(Business Lounge-Kolom) Apakah negara dengan biaya hidup mahal otomatis memiliki sekolah yang lebih baik? Sekilas, jawabannya mungkin iya. Negara-negara kaya biasanya mempunyai fasilitas pendidikan yang lebih lengkap, teknologi pembelajaran yang lebih maju, serta kemampuan menyediakan guru dan sumber belajar dengan kualitas tinggi. Namun, jika berbagai sistem pendidikan dunia dibandingkan, hubungan antara kemakmuran dan prestasi siswa ternyata jauh lebih rumit. Ada negara dengan biaya hidup relatif rendah yang mampu menghasilkan siswa berprestasi tinggi, sementara sejumlah negara mahal tidak menunjukkan hasil belajar yang sebanding dengan tingkat kemakmurannya.
Gambaran menarik ini muncul dalam infografis Best & Worst Education Systems: Cost of Living vs Education karya @creative.wam, dengan data yang dikreditkan kepada Valeni Emeliancy. Grafik tersebut memetakan lebih dari 70 negara berdasarkan dua indikator: perkiraan biaya hidup keluarga dan capaian akademik siswa berusia 15 tahun. Hasilnya bukan sekadar daftar negara dengan sekolah terbaik atau terburuk, melainkan sebuah peta yang mengundang pertanyaan lebih mendasar. Mengapa sebagian negara mampu menghasilkan prestasi akademik tinggi tanpa biaya hidup yang mahal? Sebaliknya, mengapa kemakmuran tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran?

Dua Sumbu yang Mengungkap Perbedaan
Infografis tersebut menggunakan scatter plot, yaitu diagram sebar yang menempatkan setiap negara sebagai satu titik, dalam hal ini diwakili oleh bendera. Sumbu horizontal menunjukkan perkiraan pengeluaran bulanan keluarga, sedangkan sumbu vertikal menggambarkan skor prestasi siswa. Semakin ke kanan, semakin mahal biaya hidup. Semakin tinggi posisi sebuah negara, semakin baik hasil belajar yang ditunjukkan oleh indikator grafik.
Angka biaya hidup dikaitkan dengan Numbeo, sebuah basis data internasional yang menghimpun informasi harga barang dan jasa dari kontribusi pengguna. Estimasi pengeluaran keluarga berempat yang ditampilkan Numbeo dapat memberikan gambaran tentang perbedaan tingkat harga antarnegara, tetapi tidak sama dengan pengeluaran rata-rata resmi yang dihitung oleh badan statistik nasional. Angka tersebut juga bukan ukuran langsung mengenai berapa banyak uang yang dikeluarkan pemerintah untuk pendidikan atau yang dibayarkan orang tua untuk sekolah.
Sementara itu, Programme for International Student Assessment (PISA) mengukur kemampuan siswa berusia sekitar 15 tahun dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi persoalan kehidupan nyata. Asesmen yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) ini mencakup sains, matematika, dan membaca, bukan sekadar kemampuan mengingat pelajaran. PISA menilai sejauh mana siswa mampu memahami informasi, menalar persoalan, membaca bukti, serta menerapkan pengetahuan yang telah dipelajari.
Hasil PISA 2025 dirilis pada 8 September 2026. OECD menyatakan asesmen tersebut melibatkan sekitar 760.000 siswa dari 91 negara dan ekonomi. Sains menjadi bidang utama, sementara matematika dan membaca menjadi bidang pendukung. Hasilnya memperlihatkan bahwa sejumlah negara masih mampu mempertahankan prestasi akademik tinggi, tetapi banyak sistem pendidikan juga menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan kemampuan dasar siswa.
Perlu dicatat bahwa skor yang terlihat dalam infografis tidak boleh langsung dianggap sebagai skor resmi PISA 2025. Grafik tidak menjelaskan secara memadai apakah sumbu vertikal menggunakan satu bidang penilaian, rata-rata tiga bidang, atau indeks gabungan yang dihitung oleh pembuatnya. Karena itu, angka pada grafik sebaiknya dibaca sebagai perkiraan visual untuk memahami pola, bukan sebagai pengganti tabel resmi OECD.
