(Business Lounge – Travel) Bisakah sebuah kota terasa cerdas? Jika jawabannya bisa, Oxford mungkin menjadi salah satu tempat terbaik di dunia untuk membuktikannya. Kota di Inggris ini bukan sekadar rumah bagi salah satu universitas paling terkenal di dunia, tetapi juga sebuah tempat di mana sejarah, pendidikan, arsitektur, tradisi, dan kehidupan mahasiswa berpadu begitu dekat. Berjalan menyusuri jalan-jalan Oxford membuat pengunjung seperti masuk ke dalam sebuah buku sejarah yang masih terus ditulis. Di antara bangunan tua, halaman college, perpustakaan, toko buku, kafe, dan pub, kehidupan akademik terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Nama Oxford tidak dapat dipisahkan dari Universitas Oxford, salah satu institusi pendidikan paling berpengaruh di dunia. Sejarah universitas ini membentang lebih dari 900 tahun dan menjadikannya universitas berbahasa Inggris tertua di dunia. Dari lingkungan akademiknya telah lahir banyak ilmuwan, pemikir, penulis, tokoh politik, dan pemimpin dunia. Universitas Oxford juga telah dikaitkan dengan puluhan peraih Nobel dan sejumlah besar perdana menteri Inggris. Namun, daya tarik Oxford bukan hanya terletak pada daftar nama besar tersebut. Yang membuatnya menarik justru suasana kotanya, ketika tradisi akademik berabad-abad masih menjadi bagian dari kehidupan modern.
Kota yang Selalu Mengajak untuk Belajar
Oxford memiliki atmosfer yang berbeda dari banyak kota wisata lainnya. Orang-orang datang ke sini bukan hanya untuk melihat bangunan bersejarah, melainkan juga untuk belajar, mengajar, melakukan penelitian, bertemu orang dari berbagai negara, dan bertukar gagasan. Mahasiswa terlihat berjalan menuju perpustakaan dengan buku di tangan, para pengajar berpindah dari satu gedung ke gedung lainnya, sementara kelompok mahasiswa dapat ditemukan berdiskusi di taman, kafe, atau ruang publik. Bahkan percakapan yang terdengar di jalan terkadang berkaitan dengan kuliah, penelitian, sejarah, filsafat, atau gagasan baru yang sedang mereka pikirkan.
Seorang mahasiswa Oxford bernama Eloise, yang sedang menempuh gelar master di bidang arkeologi sosial, menggambarkan suasana tersebut sebagai lingkungan yang secara aktif mendorong orang untuk belajar. Menurutnya, di Oxford orang tidak hanya datang untuk mendapatkan gelar, tetapi juga berada dalam lingkungan yang membuat mereka ingin menemukan pengetahuan baru dan mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama. Itulah yang membuat Oxford terasa cerdas. Kecerdasan di kota ini bukan sesuatu yang dipamerkan, melainkan terasa dalam kebiasaan sehari-hari orang-orang yang tinggal, belajar, dan bekerja di dalamnya.
Christ Church dan Kehidupan Mahasiswa
Salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Christ Church College, sebuah college dengan sejarah lebih dari 500 tahun yang menjadi bagian penting dari Universitas Oxford. Bangunan-bangunan tua, halaman luas, lorong batu, menara, dan jendela-jendela besar membuat tempat ini terlihat seperti gambaran klasik tentang universitas Inggris. Namun, di balik keindahan arsitekturnya, Christ Church sebenarnya adalah lingkungan tempat mahasiswa menjalani kehidupan sehari-hari. Mereka belajar, tidur, makan, bertemu teman, dan menghabiskan sebagian besar masa kuliah di dalam kompleks tersebut.
Bagi mahasiswa yang tinggal di college, bangunan indah yang dilihat wisatawan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Di balik jendela-jendela tersebut terdapat kamar mahasiswa yang umumnya sederhana, dengan tempat tidur, meja belajar, dan lemari pakaian. Perbedaannya adalah pemandangan yang mereka dapatkan ketika membuka jendela. Tinggal di lingkungan yang telah berdiri selama berabad-abad tentu memberikan pengalaman yang tidak biasa. Ada perasaan bahwa seseorang sedang menjadi bagian dari sejarah yang jauh lebih panjang daripada masa hidupnya sendiri.
