(Businesslounge Journal-News & Insight) DoorDash mengambil langkah baru dalam bisnis pengiriman dengan membangun layanan drone miliknya sendiri. Namun, perusahaan menilai keberhasilan layanan tersebut tidak hanya bergantung pada kecanggihan pesawat tanpa awak, melainkan pada sistem perangkat lunak yang mampu menentukan metode pengiriman paling efisien secara otomatis.
Perusahaan yang didirikan Tony Xu, Andy Fang, dan Stanley Tang itu mengumumkan telah memperoleh sertifikasi Part 135 dari Federal Aviation Administration (FAA), yang memungkinkan DoorDash mengoperasikan layanan pengiriman komersial menggunakan drone. Unit baru tersebut diberi nama DoorDash Air dan dikembangkan oleh DoorDash Labs, divisi inovasi yang sebelumnya mengembangkan robot pengantar barang bernama Dot.
Meski baru meluncurkan layanan dengan drone sendiri, DoorDash sebenarnya telah memanfaatkan teknologi tersebut sejak 2022 melalui kerja sama dengan Wing, anak usaha Alphabet, di Australia dan Amerika Serikat. Pada 2025, perusahaan juga menggandeng Flytrex untuk melayani wilayah Dallas-Fort Worth.
Berdasarkan pengalaman dari berbagai proyek percontohan itu, DoorDash mencatat rata-rata waktu pengiriman sekitar 25 menit. Di sejumlah lokasi, kehadiran layanan drone bahkan diklaim mampu meningkatkan jumlah pesanan pedagang hingga sekitar 30 persen dalam kurun sembilan minggu.
Sistem pengiriman menggunakan drone terus mengalami penyempurnaan. Jika sebelumnya paket dijatuhkan langsung menggunakan parasut, kini sejumlah operator memakai mekanisme kabel yang menurunkan pesanan secara perlahan hingga menyentuh tanah sebelum dilepaskan. Makanan juga dikirim dalam wadah berinsulasi agar kualitasnya tetap terjaga selama perjalanan.
Meski demikian, DoorDash masih merahasiakan spesifikasi drone buatannya. Perusahaan hanya menyebutkan bahwa pesawat tersebut dirancang dan diproduksi di Amerika Serikat dengan sebagian besar komponen berasal dari pemasok dalam negeri. Operasi awal juga masih dibatasi pada penerbangan yang berada dalam jangkauan pandangan operator, sehingga belum dapat terbang secara mandiri dalam jarak jauh seperti yang telah dilakukan Wing maupun Zipline.
Pengiriman menggunakan drone dinilai masih menghadapi tantangan besar, terutama dari sisi biaya operasional. Walmart, misalnya, mengakhiri kerja samanya dengan DroneUp pada awal 2025 setelah biaya pengiriman diperkirakan mencapai sekitar 30 dolar AS per paket, jauh di atas target sekitar 7 dolar AS agar layanan tersebut layak secara bisnis.
Amazon juga menghadapi kendala serupa. Program Prime Air sempat dihentikan setelah dua drone bertabrakan dengan sebuah derek di Oregon pada akhir 2024. Selain itu, laporan internal menyebutkan biaya pengiriman per paket diperkirakan mencapai sekitar 63 dolar AS pada 2025, angka yang dinilai belum ekonomis untuk layanan sehari-hari.
Di sisi lain, Wing telah menyelesaikan lebih dari satu juta pengiriman sejak 2012, sementara Zipline mencatat lebih dari dua juta pengiriman komersial sejak 2016. Kedua perusahaan tersebut tetap memiliki keunggulan karena apabila drone tidak dapat beroperasi akibat cuaca atau kendala teknis, barang masih dapat dikirim menggunakan jaringan distribusi konvensional milik mitra mereka.
DoorDash memilih pendekatan berbeda. Perusahaan mengandalkan jaringan kurir Dasher yang telah beroperasi setiap hari sebagai solusi cadangan apabila drone tidak dapat diterbangkan. Seluruh proses dikelola melalui Autonomous Delivery Platform, sistem yang secara otomatis menentukan apakah pesanan akan diantar oleh kurir, robot Dot, atau drone berdasarkan kondisi di lapangan.
Melalui pendekatan tersebut, gangguan pada satu moda pengiriman tidak akan menghentikan proses distribusi. Jika drone tidak bisa terbang karena angin kencang atau masalah baterai, sistem akan langsung mengalihkan pesanan kepada kurir manusia tanpa mengganggu waktu pengiriman secara signifikan.
Hingga saat ini, drone buatan DoorDash sendiri baru menjalani penerbangan perdana setelah memperoleh sertifikasi dan belum melayani pelanggan secara luas. Perusahaan juga belum mengungkapkan biaya operasional maupun jadwal peluncuran komersial penuh.
DoorDash menilai keunggulan utamanya bukan semata-mata pada teknologi drone, tetapi pada kemampuan sistem digital yang mengoordinasikan seluruh armada pengiriman secara real time. Dengan strategi tersebut, perusahaan berharap dapat menghadirkan layanan yang lebih fleksibel, efisien, dan tetap andal meskipun salah satu moda transportasi mengalami kendala.

