Leadership Capability – Capability 2: Mampu Mengambil Keputusan dan Menjaganya Secara Konsisten

(Business Lounge Journal – Leadership)

Dalam perjalanan kepemimpinan, visi yang kuat saja tidak cukup. Banyak organisasi memiliki arah yang jelas, tetapi kehilangan daya dorong ketika harus diterjemahkan ke dalam keputusan sehari-hari. Di titik inilah dua kemampuan penting seorang pemimpin diuji: ketegasan dalam mengambil keputusan (decisiveness) dan konsistensi dalam menjaga arah tujuan.

Visi tanpa ketegasan dan konsistensi tidak akan mencapai tujuan. Ia mungkin tetap ada sebagai gagasan, tetapi tidak akan pernah menjadi kenyataan. Ia tidak akan pernah benar-benar hidup dalam tindakan, atau akan mudah terpecah oleh tekanan jangka pendek, konflik kepentingan, maupun perubahan situasi yang tidak terduga.

Seorang pemimpin hampir selalu berada dalam ruang yang penuh tekanan dan ketidakpastian. Ada tuntutan hasil jangka pendek, ekspektasi dari berbagai pihak, godaan untuk mengambil jalan yang lebih mudah, serta situasi yang membuat arah terlihat tidak lagi jelas. Di tengah kondisi seperti ini, ketegasan dan konsistensi menjadi pembeda antara pemimpin yang hanya memiliki visi dan pemimpin yang benar-benar mampu mewujudkannya.

Ketegasan bukan berarti keras, dan konsistensi bukan berarti kaku. Ketegasan adalah kemampuan untuk mengambil keputusan yang sulit dengan cepat dan tepat, serta berani menanggung konsekuensinya. Sementara itu, konsistensi adalah kemampuan untuk tetap menjaga arah utama meskipun kondisi berubah dan hasil belum terlihat.

Pemimpin yang baik tetap membuka diri terhadap masukan, bahkan bersedia menyesuaikan strategi. Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang: arah utama yang menjadi kompas organisasi.

Berani Mengambil Keputusan di Tengah Ketidakpastian

Salah satu tantangan terbesar dalam kepemimpinan adalah keengganan untuk mengambil keputusan. Banyak organisasi gagal bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena terlalu lama berada dalam keraguan.

Dalam konteks ini, Michael Porter menegaskan bahwa:

“The essence of strategy is choosing what not to do.”

— Michael Porter

Makna dari pernyataan ini sangat jelas dalam kepemimpinan: ketegasan bukan hanya tentang apa yang dipilih untuk dilakukan, tetapi juga keberanian untuk menolak banyak hal lain yang tidak selaras dengan arah utama organisasi.

Dalam praktiknya, ketegasan terlihat dari kemampuan seorang pemimpin untuk:

  • Menentukan prioritas di tengah banyaknya pilihan.
  • Berani mengatakan “tidak” pada hal yang tidak selaras dengan visi.
  • Mengambil keputusan meskipun informasi belum sepenuhnya lengkap.
  • Menerima risiko dari keputusan yang diambil.

Ketegasan juga tercermin dari keberanian menjaga standar. Dalam banyak kasus, godaan terbesar bukanlah kegagalan besar, melainkan kompromi-kompromi kecil yang terjadi berulang kali. Menurunkan standar kualitas demi mengejar waktu, atau melonggarkan prinsip demi hasil jangka pendek, sering menjadi awal dari pergeseran arah yang lebih besar.

Dalam banyak organisasi yang kuat, prinsip ini dijaga dengan ketat. Salah satu contoh yang sering dikutip adalah filosofi Toyota yang dibangun oleh keluarga Toyoda, yang menekankan disiplin pada kualitas, perbaikan berkelanjutan, dan konsistensi proses di setiap level organisasi melalui prinsip seperti Jidoka dan Kaizen. Ketegasan dalam menjaga prinsip inilah yang membuat sistem tersebut bertahan lama.

Namun, ketidakpastian dan keraguan berkepanjangan dapat menghancurkan organisasi. Contoh yang paling jelas adalah Nokia. Pada puncaknya, Nokia mendominasi pasar ponsel global. Namun, ketika era smartphone tiba, mereka tidak berani sepenuhnya melepaskan Symbian, sempat mencoba MeeGo, lalu beralih ke Windows Phone—semuanya dalam waktu singkat tanpa konsistensi arah. Keputusan besar diambil terlalu lambat dan terlalu sering berubah. Akibatnya, posisi dominan mereka hancur dalam beberapa tahun, dan bisnis ponsel mereka akhirnya diakuisisi oleh Microsoft.

Nokia bukan kekurangan bakat atau sumber daya—mereka kekurangan ketegasan dan konsistensi arah pada saat yang paling menentukan.