Untuk membantu pembacaan, grafik membagi negara-negara ke dalam empat kuadran dengan garis pemisah sekitar US$4.000 untuk biaya hidup bulanan dan skor 450 untuk prestasi akademik. Negara di kiri atas digolongkan sebagai Best Value, yakni negara dengan biaya hidup relatif rendah dan hasil belajar tinggi. Negara di kanan atas masuk kategori Strong but Expensive, sedangkan negara di kiri bawah disebut Cheap but Weak. Adapun negara di kanan bawah masuk kategori Expensive & Weak.
Pembagian tersebut memang menyederhanakan kenyataan. Namun, justru di situlah daya tariknya: grafik mendorong kita melihat bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan ekonomi sebuah negara.
Asia Timur Memperlihatkan Kekuatan Sistem Pendidikan
Kelompok negara di bagian atas grafik memperlihatkan dominasi Asia Timur. China, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura menempati posisi yang menonjol, meskipun biaya hidup dan karakter sistem pendidikan mereka berbeda.
Singapura menjadi salah satu contoh paling menarik karena mampu mempertahankan prestasi akademik yang tinggi di tengah biaya hidup yang mahal. Dalam PISA 2025, Singapura memperoleh skor 560 untuk sains, 563 untuk matematika, dan 535 untuk membaca. Negara ini juga mencatat kemampuan siswa yang relatif kuat dalam menerapkan pengetahuan, bukan hanya menguasai materi pelajaran.
B-S-J-Z di China, yang mencakup Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang, bahkan mencatat skor 597 untuk sains dan 612 untuk matematika. Namun, hasil tersebut harus dibaca secara hati-hati karena tidak mewakili keseluruhan penduduk China. Wilayah yang berpartisipasi memiliki karakter ekonomi, sosial, dan pendidikan yang tidak bisa begitu saja disamakan dengan seluruh wilayah negara tersebut.
Taiwan dan Jepang juga menunjukkan capaian yang tinggi. Dalam data PISA 2025, Taiwan memperoleh 540 untuk sains dan Jepang 538, sedangkan Korea Selatan mencatat 526. Angka-angka ini memperlihatkan bahwa beberapa sistem pendidikan Asia Timur mampu mempertahankan tingkat penguasaan akademik yang kuat dalam skala internasional.
Apa yang dapat menjelaskan pencapaian tersebut? Jawabannya tidak dapat diringkas hanya dengan menyebut jam belajar yang panjang atau ujian yang ketat. Kualitas guru, kesinambungan kurikulum, ekspektasi akademik, dukungan keluarga, kebiasaan belajar, dan cara sekolah mengidentifikasi kesulitan siswa merupakan bagian dari ekosistem yang lebih luas.
Sistem pendidikan yang baik tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga memastikan siswa memahami fondasi pengetahuan sebelum beralih ke persoalan yang lebih kompleks. Kemampuan membaca dengan baik, misalnya, berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam memahami soal matematika maupun konsep sains. Dengan kata lain, prestasi akademik terbentuk melalui keterkaitan berbagai kemampuan dasar, bukan melalui satu kebijakan yang berdiri sendiri.
Meski demikian, keberhasilan Asia Timur tidak berarti seluruh pendekatannya dapat diterapkan begitu saja di negara lain. Struktur keluarga, budaya belajar, tata kelola sekolah, dan kondisi sosial berbeda-beda. Pelajaran terpentingnya adalah bagaimana suatu negara menjaga konsistensi mutu pembelajaran dan memastikan bahwa kebijakan pendidikan benar-benar diterapkan di ruang kelas.
Eropa Membuktikan Kemakmuran Bukan Satu-satunya Penentu
Di luar Asia Timur, sejumlah negara Eropa juga menunjukkan hasil belajar yang kuat. Estonia, Polandia, Lituania, dan beberapa negara Eropa Tengah serta Timur menjadi contoh yang menarik karena capaian akademik mereka tidak selalu disertai tingkat biaya hidup setinggi Swiss, Norwegia, atau Luksemburg.
Estonia, misalnya, memperoleh skor 527 untuk sains, 508 untuk matematika, dan 499 untuk membaca dalam PISA 2025. Polandia mencatat 495 untuk sains, sedangkan Lituania memperoleh 488. Angka tersebut menempatkan mereka di atas rata-rata OECD untuk sains, meskipun kondisi ekonomi dan struktur pembiayaan pendidikan masing-masing berbeda.
