“From Kingdom to Empire” – Konser ke-10 Amadeus Symphony Orchestra

(Business Lounge Journal – News and Insight)

Perjalanan sebuah orkestra tidak hanya tercermin dari jumlah konser yang telah diselenggarakan, tetapi juga dari konsistensi dalam menghadirkan karya musik berkualitas dan membangun apresiasi terhadap musik klasik. Amadeus Symphony Orchestra (ASO) menandai perjalanan tersebut melalui konser kesepuluhnya bersama Prof. Henrik Hochschild sebagai penasihat orkestra dan konduktor. Mengangkat tema “From Kingdom to Empire”, konser ini menghadirkan karya-karya komponis dari era kerajaan dan kekaisaran Eropa melalui sebuah pertunjukan yang berlangsung pada Sabtu, 7 November 2026, di Aula Simfonia Jakarta.

Konser yang diselenggarakan oleh Yayasan Musik Amadeus Indonesia ini berada di bawah arahan Prof. Henrik Hochschild, associate concertmaster Leipzig Gewandhaus Orchestra dari Jerman. Pertunjukan tersebut juga menghadirkan solois trompet Gábor Richter, principal trumpet Leipzig Gewandhaus Orchestra yang telah meraih berbagai penghargaan dalam kompetisi trompet internasional.

Tiga komponis besar menjadi bagian utama dari repertoar malam itu, yaitu Johann Sebastian Bach, Johann Baptist Georg Neruda, dan Anton Bruckner. Konser dibuka dengan “Ciaconna” karya Bach, yang merupakan salah satu bagian dari Partita in D minor BWV 1004 untuk solo biola. Karya tersebut kemudian diorkestrasi oleh Joachim Raff untuk Philharmonic Society of New York.

Pertunjukan berlanjut dengan Trumpet Concerto in E-flat major karya Johann Baptist Georg Neruda yang dibawakan bersama Gábor Richter sebagai solois. Sementara itu, rangkaian konser ditutup dengan Symphony No. 0 in D minor, WAB 100 karya Anton Bruckner.

Sesuai tema kerajaan dan kekaisaran yang diusung, ASO juga memberikan kejutan melalui encore “Lord of the Rings–Star Wars” pada akhir babak kedua, yang menjadi penutup menarik bagi penonton.

Perjalanan Musik Bersama Prof. Henrik Hochschild

Konser kesepuluh ini memiliki makna tersendiri bagi Prof. Henrik Hochschild karena menjadi penanda perjalanan musikalnya bersama Amadeus Symphony Orchestra. Ia secara khusus memilih karya Bach untuk mewakili Leipzig, kota kelahirannya, sementara Symphony No. 0 karya Bruckner memiliki keterkaitan dengan angka nol dalam perayaan konser kesepuluh tersebut.

Hochschild menyampaikan apresiasinya kepada seluruh musisi ASO, sponsor, serta penonton yang selama ini memberikan dukungan terhadap perjalanan orkestra.

Lahir di Leipzig, Jerman, Hochschild telah menjabat sebagai associate concertmaster Leipzig Gewandhaus Orchestra sejak 1990. Ia mulai belajar biola pada usia delapan tahun di bawah bimbingan Gabriele Schwarz, kemudian melanjutkan pendidikan di Hochschule für Musik und Theater “Felix Mendelssohn-Bartholdy” di Leipzig.

Selain aktif sebagai pemain orkestra, ia memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan musik. Sejak 2002, ia mengajar di institusi tersebut dan diangkat menjadi profesor biola pada 2010. Ia juga terlibat dalam berbagai program pendidikan orkestra bagi musisi muda, termasuk Schleswig-Holstein Music Festival Orchestra dan Junge Deutsche Philharmonie.

Pengalamannya di Asia juga mencakup kegiatan mengajar, lokakarya, dan pelatihan musik di Jepang. Pada musim 2023/2024, ia turut menjabat sebagai Special Principal Concertmaster Pacific Philharmonia Tokyo.