Konsistensi di Tengah Tekanan dan Perubahan

Jika ketegasan adalah kemampuan memulai arah yang benar, maka konsistensi adalah kemampuan untuk tetap berada di jalur tersebut dalam jangka panjang. Banyak pemimpin memiliki visi yang baik, tetapi kehilangan konsistensi ketika menghadapi tekanan. Mereka mudah berubah arah ketika hasil tidak segera terlihat atau ketika situasi menjadi sulit. Konsistensi berarti tetap bergerak menuju tujuan utama, bahkan ketika motivasi menurun atau kondisi tidak mendukung. Di dalamnya terdapat unsur penting seperti integritas dan ketekunan. Tim akan lebih mudah bekerja ketika mereka memahami bahwa pemimpinnya tidak berubah secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.

Hal ini sejalan dengan pandangan Jim Collins yang menyatakan bahwa:

“Greatness is not a function of circumstance. Greatness, it turns out, is largely a matter of conscious choice and discipline.”

— Jim Collins

Pernyataan ini menegaskan bahwa konsistensi bukan hasil dari kondisi yang ideal, melainkan hasil dari pilihan sadar dan disiplin yang dijaga dalam jangka panjang.

Contoh lain dapat dilihat pada Satya Nadella, CEO Microsoft sejak 2014. Ia adalah seorang eksekutif teknologi asal India yang bergabung dengan Microsoft sejak awal 1990-an dan kemudian dipercaya memimpin perusahaan tersebut di tengah fase perubahan besar dalam industri teknologi. Ketika Nadella mengambil alih kepemimpinan, Microsoft menghadapi tantangan dalam inovasi dan budaya organisasi. Banyak organisasi dalam posisi seperti ini cenderung melakukan perubahan arah yang cepat dan reaktif. Namun, pendekatan Nadella berbeda. Ia tidak mengubah arah secara sporadis, tetapi membangun konsistensi pada fokus utama: penguatan cloud computing, pengembangan ekosistem kolaborasi, dan transformasi budaya menuju growth mindset.

Perubahan yang dilakukan bukan perubahan sesaat, melainkan konsistensi arah yang dijaga dalam jangka panjang—mulai dari cara kerja internal, cara tim berkolaborasi, hingga arah pengembangan produk.

Hasilnya tidak instan. Namun, konsistensi tersebut secara bertahap mengubah Microsoft menjadi salah satu perusahaan teknologi paling bernilai di dunia dengan posisi yang sangat kuat di industri cloud global.

Pada akhirnya, konsistensi menjadi “lem” yang menghubungkan visi dengan realitas.

Contoh ini juga dapat dilihat di Indonesia. William Tanuwijaya, pendiri Tokopedia, memulai perjalanannya pada tahun 2009. Saat itu, konsep e-commerce di Indonesia masih dianggap tidak realistis. Banyak orang meragukan apakah masyarakat Indonesia mau bertransaksi secara daring. Alih-alih tergoda menjadi reseller cepat atau beralih ke model bisnis yang lebih mudah menghasilkan uang, William tetap konsisten pada visinya: membangun platform e-commerce yang menghubungkan jutaan penjual dan pembeli di seluruh Indonesia.

Ia tidak mengubah arah ketika pendanaan sulit didapat. Ia tidak menurunkan standar ketika kompetitor muncul dengan strategi yang berbeda. Konsistensinya dalam membangun infrastruktur teknologi, ekosistem penjual, dan kepercayaan konsumen akhirnya membuahkan hasil. Tokopedia berkembang menjadi salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia, dan kesuksesannya menjadi inspirasi bagi banyak startup lokal.

Memberikan Kepastian kepada Organisasi

Dalam organisasi, ketegasan dan konsistensi bukan hanya berdampak pada arah strategi, tetapi juga pada stabilitas psikologis tim.

Tim akan merasa lebih tenang ketika:

  • Arah organisasi jelas.
  • Standar tidak berubah-ubah.
  • Keputusan tidak bergantung pada suasana hati pemimpin.

Sebaliknya, pemimpin yang hari ini mengatakan A dan besok mengatakan B akan menciptakan kebingungan, bahkan ketidakpercayaan. Dalam jangka panjang, organisasi menjadi sulit bergerak karena kehilangan kepastian. Ketegasan yang konsisten menciptakan rasa aman, stabilitas, dan disiplin kolektif.

Dalam sebuah diskusi dengan seorang Wakil Direktur Utama bank swasta besar, kami membahas exceeding customer satisfaction. Ketika ditanya apa satu faktor utama yang membuat nasabah puas terhadap layanan bank, jawabannya sederhana: kepastian.

Tanpa kepastian, nasabah akan pergi. Hal yang sama berlaku dalam kepemimpinan.

Konsistensi antara Standar dan Tindakan

Salah satu aspek paling penting dalam kepemimpinan adalah kesesuaian antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan. Di sinilah prinsip walk the talk bersinggungan dengan kemampuan ini.

Ketika seorang pemimpin menekankan pentingnya disiplin, kualitas, atau integritas, tetapi tidak menjalankannya sendiri, maka pesan tersebut akan kehilangan kekuatan. Dalam praktiknya, tim lebih percaya pada tindakan dibandingkan kata-kata.

Konsistensi antara standar dan tindakan inilah yang membangun kredibilitas jangka panjang seorang pemimpin.

