Berbicara

Berbicara Agar Orang Ingin Mendengarkan

(Business Lounge – Ideas) Cara menyampaikan pesan bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga tentang suara, kejujuran, dan cara membangun kepercayaan.Suara manusia merupakan salah satu instrumen komunikasi yang paling kuat. Melalui suara, seseorang dapat menyampaikan gagasan, memengaruhi keputusan, membangun hubungan, bahkan mengungkapkan perasaan yang sangat personal. Namun, kemampuan berbicara tidak otomatis membuat seseorang didengarkan. Banyak orang berbicara setiap hari, tetapi tidak selalu berhasil membuat orang lain benar-benar memperhatikan. Dalam presentasi, rapat, percakapan pribadi, maupun ketika menyampaikan gagasan penting, persoalannya sering bukan kekurangan kata-kata, melainkan bagaimana kata-kata tersebut disampaikan.

Julian Treasure dalam presentasinya di TED menjelaskan bahwa terdapat sejumlah kebiasaan berbicara yang secara perlahan dapat membuat orang kehilangan minat untuk mendengarkan. Salah satunya adalah gosip, yaitu membicarakan keburukan seseorang yang tidak hadir dalam percakapan. Kebiasaan ini dapat merusak kepercayaan karena pendengar akan menyadari bahwa jika orang lain dapat menjadi bahan pembicaraan ketika tidak ada, dirinya pun kemungkinan mengalami hal yang sama. Ketika kepercayaan mulai hilang, pesan yang disampaikan akan semakin sulit diterima.

Kebiasaan yang membuat suara kehilangan daya

Kebiasaan lain adalah menghakimi. Orang akan kesulitan membuka diri kepada seseorang yang terus-menerus membuat penilaian terhadap dirinya. Percakapan membutuhkan rasa aman agar seseorang bersedia mendengarkan dan didengarkan. Ketika pendengar merasa sedang dinilai atau dianggap tidak cukup baik, perhatian mereka cenderung berubah menjadi sikap defensif.

Treasure juga memasukkan negativitas dan kebiasaan mengeluh sebagai penghambat komunikasi. Keluhan memang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, tetapi jika menjadi pola utama dalam berbicara, percakapan dapat berubah menjadi penyebaran kesengsaraan. Energi negatif yang terus-menerus disampaikan membuat orang lain lelah secara emosional. Masalahnya bukan bahwa seseorang tidak boleh membicarakan sesuatu yang buruk, melainkan ketika hampir setiap hal dipandang dari sisi yang negatif tanpa memberikan ruang bagi perspektif lain.

Alasan atau excuses juga menjadi persoalan. Treasure menggambarkan orang yang selalu melemparkan kesalahan kepada pihak lain dan tidak bersedia mengambil tanggung jawab atas tindakannya. Pola seperti ini membuat pembicaraan kehilangan kredibilitas. Orang lebih mudah mempercayai seseorang yang mampu mengakui kesalahan dibandingkan seseorang yang selalu mempunyai alasan untuk menjelaskan mengapa dirinya tidak pernah bertanggung jawab.

Kemudian terdapat kecenderungan untuk melebih-lebihkan sesuatu. Penggunaan kata-kata secara berlebihan dapat membuat bahasa kehilangan maknanya. Jika segala sesuatu disebut luar biasa, menakjubkan, atau sangat ekstrem, kata-kata tersebut akhirnya tidak lagi memiliki kekuatan ketika benar-benar digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang istimewa. Dalam bentuk yang lebih jauh, exaggeration dapat berubah menjadi kebohongan. Ketika pendengar menyadari bahwa informasi yang diberikan tidak dapat dipercaya, seluruh pesan pembicara ikut kehilangan nilai.

Masalah terakhir adalah dogmatisme, yakni mencampurkan fakta dengan opini seolah-olah keduanya memiliki status yang sama. Seseorang tentu berhak memiliki pendapat, tetapi komunikasi menjadi bermasalah ketika pendapat pribadi disampaikan sebagai kebenaran mutlak. Pendengar akhirnya tidak mendapatkan ruang untuk berpikir, mempertanyakan, atau melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

Empat fondasi untuk membangun kepercayaan

Treasure kemudian menawarkan pendekatan yang lebih positif melalui empat fondasi yang dirangkai menjadi kata HAIL. Yang pertama adalah honesty atau kejujuran. Kejujuran berarti mengatakan sesuatu yang benar, jelas, dan tidak dibuat-buat. Dalam komunikasi, kejujuran bukan berarti mengatakan semua hal tanpa mempertimbangkan dampaknya. Justru, kejujuran yang efektif membutuhkan kemampuan untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang tetap menghormati orang lain.

Yang kedua adalah authenticity atau keaslian. Pembicara yang autentik tidak berusaha menjadi orang lain demi mendapatkan penerimaan. Ia berbicara dari dirinya sendiri dan berdiri pada kebenaran yang diyakininya. Keaslian membuat komunikasi terasa lebih natural karena pendengar dapat merasakan ketika seseorang sedang memainkan peran yang tidak sesuai dengan dirinya.