Keberhasilan negara-negara ini memperlihatkan bahwa tingkat kemakmuran memang menyediakan peluang, tetapi peluang tersebut harus diterjemahkan menjadi proses belajar yang efektif. Sekolah membutuhkan guru yang mampu menjelaskan konsep dengan baik, sistem evaluasi yang membantu menemukan kelemahan siswa, serta dukungan yang memungkinkan anak dari latar belakang berbeda mendapatkan kesempatan belajar yang layak.
Estonia sering mendapat perhatian karena hasil akademiknya yang tinggi di tengah ukuran negara dan sumber daya yang relatif terbatas dibandingkan negara-negara ekonomi terbesar di Eropa. Namun, keberhasilannya tidak tepat jika hanya dijelaskan sebagai hasil dari teknologi pendidikan atau digitalisasi sekolah. Mutu pengajaran, pemerataan kesempatan, pengembangan kompetensi siswa, dan kesinambungan kebijakan juga harus diperhitungkan.
Sementara itu, negara-negara Eropa Barat dan Utara seperti Finlandia, Jerman, Belanda, Denmark, Swedia, dan Swiss tetap memiliki sistem pendidikan dengan berbagai keunggulan. Namun, negara kaya tidak selalu berada di puncak semua bidang. Swiss, misalnya, mencatat skor 501 untuk sains, 470 untuk matematika, dan 499 untuk membaca. Finlandia memperoleh 504 untuk sains, tetapi skornya dalam matematika dan membaca lebih rendah.
Perbandingan ini mengingatkan kita bahwa prestasi pendidikan memiliki banyak dimensi. Sebuah negara dapat unggul dalam satu bidang, tetapi menghadapi tantangan pada bidang lain. Karena itu, satu angka gabungan tidak selalu cukup untuk menggambarkan seluruh kualitas sistem pendidikan.
Türkiye dan Vietnam Menawarkan Pelajaran Berbeda
Türkiye merupakan contoh penting dalam pembahasan perubahan prestasi pendidikan. Dalam PISA 2025, negara ini mencatat skor 494 untuk sains, 472 untuk matematika, dan 462 untuk membaca. Hasil tersebut menunjukkan capaian yang relatif baik dibandingkan banyak negara berpendapatan menengah, walaupun masih terdapat perbedaan antarbidang.
Perbandingan dengan siklus sebelumnya juga perlu dilakukan berdasarkan skor resmi dan perubahan pada setiap bidang, bukan hanya perubahan peringkat. Posisi suatu negara dalam peringkat internasional dapat berubah karena hasil negara lain ikut naik atau turun. Peningkatan peringkat tidak selalu berarti peningkatan kemampuan siswa dalam jumlah yang sama.
Vietnam menawarkan pelajaran lain. Negara ini sering menarik perhatian karena capaian pendidikan yang relatif kuat dibandingkan tingkat pendapatan per kapitanya. Dalam PISA 2025, Vietnam memperoleh skor 457 untuk sains. Hasil tersebut memperlihatkan bahwa keterbatasan ekonomi tidak otomatis menghalangi sebuah negara untuk membangun kemampuan akademik yang kompetitif.
Namun, skor Vietnam juga tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh sekolah di negara itu memiliki kualitas seragam. Seperti banyak negara lain, perbedaan wilayah, latar belakang keluarga, akses terhadap sumber belajar, dan kondisi sekolah tetap memengaruhi pengalaman pendidikan siswa.
Pelajaran dari Türkiye dan Vietnam bukanlah bahwa biaya rendah selalu menghasilkan pendidikan yang lebih baik. Yang lebih penting adalah bagaimana kebijakan diterjemahkan menjadi pembelajaran yang konsisten. Penambahan anggaran dapat membantu menyediakan guru, ruang kelas, buku, dan teknologi, tetapi dampaknya bergantung pada cara sumber daya tersebut digunakan.
Dalam konteks ini, berbagai kajian internasional semakin menekankan pentingnya kualitas pembelajaran, bukan sekadar akses ke sekolah. Anak yang hadir di kelas belum tentu memperoleh kemampuan yang sesuai dengan usianya. Tantangan utama sistem pendidikan adalah memastikan bahwa waktu belajar benar-benar menghasilkan pengetahuan dan keterampilan.
Indonesia Menghadapi Tantangan yang Lebih Mendasar
Posisi Indonesia dalam infografis tersebut terlihat kurang menguntungkan: biaya hidup relatif rendah, tetapi skor akademik berada di kelompok bawah. Namun, gambaran ini perlu diperiksa menggunakan data resmi agar pembaca tidak mengambil kesimpulan berdasarkan perkiraan visual semata.