Salah satu fasilitas yang paling menarik adalah ruang makan Christ Church. Ruangan besar dengan meja-meja panjang dan dekorasi klasik tersebut digunakan mahasiswa untuk sarapan, makan siang, dan makan malam. Potret tokoh-tokoh terkenal yang menghiasi dinding membuat suasana ruang makan terasa seperti pertemuan antara kehidupan masa kini dan masa lalu. Bagi mahasiswa, makan di tempat seperti ini tentu bisa menjadi pengalaman yang sedikit menakutkan sekaligus membanggakan karena mereka setiap hari berada di tengah lingkungan yang mengingatkan pada pencapaian generasi-generasi sebelumnya.
Berjalan di Tengah Sejarah Oxford
Keunikan Oxford tidak hanya terlihat dari college yang terkenal. Hampir setiap perjalanan kaki di pusat kota membawa pengunjung melewati bangunan yang memiliki hubungan dengan sejarah universitas. Jalan-jalan sempit, toko buku, halaman kampus, gereja, taman, dan bangunan akademik berdiri berdekatan sehingga sulit menentukan di mana kawasan universitas berakhir dan kehidupan kota dimulai. Bagi wisatawan, kondisi ini justru menjadi salah satu pengalaman paling menarik karena Oxford tidak terasa seperti kampus yang terpisah dari kota, melainkan sebuah kota yang kehidupannya telah dibentuk oleh universitas selama berabad-abad.
Di berbagai sudut kota, wisatawan dapat melihat mahasiswa berjalan dengan cepat menuju kelas atau perpustakaan, sementara pengunjung lain berhenti untuk mengagumi arsitektur bangunan tua. Pada waktu tertentu, suasananya sangat ramai, tetapi beberapa langkah dari jalan utama bisa membawa Anda ke halaman yang jauh lebih tenang. Perpaduan antara aktivitas akademik, kehidupan kota, dan arsitektur bersejarah membuat Oxford terasa seperti destinasi yang sebaiknya dinikmati dengan berjalan kaki tanpa terlalu terburu-buru.
Radcliffe Camera dan Perpustakaan Bodleian
Salah satu landmark Oxford yang paling terkenal adalah Radcliffe Camera. Bangunan berbentuk melingkar dengan arsitektur klasik ini menjadi salah satu simbol visual kota dan merupakan bagian dari sistem perpustakaan Universitas Oxford. Bagi mahasiswa Oxford, akses ke perpustakaan-perpustakaan seperti ini merupakan salah satu keistimewaan kehidupan akademik. Namun bagi wisatawan, bangunan tersebut juga memberikan gambaran tentang betapa kuatnya hubungan Oxford dengan tradisi membaca, penelitian, dan penyimpanan pengetahuan.
Tidak jauh dari sana terdapat Perpustakaan Bodleian, salah satu perpustakaan akademik tertua di Eropa. Namanya berasal dari Sir Thomas Bodley, diplomat dan pustakawan yang memiliki peran penting dalam membangun kembali perpustakaan tersebut pada awal abad ke-17. Sejarah Bodleian sangat erat dengan perkembangan dunia penerbitan Inggris karena perpustakaan ini memperoleh hak untuk mendapatkan salinan buku yang diterbitkan. Tradisi tersebut membantu membentuk koleksi yang sangat besar dan menjadikan perpustakaan ini sebagai salah satu pusat pengetahuan penting di Inggris.
Saat ini, koleksi Bodleian mencapai jutaan buku dan berbagai bahan penelitian. Namun, sejarah perpustakaan ini juga memperlihatkan bagaimana cara manusia menjaga buku sebelum teknologi modern tersedia. Pada masa lalu, sejumlah buku harus dirantai ke rak untuk mencegahnya dibawa pergi. Sistem tersebut memang membantu menjaga buku tetap berada di perpustakaan, tetapi sekaligus menimbulkan persoalan lain karena rantai dapat menimbulkan suara dan merusak bagian jilid buku. Karena itu, cara penyimpanan buku pada masa lalu terlihat sangat berbeda dari perpustakaan modern yang kita kenal sekarang.
