(Business Lounge-Global News) Ada ironi besar di balik perjalanan Harley-Davidson dalam perang dagang global. Perusahaan yang selama puluhan tahun membangun citra sebagai salah satu simbol paling kuat dari industri Amerika justru berulang kali menjadi sasaran ketika negara-negara lain membalas kebijakan tarif Amerika Serikat. Sepeda motor Harley-Davidson bukan sekadar produk ekspor. Di mata konsumen, merek ini melekat dengan identitas Amerika, sehingga ketika pemerintah asing mencari produk Amerika yang mudah dikenali untuk dikenai tarif pembalasan, Harley-Davidson sering berada dalam daftar tersebut. Dalam delapan tahun terakhir, perusahaan telah menanggung lebih dari US$170 juta biaya tarif pembalasan untuk menjaga agar harga ritel tidak melonjak terlalu tinggi.
Pola tersebut kembali muncul pada September 2026 ketika Kanada mengenakan tarif impor 50% terhadap sepeda motor Harley-Davidson sebagai bagian dari respons terhadap peningkatan tarif Amerika Serikat terhadap produk Kanada. Kebijakan tersebut menambah tekanan yang sebelumnya sudah dirasakan perusahaan dari Eropa. Uni Eropa pernah mengenakan tarif pembalasan 25% terhadap sepeda motor Harley pada 2018 setelah Amerika Serikat menaikkan tarif baja dan aluminium. Pada 2025, Uni Eropa kembali mengancam tarif tambahan, sementara Kanada juga sempat mengenakan beban tarif sebelum eskalasi terbaru. Bagi Harley-Davidson, persoalannya bukan lagi satu kebijakan perdagangan, melainkan rangkaian keputusan lintas negara yang dapat muncul kembali ketika hubungan dagang memburuk.
Dampaknya menjadi lebih rumit karena Harley-Davidson tetap memiliki basis produksi yang kuat di Amerika Serikat. Perusahaan menyebut sekitar 95% pendapatan sepeda motor dari konsumen Amerika berasal dari kendaraan yang dirakit di pabrik York, Pennsylvania. Produksi mesin dan komponen juga banyak dilakukan di dalam negeri. Pada saat yang sama, Harley memiliki fasilitas perakitan di Rayong, Thailand, yang digunakan untuk pasar Asia Pasifik dan Eropa. Struktur ini memberi perusahaan ruang untuk mengalihkan sebagian produksi ketika tarif membuat ekspor langsung dari Amerika Serikat menjadi terlalu mahal, tetapi sekaligus menciptakan pertanyaan mengenai bagaimana sebuah merek yang sangat identik dengan produksi Amerika dapat mengelola rantai pasokan global.
Pengalaman tahun 2018 memberikan gambaran mengenai pilihan sulit tersebut. Setelah Uni Eropa menaikkan tarif Harley-Davidson, perusahaan mulai memindahkan sebagian produksi sepeda motor untuk pasar Eropa ke Thailand. Langkah itu memungkinkan perusahaan mengurangi dampak tarif yang lebih tinggi terhadap kendaraan yang dikirim langsung dari Amerika Serikat. Namun, keputusan tersebut juga memicu perdebatan karena Harley selama bertahun-tahun membangun citra sebagai produk Amerika yang kuat. Dalam dunia manufaktur modern, identitas merek dan lokasi produksi ternyata tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Sebuah perusahaan dapat tetap menjadi ikon Amerika sekaligus membutuhkan fasilitas produksi di negara lain untuk mempertahankan akses ke pasar global.
Tekanan tarif juga datang dari sisi lain. Harley-Davidson tidak hanya menghadapi tarif pembalasan terhadap sepeda motor yang diekspor, tetapi juga harus membayar lebih mahal untuk sebagian bahan dan komponen yang masuk ke rantai produksinya. Dalam enam bulan pertama 2026, perusahaan mencatat sekitar US$67 juta biaya yang berkaitan dengan tarif baru atau tarif yang dinaikkan pada 2025 dan 2026. Harley memperkirakan total dampaknya untuk sepanjang 2026 berada di kisaran US$75 juta hingga US$90 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa perang tarif dapat menekan perusahaan dari dua arah sekaligus: produk menjadi lebih mahal ketika masuk pasar asing, sementara biaya produksi juga dapat meningkat karena bahan atau komponen terkena tarif.