Hasil PISA 2025 Indonesia menunjukkan skor 389 untuk sains, 365 untuk membaca, dan 364 untuk matematika. Dibandingkan PISA 2022, skor sains dan membaca masing-masing naik enam poin, sedangkan matematika turun dua poin. Perubahan tersebut memberikan gambaran yang lebih lengkap daripada sekadar posisi dalam sebuah grafik. Ada perbaikan pada kemampuan membaca dan sains, tetapi hasil matematika menunjukkan bahwa kemajuan belum berlangsung secara merata.
Indonesia masih menghadapi pekerjaan besar untuk memperkuat kemampuan dasar yang menjadi fondasi pembelajaran di jenjang berikutnya. Persoalannya juga tidak bisa dilepaskan dari kesenjangan antardaerah. Pengalaman belajar siswa di perkotaan dengan fasilitas relatif lengkap dapat berbeda jauh dari pengalaman siswa di daerah yang menghadapi keterbatasan guru, transportasi, akses internet, atau bahan bacaan. Bahkan dalam satu kota, mutu sekolah dan dukungan keluarga dapat menciptakan perbedaan kesempatan yang besar.
Di sinilah biaya hidup perlu dibedakan dari kapasitas pendidikan. Harga barang dan jasa yang rendah tidak otomatis berarti sekolah dapat menyediakan pendidikan berkualitas dengan biaya rendah. Sebaliknya, pendapatan keluarga yang terbatas dapat membuat pembelian buku, akses internet, les tambahan, dan lingkungan belajar yang kondusif menjadi lebih sulit dijangkau.
Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya meningkatkan jumlah fasilitas atau memperluas akses digital. Yang lebih mendasar adalah memastikan siswa menguasai kemampuan membaca, berhitung, dan bernalar sejak pendidikan dasar. Guru perlu memperoleh dukungan profesional yang berkelanjutan, sementara sekolah harus mampu mendeteksi kesulitan belajar sebelum masalah tersebut berkembang menjadi ketertinggalan yang lebih besar.
Bagi pembuat kebijakan, angka rata-rata nasional seharusnya menjadi titik awal untuk menyelidiki masalah, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pemerintah perlu mengetahui kelompok siswa mana yang mengalami kesulitan, wilayah mana yang membutuhkan dukungan tambahan, dan metode pembelajaran apa yang terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan dasar. Dengan pendekatan tersebut, anggaran pendidikan dapat diarahkan kepada persoalan yang paling membutuhkan penyelesaian.
Mengapa Negara Kaya Tidak Selalu Menghasilkan Prestasi Tertinggi?
Bagian kanan bawah infografis menempatkan beberapa negara berbiaya hidup tinggi tetapi dengan skor yang relatif rendah menurut ambang grafik. Islandia, Uni Emirat Arab, Qatar, Malta, dan Siprus termasuk dalam kelompok yang menarik perhatian.
Namun, menyebut negara-negara tersebut sebagai sistem pendidikan yang gagal hanya berdasarkan posisi dalam diagram merupakan kesimpulan yang terlalu jauh. Biaya hidup tidak sama dengan belanja pendidikan, dan belanja pendidikan tidak selalu sama dengan efektivitas pengajaran.
Harga perumahan, transportasi, makanan, dan jasa dapat membuat biaya hidup suatu negara sangat tinggi. Sebagian faktor tersebut tidak berhubungan langsung dengan kemampuan siswa dalam membaca atau memecahkan persoalan matematika. Negara dengan harga properti mahal, misalnya, tidak otomatis memiliki guru yang lebih efektif daripada negara dengan biaya perumahan lebih rendah.
Demikian pula, pengeluaran pemerintah untuk pendidikan perlu dinilai berdasarkan cara penggunaannya. Belanja yang besar dapat diperlukan untuk membayar tenaga pengajar, menjaga sekolah di wilayah terpencil, mendukung siswa berkebutuhan khusus, atau menyediakan pendidikan bagi kelompok yang sebelumnya tidak terjangkau. Tujuan pemerataan seperti ini tidak selalu tercermin dalam satu skor akademik.
