwa experiment pada dasarnya adalah pertukaran antara efisiensi dan informasi. Ketika tim melakukan percobaan, mereka mungkin kehilangan sedikit efisiensi dalam jangka pendek. Namun sebagai gantinya, mereka memperoleh pengetahuan baru yang dapat menghasilkan keputusan yang jauh lebih baik di masa depan.
Yang menarik, sebuah experiment baru layak disebut eksperimen apabila hasilnya belum diketahui. Jika seseorang sudah yakin seratus persen bahwa sesuatu akan berhasil, maka itu bukan lagi eksperimen. Justru ketidakpastian itulah yang memungkinkan tim memperoleh pembelajaran yang berharga.Bahkan ketika hasil percobaan tidak sesuai harapan, tim tetap memperoleh manfaat. Mereka mendapatkan pemahaman baru tentang apa yang tidak berhasil dan mengapa hal tersebut terjadi. Informasi tersebut menjadi modal penting untuk melakukan perbaikan berikutnya dan mengurangi kemungkinan mengulangi kesalahan yang sama.
Menjadikan Eksperimen Sebagai Rutinitas
Friedman menyarankan agar para pemimpin menjadikan eksperimen sebagai bagian dari rutinitas kerja. Salah satu cara sederhana adalah mengadakan tinjauan mingguan terhadap berbagai eksperimen yang sedang berlangsung. Dalam forum tersebut, anggota tim dapat membagikan hasil yang mereka peroleh tanpa harus khawatir dihakimi.Tujuan utama pertemuan tersebut bukan untuk menentukan siapa yang berhasil atau gagal. Tujuannya adalah menyebarkan pembelajaran kepada seluruh anggota tim.
Ketika setiap orang dapat melihat bahwa eksperimen merupakan bagian normal dari proses kerja, rasa takut terhadap kegagalan akan berkurang secara signifikan.Seiring waktu, kebiasaan ini menciptakan budaya yang menghargai rasa ingin tahu. Orang menjadi lebih berani mencoba pendekatan baru karena mereka memahami bahwa organisasi tidak hanya menghargai hasil akhir, tetapi juga proses pembelajaran yang terjadi selama perjalanan tersebut.
Aturan 85 Persen
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian Friedman adalah pentingnya tingkat keberhasilan sekitar 85 persen. Menurutnya, angka ini merupakan indikator yang sangat baik untuk menunjukkan bahwa seseorang sedang berkembang tanpa kehilangan performa tinggi yang sudah dimilikinya.Keberhasilan pada level 85 persen menunjukkan bahwa sebagian besar pekerjaan berjalan dengan baik. Namun pada saat yang sama, masih terdapat sebagian kecil kegagalan yang menandakan adanya keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru. Kegagalan tersebut menjadi sinyal bahwa seseorang sedang memperluas batas kemampuannya.
Sebaliknya, tingkat keberhasilan yang terlalu sempurna sering kali menunjukkan bahwa seseorang tidak cukup menantang dirinya sendiri. Mereka hanya memilih tugas-tugas yang sudah pasti bisa diselesaikan sehingga peluang untuk belajar menjadi jauh lebih kecil. Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat menghambat perkembangan individu maupun organisasi.
Kekuatan Feedback Seeking
Selain aktif melakukan eksperimen, super teams juga memiliki budaya feedback seeking yang sangat kuat. Penelitian Friedman menunjukkan bahwa jumlah umpan balik yang diterima anggota tim berkinerja tinggi jauh lebih besar dibandingkan tim rata-rata.Sebagian memang berasal dari pemimpin tim yang memberikan arahan secara rutin. Namun yang lebih menarik adalah tingginya jumlah feedback yang datang dari rekan kerja. Anggota tim secara aktif meminta masukan satu sama lain sebelum pekerjaan benar-benar selesai.
Mereka membagikan pekerjaan pada tahap awal, menerima berbagai saran, lalu melakukan revisi sebelum hasil akhir sampai ke tangan atasan atau klien. Akibatnya, banyak masalah dapat diperbaiki lebih awal sehingga kualitas pekerjaan meningkat secara signifikan.Budaya ini menciptakan lingkungan belajar yang jauh lebih cepat. Setiap proyek menjadi kesempatan untuk memperoleh perspektif baru dan memperbaiki kualitas hasil kerja sebelum terlambat untuk melakukan perubahan.