Strategi Harley selama ini adalah menyerap sebagian biaya tersebut daripada langsung meneruskannya kepada konsumen. Langkah itu membantu menjaga harga ritel tetap stabil, tetapi konsekuensinya jatuh pada margin perusahaan. Dalam bisnis sepeda motor premium, keputusan harga sangat sensitif karena pembelian Harley sering kali bersifat diskresioner. Konsumen dapat menunda pembelian ketika harga meningkat atau ketika biaya pembiayaan menjadi lebih mahal. Karena itu, perusahaan harus menyeimbangkan antara mempertahankan volume penjualan dan melindungi profitabilitas. Menambahkan seluruh biaya tarif ke harga jual mungkin mempertahankan margin per unit, tetapi dapat membuat produk semakin sulit dijangkau konsumen di pasar yang sudah menghadapi tekanan ekonomi.
Kanada menjadi contoh menarik mengenai bagaimana ukuran pasar tidak selalu menentukan besarnya perhatian strategis. Kanada hanya menyumbang sekitar 4% dari pendapatan Harley-Davidson yang mencapai US$4,5 miliar pada tahun sebelumnya. Secara matematis, pasar tersebut memang bukan bagian terbesar dari bisnis perusahaan. Tetapi bagi jaringan dealer, pekerja, distributor dan konsumen lokal, tarif 50% dapat mengubah harga sepeda motor secara signifikan. Karena itu, dampak tarif tidak hanya dapat dilihat melalui persentase pendapatan sebuah negara terhadap total penjualan. Perubahan harga, margin dealer dan kemampuan konsumen membeli kendaraan dapat menciptakan efek yang lebih luas di sepanjang rantai ekonomi.
Harley juga tidak hanya menghadapi persoalan tarif dari luar negeri. Perusahaan sedang menjalankan strategi bisnis yang lebih luas untuk meningkatkan profitabilitas dan penjualan setelah menghadapi tantangan di pasar sepeda motor. Dalam laporan keuangannya, Harley menargetkan pertumbuhan penjualan dealer global dalam kisaran pertengahan satu digit dalam jangka menengah, sekaligus berusaha menekan biaya operasional Harley-Davidson Motor Company hingga di bawah 20% dari pendapatan. Strategi tersebut menunjukkan bahwa tarif hanyalah salah satu variabel dalam persoalan perusahaan. Harley harus secara bersamaan mengelola permintaan konsumen, biaya produksi, jaringan dealer, portofolio produk dan struktur manufaktur global.
Menariknya, kebijakan perdagangan juga dapat menghasilkan peluang di pasar tertentu. India, misalnya, pada 2026 menyepakati penghapusan bea masuk untuk sepeda motor Harley-Davidson berkapasitas mesin 800 hingga 1.600 cc dalam kesepakatan perdagangan sementara dengan Amerika Serikat. Perubahan seperti ini memperlihatkan bahwa tarif tidak selalu bergerak dalam satu arah. Di satu negara, tarif dapat meningkat karena pembalasan perdagangan; di negara lain, tarif justru dapat turun melalui negosiasi. Bagi produsen global seperti Harley-Davidson, kemampuan membaca perubahan tersebut menjadi semakin penting karena keputusan produksi dan distribusi harus mempertimbangkan bukan hanya permintaan pasar, tetapi juga peta kebijakan perdagangan setiap negara.
Inilah yang membuat Harley-Davidson menjadi contoh menarik dari perubahan ekonomi global. Sebuah perusahaan dapat menjadi simbol manufaktur Amerika sekaligus sangat bergantung pada perdagangan internasional. Setiap kali hubungan dagang memburuk, karakter merek yang begitu kuat justru membuat Harley mudah dikenali sebagai target tarif pembalasan. Selama delapan tahun, perusahaan telah membayar lebih dari US$170 juta untuk menyerap tarif dan menjaga harga tetap kompetitif. Kini, dengan tarif Kanada sebesar 50% dan tekanan perdagangan yang masih berubah-ubah, Harley kembali menghadapi pertanyaan lama: seberapa jauh sebuah perusahaan Amerika dapat mempertahankan produksi, harga dan identitas domestiknya ketika bisnisnya sendiri telah menjadi bagian dari jaringan ekonomi global?