Gábor Richter, Solois Trompet dengan Pengalaman Internasional

Kehadiran Gábor Richter memberikan warna tersendiri dalam konser ini. Lahir pada 1981 di Veszprém, Hungaria, Richter mulai mempelajari trompet pada usia delapan tahun di Balatonfüred. Bakatnya telah terlihat sejak usia muda ketika berhasil meraih juara pertama kompetisi trompet di Ajka, Hungaria, pada usia 14 tahun.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Franz Liszt Academy of Music di Budapest, Richter bergabung dengan Karajan Orchestra Academy dari Berlin Philharmonic pada 2004. Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi principal trumpet di Leipzig Gewandhaus Orchestra.

Sepanjang kariernya, Richter telah meraih berbagai penghargaan dalam kompetisi internasional, termasuk medali emas di Luksemburg pada 2001, juara pertama kompetisi di Jeju, Korea Selatan, pada 2002, serta penghargaan dalam ARD International Trumpet Competition di Munich pada 2003. Ia juga meraih juara pertama dalam International Trumpet Competition di Pilisvörösvár, Hungaria, pada 2005.

Selain tampil bersama Leipzig Gewandhaus Orchestra, Richter juga secara berkala tampil bersama Berlin Philharmonic, NDR Radio Philharmonic, dan Bavarian Radio Symphony Orchestra.

Membangun Ekosistem Pendidikan Musik Klasik

Di balik perjalanan Amadeus Symphony Orchestra terdapat komitmen panjang Yayasan Musik Amadeus Indonesia dalam mengembangkan pendidikan dan apresiasi musik klasik di Tanah Air. Perjalanan ini berawal dari Sekolah Musik Amadeus (SMA) yang didirikan Grace Soedargo pada 1992.

Selama lebih dari tiga dekade, sekolah musik tersebut telah mendidik ribuan murid dari berbagai kelompok usia, mulai dari anak berusia dua tahun. Saat ini, hampir 300 siswa mengikuti pembelajaran berbagai instrumen, mulai dari piano, alat petik, alat gesek, alat tiup, hingga perkusi, dengan dukungan 27 tenaga pengajar.

Selain pembelajaran di kelas, pengembangan kemampuan musikal juga dilakukan melalui berbagai orkestra siswa dan ensambel. Murid-murid yang memiliki bakat dan komitmen bahkan memperoleh kesempatan untuk berlatih serta tampil bersama para guru dan musisi profesional dari berbagai negara melalui Amadeus Symphony Orchestra.

Pengembangan jaringan internasional juga menjadi bagian penting dari perjalanan Sekolah Musik Amadeus. Sekolah ini memiliki afiliasi dengan Johann Sebastian Bach Musikschule (JSBM) di Wina, Austria, dan telah mengantarkan sejumlah murid untuk melanjutkan pendidikan musik ke Jerman dan Austria.

Cikal bakal ASO sendiri berawal dari Capella Amadeus String Chamber Orchestra (CASCO), yang didirikan pada 1993 sebagai perwujudan visi Grace Soedargo dalam membangun orkestra kamar. Setelah menyelenggarakan ratusan pertunjukan di berbagai kota di Indonesia dan Asia, CASCO berkembang menjadi Amadeus Symphony Orchestra, yang tampil perdana pada 2013 untuk memperingati 20 tahun berdirinya CASCO.

Sejak 2019, Prof. Henrik Hochschild dipercaya sebagai penasihat orkestra. ASO juga telah bekerja sama dengan sejumlah konduktor internasional dari Australia, Jerman, Amerika Serikat, Singapura, dan Austria. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan karya-karya musik terkenal, termasuk sejumlah komposisi yang belum pernah ditampilkan di Indonesia.

Di tingkat regional, ASO juga terpilih sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia dalam Asia Project Tokyo Symphony Orchestra (TSO), sebuah pencapaian yang memperluas keterlibatannya dalam jaringan musik klasik internasional.

Melalui konser kesepuluh bertajuk “From Kingdom to Empire”, Amadeus Symphony Orchestra tidak hanya merayakan pencapaian artistiknya, tetapi juga menegaskan kesinambungan perjalanan dalam membangun apresiasi musik klasik. Perpaduan antara musisi profesional, talenta muda, pendidikan musik, dan kolaborasi lintas negara menjadi fondasi penting bagi perkembangan orkestra sekaligus masa depan musik klasik di Indonesia.