Ketegasan dalam Praktik Nyata

Dalam dunia bisnis dan organisasi, ketegasan dan konsistensi sering muncul dalam keputusan-keputusan yang tidak selalu populer, misalnya:

  • Menolak proyek yang menguntungkan tetapi tidak selaras dengan visi.
  • Menjaga standar kualitas meskipun biaya meningkat.
  • Menolak kompromi dan keuntungan sesaat yang merusak reputasi jangka panjang.
  • Menjaga budaya transparansi bahkan ketika kondisi organisasi sedang tidak ideal.

Dalam situasi krisis, ketegasan juga terlihat dari kemampuan mengambil keputusan yang tidak nyaman, seperti mengurangi fasilitas pimpinan sebelum melakukan pengurangan pada level karyawan, atau memutus hubungan dengan mitra yang tidak etis meskipun secara finansial menguntungkan.

Sisi Lain dari Ketegasan dan Konsistensi

Namun, ketegasan dan konsistensi juga memiliki sisi yang perlu diwaspadai. Ketegasan yang tidak disertai kebijaksanaan dapat berubah menjadi keras kepala, sementara konsistensi yang tidak disertai refleksi dapat berubah menjadi kekakuan.

Dalam kondisi seperti ini, pemimpin dapat menjadi terlalu sulit menerima masukan atau terlalu terikat pada cara tertentu meskipun situasi sudah berubah.

Karena itu, penting untuk membedakan antara:

  • Prinsip yang harus dijaga secara konsisten.
  • Strategi yang masih dapat disesuaikan dengan konteks.

Tujuan utama boleh tetap sama, tetapi cara mencapainya dapat berkembang mengikuti situasi. Karena itu, pemimpin yang tegas justru perlu memiliki fleksibilitas dalam pendekatannya tanpa kehilangan prinsip yang menjadi kompas utama.

Lalu, kapan seorang pemimpin seharusnya bertahan dan kapan seharusnya menyesuaikan?

Tetap konsisten ketika tekanan datang dari hasil jangka pendek, kebisingan pasar, keraguan internal tim, atau godaan kompromi kecil. Ini adalah ujian keteguhan—saat arah sudah benar, tetapi hasil belum terlihat.

Bijak untuk menyesuaikan strategi ketika fundamental eksternal benar-benar berubah secara struktural: teknologi disruptif yang mengubah cara industri bekerja, regulasi besar yang mengubah aturan permainan, atau pergeseran pasar yang tidak dapat dihindari. Dalam situasi seperti ini, bertahan pada cara lama bukanlah konsistensi, melainkan kekakuan.

Membedakan keduanya adalah tanda kebijaksanaan seorang pemimpin. Consistency adalah komitmen pada tujuan; flexibility adalah kecerdasan dalam cara mencapainya.

Ketegasan membuat seorang pemimpin mampu bergerak, sementara konsistensi membuat arah tersebut bertahan.

Ketegasan menarik perhatian, tetapi konsistensi membuat orang tetap percaya dan bertahan. Di antara keduanya, terdapat kemampuan seorang pemimpin untuk menjaga arah tetap stabil di tengah dunia yang terus berubah.

Pemimpin yang efektif bukan hanya mampu mengambil keputusan sulit, tetapi juga mampu menjaga keputusan tersebut tetap hidup dalam tindakan jangka panjang. Ia tahu kapan harus tegas, kapan harus konsisten pada arah yang telah dipilih, dan kapan harus fleksibel tanpa kehilangan prinsip yang menjadi arah utama.

Jika Capability 1 membahas tentang kemampuan melihat arah yang benar—visi yang membakar dan membimbing—maka Capability 2 adalah kemampuan untuk benar-benar berjalan di arah tersebut. Visi tanpa ketegasan adalah impian. Ketegasan tanpa konsistensi adalah berita sesaat. Kedua kemampuan ini harus bekerja bersama: visi menunjukkan ke mana, ketegasan memutuskan untuk berangkat, dan konsistensi memastikan kita sampai.

Sekarang Giliran Anda

Kemampuan untuk tegas dan konsisten bukanlah bakat bawaan semata—melainkan kebiasaan yang dapat dilatih dan diperkuat dari waktu ke waktu. Cobalah luangkan waktu sejenak untuk menanyakan kepada diri sendiri:

  1. Keputusan apa yang saat ini sedang Anda tunda-tunda? Apa yang membuat Anda ragu—kurangnya informasi, ketakutan akan konsekuensi, atau keinginan untuk menyenangkan semua pihak?
  2. Jika Anda bertanya kepada tim Anda, apakah mereka dapat memprediksi arah keputusan Anda enam bulan ke depan? Ataukah mereka merasa arah organisasi sering berubah tergantung suasana dan tekanan?
  3. Kapan terakhir kali Anda dengan tegas mengatakan “tidak” pada sesuatu yang menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi tidak selaras dengan arah jangka panjang organisasi?

Ketiga pertanyaan ini bukan untuk dinilai benar atau salah, melainkan untuk membantu Anda melihat di mana posisi Anda sekarang dan di mana Anda ingin bertumbuh selanjutnya.

Baca juga: Leadership Capability – Capability 1: Visi