Cara Memberikan Feedback yang Efektif
Friedman menekankan bahwa kualitas feedback sama pentingnya dengan kuantitasnya. Feedback yang efektif selalu berorientasi pada masa depan, bukan sekadar mengungkit kesalahan yang sudah terjadi. Tujuannya adalah membantu seseorang berkembang, bukan membuatnya merasa bersalah.
Ia juga menyarankan agar pemimpin tidak memberikan daftar panjang kritik dalam satu kesempatan. Terlalu banyak masukan sekaligus justru membuat orang kewalahan dan sulit menentukan prioritas perbaikan. Fokus pada satu perubahan kecil yang paling berdampak sering kali jauh lebih efektif.
Selain itu, feedback sebaiknya disampaikan dalam bentuk percakapan. Alih-alih memberikan instruksi sepihak, pemimpin dapat mengajak anggota tim berdiskusi mengenai solusi yang mungkin dilakukan. Pendekatan ini membuat orang merasa dihargai dan lebih termotivasi untuk melakukan perubahan.
Menghargai Inovasi
Karakteristik lain yang membedakan super teams adalah kemampuan menghargai inovasi. Mereka menciptakan lingkungan yang memberi ruang bagi munculnya ide-ide baru dan memberikan insentif kepada orang yang berani mencoba pendekatan berbeda.Friedman mencontohkan perusahaan 3M yang telah bertahan selama lebih dari satu abad dan dikenal sebagai pencipta berbagai produk inovatif. Salah satu rahasia keberhasilan perusahaan tersebut adalah kemampuannya menjaga budaya inovasi tetap hidup meskipun bisnis sudah berjalan sukses.
Di 3M terdapat kebijakan yang dikenal sebagai 30% rule. Untuk memperoleh bonus, setiap divisi harus memastikan bahwa setidaknya 30 persen pendapatannya berasal dari produk yang diluncurkan dalam empat tahun terakhir. Aturan ini memaksa organisasi untuk terus memikirkan masa depan dan menghindari rasa puas diri.Kebijakan tersebut memastikan bahwa inovasi tidak menjadi proyek sampingan. Inovasi menjadi bagian langsung dari sistem penghargaan dan kinerja perusahaan sehingga seluruh organisasi memiliki kepentingan untuk terus menciptakan sesuatu yang baru.
Pentingnya Intelligent Failure
Menurut Friedman, salah satu kunci inovasi adalah kemampuan menghargai intelligent failure. Istilah ini mengacu pada kegagalan yang terjadi ketika seseorang mengambil risiko yang masuk akal, menjalankan proses dengan benar, tetapi hasil akhirnya tidak sesuai harapan.
Dalam organisasi yang sehat, intelligent failure tidak diperlakukan sebagai sesuatu yang memalukan. Justru kegagalan tersebut dihargai karena menghasilkan pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan peluang keberhasilan di masa depan.
Bahkan dalam beberapa kasus, orang yang menjalankan eksperimen berisiko tinggi tetapi menghasilkan wawasan berharga layak memperoleh penghargaan yang sama dengan mereka yang mencapai keberhasilan besar. Pendekatan ini membantu organisasi menjaga keberanian untuk terus berinovasi.
Berpikir dengan Portfolio Thinking
Friedman mengajak para pemimpin untuk meninggalkan obsesi terhadap kesempurnaan dan menggantinya dengan portfolio thinking. Konsep ini mengakui bahwa tidak semua inisiatif akan berhasil. Sebagian akan menghasilkan kesuksesan besar, sebagian lagi mungkin gagal, tetapi keseluruhannya akan mendorong kemajuan organisasi.Sama seperti portofolio investasi yang terdiri dari berbagai aset dengan tingkat risiko berbeda, organisasi juga perlu memiliki kombinasi berbagai proyek dan eksperimen. Beberapa akan memberikan hasil luar biasa, sementara yang lain hanya menghasilkan pelajaran. Keduanya tetap memiliki nilai.
Menurut Friedman, apabila sebuah tim tidak pernah mengalami kegagalan atau kemunduran, hal tersebut bukan berarti semuanya berjalan sempurna. Bisa jadi tim tersebut tidak cukup berani mengambil risiko dan tidak cukup menantang dirinya sendiri untuk berkembang.Karena itu, ukuran keberhasilan sejati bukanlah ketiadaan kegagalan, melainkan kemampuan untuk terus belajar dari setiap pengalaman. Dalam dunia yang berubah cepat, organisasi yang mampu mempertahankan budaya experimentation, feedback seeking, innovation, intelligent failure, dan portfolio thinking akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap unggul dibandingkan mereka yang hanya berusaha menjaga kesempurnaan.