Tradisi yang Masih Bertahan
Oxford menarik bukan hanya karena bangunan dan perpustakaannya, tetapi juga karena banyak tradisi lama yang masih dipertahankan. Salah satu contohnya dapat dilihat di Sheldonian Theatre, bangunan yang menjadi tempat penting dalam berbagai upacara Universitas Oxford. Namanya memang menggunakan kata “theatre”, tetapi tempat ini bukan sekadar gedung pertunjukan. Salah satu fungsi terpentingnya adalah menjadi lokasi berbagai upacara akademik, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan perjalanan mahasiswa selama berada di universitas.
Di tempat inilah mahasiswa dapat mengikuti rangkaian upacara yang menandai perjalanan akademik mereka. Ada upacara penerimaan ketika seseorang memulai kehidupan sebagai mahasiswa dan ada pula upacara wisuda ketika pendidikan mereka selesai. Dengan demikian, Sheldonian Theatre dapat dilihat sebagai salah satu simbol perjalanan mahasiswa Oxford dari awal hingga akhir masa studi. Tradisi tersebut membuat pengalaman pendidikan di Oxford terasa berbeda karena proses mendapatkan gelar tidak hanya menjadi urusan administratif, tetapi juga memiliki ritual yang telah berlangsung selama generasi.
Salah satu hal yang paling menarik adalah penggunaan bahasa Latin dalam upacara akademik tertentu. Di dunia modern, bahasa Latin mungkin sudah tidak menjadi bahasa komunikasi sehari-hari, tetapi Oxford masih mempertahankan penggunaannya sebagai bagian dari tradisi universitas. Bagi sebagian orang, hal tersebut mungkin terasa kuno, tetapi bagi Oxford justru menjadi bagian dari identitas. Bahkan bahasa yang digunakan dalam beberapa ritual akademik terus disesuaikan dengan perkembangan zaman tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
Kehidupan di Luar Perpustakaan
Meski Oxford dikenal sebagai kota intelektual, kehidupan di dalamnya tentu tidak hanya berisi buku dan kuliah. Mahasiswa tetap membutuhkan tempat untuk bersantai, bertemu teman, berbicara tentang hal-hal di luar akademik, dan menikmati waktu luang. Karena itu, pub menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan sosial Oxford. Setelah menghabiskan berjam-jam di perpustakaan atau mengikuti kelas, mahasiswa dapat berjalan menuju pub di sekitar kota untuk menikmati suasana yang jauh lebih santai.
Kontras inilah yang membuat Oxford terasa sebagai kota yang hidup. Di satu sisi terdapat perpustakaan dengan koleksi buku berusia ratusan tahun dan gedung akademik yang sangat formal. Di sisi lain terdapat kafe, restoran, toko, taman, dan pub tempat mahasiswa serta penduduk lokal menjalani kehidupan sehari-hari. Anda bisa menghabiskan pagi dengan mengagumi arsitektur universitas, kemudian menikmati makan siang di pusat kota, dan sore harinya duduk santai sambil melihat aktivitas warga dan mahasiswa berlalu-lalang.
Menyusuri Sungai Cherwell dengan Punt
Jika ingin melihat Oxford dari sudut yang berbeda, salah satu pengalaman yang layak dicoba adalah naik punt di Sungai Cherwell. Perahu tradisional dengan dasar datar ini digerakkan menggunakan tiang panjang yang didorong ke dasar sungai. Aktivitas tersebut telah menjadi bagian dari budaya Oxford selama puluhan tahun dan kini menjadi salah satu pengalaman wisata yang paling khas. Wisatawan dapat menyewa punt dan mencoba mengemudikannya sendiri atau mengikuti perjalanan dengan pemandu.
Sejarah punt sebenarnya berkaitan dengan kebutuhan transportasi di sungai-sungai Inggris. Bentuk perahu seperti ini dahulu digunakan untuk mengangkut barang dan orang, termasuk di kawasan Sungai Thames. Seiring waktu, penggunaannya berkembang menjadi aktivitas rekreasi. Di Oxford, tradisi tersebut semakin populer sejak abad ke-19 dan terus bertahan hingga sekarang. Menyusuri sungai dengan punt memberikan pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan berjalan di pusat kota karena wisatawan dapat melihat bangunan dan pepohonan Oxford dari atas air.
