UPS

UPS Memangkas Amazon, Mengejar Margin Lebih Tinggi

(Business Lounge – Global News) United Parcel Service (UPS) sedang menjalankan salah satu perubahan strategi paling besar dalam sejarah bisnisnya: mengurangi ketergantungan terhadap Amazon, salah satu pelanggan terbesar perusahaan, dan memilih mengejar kualitas pendapatan dibandingkan sekadar memperbesar volume paket. Di bawah CEO Carol Tomé, strategi itu dikenal dengan gagasan “better, not bigger”. UPS secara bertahap memangkas volume paket Amazon dan pada 2026 telah menyelesaikan pengurangan lebih dari 50% dibandingkan level 2024. Langkah tersebut bukan keputusan sederhana karena Amazon merupakan pelanggan yang sangat besar bagi jaringan UPS, tetapi manajemen melihat bahwa setiap paket tidak memiliki nilai ekonomi yang sama. Volume yang tinggi dapat memenuhi jaringan distribusi, kendaraan, pusat sortir, dan tenaga kerja, tetapi belum tentu menghasilkan margin yang sepadan.

Keputusan tersebut sekaligus mengubah cara melihat bisnis logistik modern. Selama bertahun-tahun, perusahaan pengiriman seperti UPS identik dengan skala: semakin banyak paket yang masuk ke jaringan, semakin besar pula pendapatan yang dapat dihasilkan. Namun model itu menjadi semakin rumit ketika pelanggan raksasa mampu menegosiasikan harga berdasarkan volume yang sangat besar. Dalam kasus Amazon, persoalannya bukan kemampuan UPS menangani paket, melainkan apakah tambahan volume tersebut memberikan keuntungan yang cukup setelah memperhitungkan biaya tenaga kerja, kendaraan, bahan bakar, fasilitas sortir dan kapasitas jaringan. The Wall Street Journal menggambarkan strategi Tomé sebagai upaya mengurangi volume Amazon secara drastis untuk mengembalikan pertumbuhan margin operasi perusahaan.

Strategi “better, not bigger” karena itu bukan berarti UPS ingin menjadi perusahaan yang lebih kecil. Dalam laporan tahunannya, UPS menegaskan bahwa arah tersebut bukan tentang menyusutkan perusahaan, melainkan mengalihkan pertumbuhan menuju bagian pasar yang dianggap memiliki karakter ekonomi berbeda, termasuk pelanggan enterprise, usaha kecil dan menengah, B2B, layanan kesehatan, serta bisnis internasional. Dengan kata lain, paket yang ingin dikejar adalah paket yang memberikan kontribusi lebih baik terhadap profitabilitas. Perusahaan juga menyebut tujuan akhirnya sebagai pertumbuhan pendapatan dan ekspansi margin operasi setelah restrukturisasi jaringan selesai.

Perubahan tersebut membutuhkan waktu karena jaringan UPS dibangun untuk menangani volume dalam skala yang sangat besar. Mengurangi jutaan paket per hari tidak sekadar berarti menghapus transaksi dari laporan penjualan. Infrastruktur yang sebelumnya digunakan untuk memproses paket harus disesuaikan. UPS mengatakan pengurangan volume Amazon mencapai sekitar 2 juta paket per hari dan berlangsung bersamaan dengan konfigurasi ulang jaringan. Perusahaan mengurangi kapasitas tertentu, mengonsolidasikan fasilitas, mengubah penggunaan kendaraan dan pesawat, serta mempercepat otomatisasi. Dengan demikian, jaringan yang lebih kecil dapat disesuaikan dengan komposisi volume baru.

Di balik perubahan itu terdapat persoalan klasik dalam bisnis logistik: utilisasi tinggi tidak selalu sama dengan profitabilitas tinggi. Sebuah pusat distribusi yang penuh mungkin terlihat produktif, tetapi jika sebagian besar paket menghasilkan margin tipis, perusahaan dapat menghadapi situasi ketika kapasitasnya habis sementara ruang untuk menerima bisnis dengan margin lebih tinggi menjadi terbatas. UPS berusaha membalik logika tersebut. Alih-alih memenuhi jaringan dengan sebanyak mungkin paket, perusahaan ingin mengalokasikan kapasitas kepada volume yang memberikan imbal hasil lebih baik.

Dampak awal dari strategi tersebut mulai terlihat pada kinerja 2026. Pada kuartal kedua, pendapatan konsolidasi UPS mencapai US$22,8 miliar. Pendapatan naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara laba operasi yang disesuaikan secara non-GAAP mencapai US$2,1 miliar. Margin operasi konsolidasi yang disesuaikan berada di 9,2%. Pendapatan segmen domestik Amerika Serikat juga meningkat 6%, terutama karena pendapatan per paket naik 9,3%. Angka tersebut penting karena menunjukkan pergeseran dari mengejar volume menuju peningkatan nilai ekonomi setiap paket.