Fondasi ketiga adalah integrity atau integritas. Integritas tidak berhenti pada kata-kata. Seseorang harus melakukan apa yang telah dikatakannya. Ketika perkataan dan tindakan berjalan searah, terbentuklah kepercayaan. Sebaliknya, jika seseorang berkali-kali mengatakan sesuatu tetapi tidak pernah menjalankannya, suara yang paling meyakinkan sekalipun akhirnya kehilangan kredibilitas.

Fondasi terakhir adalah love, yang dalam konteks ini tidak berarti cinta romantis. Treasure menggunakannya sebagai keinginan agar orang lain mendapatkan kebaikan. Prinsip ini penting karena kejujuran tanpa kepedulian dapat berubah menjadi kekasaran. Seseorang mungkin mengatakan sesuatu yang benar, tetapi cara penyampaiannya justru melukai. Ketika kejujuran disertai niat baik, pesan yang sulit sekalipun memiliki kemungkinan lebih besar untuk diterima.

Suara memiliki perangkat yang sering dilupakan

Komunikasi yang efektif tidak hanya bergantung pada isi pesan. Suara sendiri memiliki berbagai elemen yang dapat mengubah bagaimana sebuah kalimat diterima. Treasure menyebutnya sebagai semacam toolbox yang sebenarnya dimiliki setiap orang, tetapi jarang digunakan secara sadar.Salah satunya adalah register atau tingkat tinggi-rendah suara. Suara yang lebih dalam sering diasosiasikan dengan kekuatan dan otoritas. Karena itu, kedalaman suara dapat memengaruhi bagaimana seorang pembicara dipersepsikan. Namun, bukan berarti seseorang harus memaksakan suara menjadi lebih rendah. Yang lebih penting adalah memahami karakter suara sendiri dan menggunakannya dengan tepat.

Kemudian ada timbre, yaitu kualitas atau karakter suara. Suara yang kaya, halus, dan hangat cenderung lebih menyenangkan untuk didengarkan. Treasure menekankan bahwa kualitas suara bukan sesuatu yang sepenuhnya tetap. Pernapasan, postur, latihan, dan bantuan pelatih suara dapat digunakan untuk mengembangkan karakter vokal.Prosody juga memiliki peran penting. Prosody berkaitan dengan naik-turunnya suara dalam menyampaikan makna. Pembicaraan yang menggunakan nada yang sama terus-menerus dapat terdengar monoton. Sebaliknya, variasi intonasi membuat pesan memiliki ritme dan membantu pendengar memahami bagian mana yang perlu diperhatikan.

Kecepatan, jeda, dan volume mengubah makna

Kecepatan berbicara juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi. Berbicara lebih cepat dapat memberikan kesan antusias atau bersemangat, sementara memperlambat tempo dapat digunakan untuk memberikan penekanan. Di antara keduanya terdapat satu alat yang sering justru dihindari: keheningan.Jeda tidak selalu berarti kehilangan kata-kata. Dalam komunikasi yang efektif, keheningan dapat memberikan ruang bagi pendengar untuk mencerna pesan. Treasure bahkan mengingatkan bahwa tidak semua ruang kosong harus diisi dengan suara seperti “um” atau “ah”. Kadang-kadang, diam justru memberikan kekuatan pada kalimat sebelumnya.

Volume juga perlu dikendalikan. Suara keras memang dapat menunjukkan energi, tetapi berbicara keras sepanjang waktu justru membuat pendengar kelelahan. Sebaliknya, menurunkan volume pada saat yang tepat dapat membuat orang lebih memperhatikan. Dengan demikian, komunikasi yang kuat bukanlah komunikasi yang selalu keras, melainkan komunikasi yang mampu mengatur energi suara sesuai kebutuhan.

Persiapan suara sebelum pesan penting

Treasure menyarankan agar suara diperlakukan seperti instrumen yang perlu dipersiapkan sebelum digunakan. Sebelum berbicara dalam situasi penting, ia menunjukkan sejumlah latihan sederhana, mulai dari menarik napas dalam dan mengeluarkan suara, mengaktifkan bibir, melakukan getaran bibir, melatih lidah, menggulung bunyi “R”, hingga latihan sirene yang membawa suara dari nada tinggi ke rendah.

Latihan tersebut menunjukkan satu prinsip sederhana: suara bukan sekadar sesuatu yang keluar begitu saja. Suara dapat dilatih dan dikendalikan. Sama seperti seorang musisi mempersiapkan instrumennya sebelum tampil, seorang pembicara juga dapat mempersiapkan instrumen komunikasinya sebelum menyampaikan pesan yang penting.Kemampuan berbicara bukan hanya tentang membuat suara terdengar. Tujuan yang lebih besar adalah menciptakan kondisi agar orang lain bersedia mendengarkan. Hal itu membutuhkan lebih dari sekadar teknik vokal. Dibutuhkan kejujuran, keaslian, integritas, dan niat baik, sekaligus kemampuan mengatur nada, tempo, jeda, dan volume.

Jika suara digunakan secara sadar dan pendengar juga mendengarkan secara sadar, komunikasi dapat bergerak dari sekadar pertukaran kata menjadi proses memahami satu sama lain. Di situlah kekuatan berbicara sebenarnya berada: bukan ketika seseorang berhasil membuat dirinya terdengar paling keras, tetapi ketika apa yang dikatakannya mampu membuat orang lain benar-benar ingin mendengarkan.