Mengemudikan punt ternyata tidak selalu mudah bagi pemula. Secara teori, caranya cukup sederhana, yaitu menempatkan tiang secara tepat, mendorongnya ke dasar sungai, kemudian mengarahkan perahu menggunakan kemudi. Namun, ketika sudah berada di atas air, banyak orang baru menyadari bahwa menjaga perahu tetap bergerak lurus membutuhkan koordinasi. Gelar akademik dari universitas ternama pun tidak otomatis membuat seseorang mahir mengemudikan punt. Justru bagian inilah yang sering membuat pengalaman tersebut menjadi menyenangkan.
Oxford dan Perasaan Menjadi Kecil
Ada pengalaman lain yang mungkin dirasakan wisatawan ketika berada di Oxford, yaitu merasa sedikit kecil di tengah begitu banyak pengetahuan dan sejarah. Bukan karena kota ini sengaja membuat orang merasa kurang pintar, melainkan karena lingkungan sekitarnya terus mengingatkan bahwa dunia pengetahuan sangat luas. Jutaan buku tersimpan di perpustakaan, ribuan mahasiswa dari berbagai negara datang untuk belajar, sementara bangunan-bangunan tua menyimpan sejarah pemikiran dan pendidikan selama berabad-abad.
Bagi sebagian orang, Oxford bahkan menjadi tempat yang sejak lama mereka impikan untuk belajar. Namun, masuk ke universitas ini bukan perkara mudah. Standar akademik dan persaingannya sangat tinggi sehingga hanya sebagian kecil pelamar yang akhirnya menjadi mahasiswa. Karena itu, wisatawan yang datang ke Oxford mungkin melihat kota ini dengan perasaan campur aduk. Ada kekaguman terhadap pencapaiannya, tetapi juga kesadaran bahwa tempat seperti ini dibangun dari kerja keras dan tradisi belajar yang panjang.
Kota yang Cerdas Tanpa Terasa Kaku
Meski memiliki reputasi sebagai salah satu kota universitas paling bergengsi di dunia, Oxford tidak harus dinikmati dengan cara yang serius. Wisatawan dapat menghabiskan waktu dengan berjalan kaki menyusuri jalan-jalan bersejarah, mengunjungi college, melihat perpustakaan, menikmati taman, duduk di kafe, atau bersantai di pub. Kota ini menawarkan banyak cara untuk menikmati suasananya tanpa harus memahami seluruh sejarah akademiknya.
Justru perpaduan antara kehidupan intelektual dan kehidupan sehari-hari itulah yang membuat Oxford begitu menarik. Mahasiswa berjalan menuju kelas di antara wisatawan, perpustakaan akademik berdiri di tengah pusat kota, tradisi berusia ratusan tahun berlangsung bersamaan dengan kehidupan modern, sementara Sungai Cherwell menawarkan suasana tenang tidak jauh dari keramaian. Semuanya berada dalam satu ruang yang relatif mudah dijelajahi dengan berjalan kaki.
Oxford mungkin tidak membuat setiap pengunjung pulang dengan gelar akademik baru. Namun, kota ini bisa memberikan sesuatu yang lebih sederhana dan mungkin justru lebih berharga bagi seorang wisatawan, yaitu rasa ingin tahu. Setelah melihat perpustakaan tua, mendengar kisah tentang tradisi akademik, berjalan di antara bangunan bersejarah, dan menyaksikan mahasiswa dari berbagai negara menjalani kehidupan mereka, Anda mungkin terdorong untuk membaca lebih banyak, bertanya lebih banyak, dan melihat dunia dengan rasa ingin tahu yang lebih besar.
Itulah mungkin arti sebenarnya dari suasana cerdas yang dimiliki Oxford. Kecerdasan di kota ini tidak selalu terlihat dalam bentuk gelar, penghargaan, atau nama-nama besar yang pernah belajar di sana. Ia terasa dalam kebiasaan bertanya, berdiskusi, membaca, mengajar, dan terus mencari sesuatu yang baru. Oxford bukan hanya kota tempat orang belajar, tetapi juga tempat yang membuat pengunjung ingin terus belajar.