Namun transformasi tersebut tidak datang tanpa biaya. Pada kuartal kedua 2026, UPS mencatat beban transformasi setelah pajak sebesar US$891 juta, terutama terkait biaya pemisahan karyawan dari program pengurangan tenaga kerja. Restrukturisasi jaringan juga berarti perubahan fasilitas, armada, proses kerja dan organisasi. Perusahaan harus membayar biaya untuk mengubah sistem lama sebelum manfaat dari struktur baru dapat sepenuhnya terlihat. Ini menjelaskan mengapa strategi yang secara operasional terlihat masuk akal tetap membutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan dampak keuangan yang konsisten.

Tomé juga harus menghadapi kenyataan bahwa Amazon bukan sekadar pelanggan biasa. Amazon memiliki kemampuan membentuk volume pengiriman dalam jumlah sangat besar dan memiliki ekosistem logistiknya sendiri yang terus berkembang. Ketika UPS mengurangi ketergantungannya terhadap Amazon, hubungan kedua perusahaan juga memasuki fase yang berbeda. UPS harus menggantikan sebagian volume yang hilang dengan bisnis lain, sementara Amazon dapat terus memperluas kemampuan logistik internal dan jaringan pengirimannya sendiri. Karena itu, keberhasilan strategi UPS tidak cukup diukur dari seberapa cepat volume Amazon turun, tetapi dari seberapa cepat kapasitas yang dilepaskan dapat digunakan untuk bisnis dengan kualitas pendapatan lebih baik.

Fokus baru tersebut juga terlihat dalam pengembangan jaringan internasional dan layanan bernilai tambah. Pada kuartal kedua 2026, pendapatan bisnis internasional UPS meningkat 12,5%, didorong oleh kenaikan pendapatan per paket sebesar 18,9%. Sementara itu, bisnis Supply Chain Solutions mencatat pertumbuhan pendapatan 7,8%, dengan pertumbuhan terutama berasal dari forwarding dan logistics, termasuk sektor healthcare. Perkembangan tersebut memberi gambaran mengenai jenis bisnis yang ingin diperbesar UPS: bukan hanya mengangkut lebih banyak paket, tetapi menyediakan layanan logistik yang memiliki nilai lebih tinggi bagi pelanggan.

UPS kini juga mulai memasuki fase setelah restrukturisasi Amazon selesai. Pada Juli 2026, perusahaan menyatakan telah menyelesaikan “Amazon glide down” dan konfigurasi ulang jaringan terkait. Untuk periode berikutnya, manajemen menaikkan proyeksi pendapatan 2026 menjadi sekitar US$91,2 miliar dan target laba operasi yang disesuaikan menjadi sekitar US$8,65 miliar. Perusahaan juga menaikkan panduan laba per saham yang disesuaikan menjadi sekitar US$7,22. Dengan demikian, semester kedua 2026 dipandang sebagai periode yang lebih mencerminkan struktur bisnis UPS setelah perubahan besar tersebut.

Yang menarik dari strategi UPS adalah perubahan cara perusahaan mendefinisikan pertumbuhan. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan perusahaan logistik dapat dengan mudah diasosiasikan dengan jumlah paket yang dikirim. Kini ukuran tersebut menjadi lebih kompleks. Pendapatan per paket, margin, jenis pelanggan, penggunaan aset dan kebutuhan modal menjadi sama pentingnya dengan volume. Strategi Tomé menunjukkan bahwa perusahaan dapat memilih untuk kehilangan sebagian pendapatan jika volume yang hilang tersebut membuka ruang bagi bisnis dengan ekonomi yang lebih baik.

Bagi industri logistik, perubahan UPS juga mencerminkan tekanan yang semakin besar terhadap perusahaan pengiriman dalam menghadapi pelanggan e-commerce raksasa. Skala tetap penting, tetapi skala tanpa margin dapat menjadi beban. UPS sedang mencoba membuktikan bahwa jaringan yang lebih ramping, lebih otomatis dan lebih selektif dapat menghasilkan bisnis yang lebih sehat. Tantangannya sekarang adalah mengisi kapasitas yang telah dibebaskan dengan pelanggan dan jenis pengiriman yang mampu memberikan nilai lebih tinggi. Jika transformasi itu berhasil dieksekusi, kisah UPS bukan lagi tentang berapa banyak paket yang dapat dikirim, melainkan tentang berapa banyak nilai ekonomi yang dapat diciptakan dari setiap bagian jaringan yang dimilikinya.