(Business Lounge Journal – General Management)
Menjadi CEO tidak pernah mudah. Namun di tahun 2026, peran ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks—bahkan mendekati mustahil.
Menurut Kurt Strovink dari McKinsey & Company, jumlah isu krusial yang harus ditangani CEO kini melonjak drastis. Jika sebelumnya pemimpin perusahaan cukup fokus pada beberapa prioritas utama, kini “critical few” itu hampir mencapai dua digit. Tekanan ini bukan sekadar soal volume pekerjaan, tetapi juga kompleksitas yang meningkat secara eksponensial. CEO hari ini tidak hanya dituntut memahami bisnis, tetapi juga teknologi, geopolitik, hingga dinamika sosial yang terus berubah. Bahkan, masa jabatan CEO pun mulai memendek—turun dari rata-rata 8,3 tahun pada 2023 menjadi sekitar 7,1 tahun pada 2025—sebuah sinyal bahwa tekanan pada posisi ini semakin sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
Di tengah realitas ini, satu hal menjadi jelas: peran CEO telah berevolusi dari “pengambil keputusan tertinggi” menjadi orkestrator kompleksitas global.
AI, Geopolitik, dan Tekanan Publik: Tiga Kekuatan yang Mengubah Kepemimpinan
Salah satu perubahan paling mendasar datang dari percepatan teknologi, khususnya kecerdasan buatan. AI bukan lagi proyek eksperimental, melainkan agenda utama yang menuntut implementasi skala penuh—mulai dari strategi hingga pengelolaan talenta dan investasi. Namun tantangannya tidak berhenti pada adopsi teknologi. CEO juga harus menghadapi pertanyaan etis, risiko penggunaan, hingga bagaimana AI memengaruhi struktur organisasi dan masa depan pekerjaan. Dalam banyak kasus, transformasi ini bukan lagi sekadar inisiatif IT, tetapi menyentuh inti model bisnis.
Di saat yang sama, lanskap geopolitik global semakin tidak stabil. Perubahan kebijakan perdagangan, konflik regional, hingga fragmentasi ekonomi global memaksa perusahaan untuk terus menyesuaikan strategi. CEO tidak lagi bisa melihat geopolitik sebagai risiko eksternal semata—mereka harus mengembangkan apa yang disebut sebagai “geopolitical IQ” dan bahkan menyiapkan strategi untuk dua kemungkinan dunia: yang terbuka dan yang terfragmentasi.
Menariknya, tekanan ini juga meluas ke ranah publik. CEO kini semakin sering dihadapkan pada pertanyaan: apakah mereka harus mengambil sikap terhadap isu sosial dan politik? Banyak yang, menurut Strovink, merasa seperti “kepala negara”—dipaksa menavigasi ekspektasi publik yang sebelumnya bukan bagian dari peran mereka.
Kepemimpinan Baru: Dari Work-Life Balance ke Personal Operating Model
Di tengah semua tuntutan tersebut, tantangan terbesar mungkin justru bersifat personal. Peran CEO, seperti yang dikatakan Strovink, adalah satu-satunya pekerjaan yang “tidak bisa dikalahkan dengan kerja keras semata”—karena pada akhirnya, pekerjaan itu akan selalu lebih besar dari kapasitas individu. Akibatnya, burnout menjadi risiko nyata. CEO dituntut untuk mengembangkan “personal operating model”—cara kerja pribadi yang lebih strategis, selektif, dan berkelanjutan. Ini mencakup bagaimana mereka mengelola energi, mengambil keputusan, hingga menentukan isu mana yang layak mendapat perhatian.
Di sisi lain, mereka juga harus memimpin generasi tenaga kerja baru. Milenial dan Gen Z tidak lagi termotivasi semata oleh promosi atau kompensasi, tetapi oleh makna dan purpose. Artinya, CEO tidak hanya membangun bisnis, tetapi juga narasi yang mampu menginspirasi. Pada titik ini, kepemimpinan tidak lagi hanya tentang performa, tetapi tentang relevansi.
Di tengah semua tekanan tersebut, ada satu paradoks yang menarik. Meski menjadi semakin sulit, peran CEO justru memiliki potensi dampak yang lebih besar dari sebelumnya. Dalam dunia yang ditandai oleh ketidakpastian dan disrupsi, keputusan seorang CEO tidak hanya menentukan arah perusahaan—tetapi juga dapat memengaruhi industri, bahkan masyarakat secara luas.
Dan mungkin di situlah esensi kepemimpinan modern berada: bukan pada kemampuan mengendalikan segalanya, tetapi pada keberanian untuk tetap memimpin ketika tidak ada yang benar-benar pasti.