Sebaliknya, belanja yang meningkat belum tentu menghasilkan kemajuan apabila pengelolaannya tidak tepat. Sekolah bisa memiliki perangkat digital tetapi tidak menggunakannya secara efektif. Guru bisa mengikuti pelatihan tanpa mendapatkan dukungan untuk menerapkan metode baru. Kurikulum dapat diperbarui, tetapi perubahan itu tidak banyak berarti jika siswa belum menguasai kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk mengikutinya.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan berapa banyak uang yang dibelanjakan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah investasi tersebut meningkatkan kemampuan siswa, memperkecil kesenjangan, dan memastikan lebih banyak anak mencapai tingkat kompetensi minimum.
Ketimpangan dan Kualitas Pembelajaran Menjadi Kunci
Salah satu pelajaran utama dari perbandingan internasional adalah bahwa rata-rata nasional dapat menyembunyikan kesenjangan yang besar. Dua negara dengan skor rata-rata yang mirip belum tentu mempunyai persoalan pendidikan yang sama. Di satu negara, sebagian besar siswa mungkin berada pada tingkat kemampuan menengah. Di negara lain, siswa berprestasi tinggi dapat mengangkat rata-rata, sementara kelompok yang tertinggal tetap sangat besar.
Karena itu, hasil PISA sebaiknya dibaca bersama indikator pemerataan. OECD juga menganalisis hubungan antara latar belakang sosial-ekonomi dan capaian belajar, serta perbedaan hasil di antara kelompok siswa dan sekolah. Informasi semacam ini membantu menjawab apakah sistem pendidikan berhasil menyediakan kesempatan yang relatif adil atau justru memperbesar keuntungan yang telah dimiliki keluarga mampu.
Persoalan tersebut relevan bagi Indonesia. Meningkatkan rata-rata skor nasional merupakan sasaran penting, tetapi peningkatan itu akan kurang bermakna jika hanya dinikmati siswa yang sejak awal memiliki akses terbaik. Kebijakan yang efektif perlu memperhatikan sekolah yang tertinggal, anak dari keluarga berpenghasilan rendah, serta wilayah yang menghadapi kekurangan tenaga pengajar dan fasilitas belajar.
Kajian internasional yang dilakukan UNESCO dan World Bank juga menempatkan kualitas pembelajaran sebagai persoalan mendasar. Perluasan akses pendidikan memang merupakan pencapaian penting, tetapi kehadiran siswa di sekolah tidak dengan sendirinya menjamin mereka memperoleh keterampilan yang dibutuhkan. Pendidikan harus menghasilkan pembelajaran yang nyata, dan proses tersebut memerlukan guru yang kompeten, bahan ajar yang sesuai, kepemimpinan sekolah yang baik, serta evaluasi yang dapat digunakan untuk memperbaiki pengajaran.
Teknologi dapat mendukung proses ini, tetapi tidak dapat menggantikan fondasi pembelajaran. Perangkat digital akan lebih berguna jika membantu siswa memahami konsep, memperoleh umpan balik, dan mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Tanpa tujuan pedagogis yang jelas, teknologi berisiko hanya menambah biaya tanpa meningkatkan hasil belajar secara berarti.
PISA 2025 Menunjukkan Tantangan Global
Persoalan pendidikan bukan hanya milik negara berpendapatan rendah atau menengah. Hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa sejumlah negara OECD juga menghadapi penurunan kemampuan akademik, khususnya dalam membaca dan matematika. OECD mencatat bahwa rata-rata kemampuan membaca dan matematika mengalami penurunan dalam periode sepuluh tahun hingga 2025. Sekitar satu dari lima siswa di negara-negara OECD berkinerja rendah pada sains, matematika, dan membaca.
Angka-angka tersebut mengingatkan bahwa kemakmuran dan sistem pendidikan yang telah mapan tidak menjamin kemampuan siswa akan terus meningkat. Perubahan pola penggunaan teknologi, lingkungan belajar, kesenjangan sosial, dan berbagai faktor lain perlu diteliti untuk memahami penyebabnya. Data PISA sendiri menunjukkan pola dan hubungan, tetapi tidak cukup untuk membuktikan bahwa satu faktor tertentu menjadi penyebab tunggal penurunan tersebut.
Sains menunjukkan gambaran yang sedikit berbeda. Prestasi rata-rata sains relatif stabil antara 2022 dan 2025 di negara-negara OECD, setelah mengalami tren penurunan pada periode sebelumnya. Perbedaan antarmata pelajaran ini memperlihatkan mengapa analisis pendidikan

