BP

BP Ganti Chairman, Krisis Kepemimpinan Belum Berakhir

(Business Lounge – Global News) BP kembali mengganti pemimpin tertinggi di jajaran dewannya ketika perusahaan energi Inggris tersebut berusaha keluar dari periode penuh gejolak. Pada 2 September 2026, BP menunjuk Ian Tyler sebagai chairman permanen setelah sebelumnya menjalankan tugas sebagai chairman interim sejak Mei. Penunjukan itu menjadikan Tyler sebagai chairman ketiga BP dalam waktu kurang dari setahun dan memperlihatkan betapa sulitnya perusahaan menemukan stabilitas kepemimpinan ketika pada saat bersamaan sedang melakukan perubahan besar terhadap strategi bisnisnya.

Tyler bukan orang baru bagi BP. Ia bergabung sebagai direktur non-eksekutif pada April 2025 dan kemudian mengambil posisi chairman interim setelah Albert Manifold diberhentikan pada 26 Mei 2026. Sebelum bergabung dengan BP, Tyler memiliki pengalaman panjang di berbagai perusahaan publik dan privat, termasuk pernah menjadi CEO Balfour Beatty serta memimpin dewan Grafton Group. Ia juga menjadi senior independent director di Anglo American. BP menyebut proses pemilihannya melibatkan kandidat internal maupun eksternal sebelum akhirnya perusahaan memilih figur yang sudah memahami dinamika internal dewan.

Pemilihan Tyler memiliki pesan yang cukup jelas. BP tampaknya tidak sedang mencari chairman yang akan kembali mengguncang organisasi, melainkan seseorang yang mampu menenangkan ruang rapat dan memberikan kesinambungan bagi CEO Meg O’Neill. Financial Times menilai Tyler sebagai figur yang relatif stabil dan memiliki pengalaman panjang sebagai direktur non-eksekutif. Dalam situasi BP sekarang, kemampuan menjaga hubungan antara dewan, manajemen dan pemegang saham menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menyusun strategi baru.

Namun, pergantian chairman ini terjadi setelah kepergian Albert Manifold yang meninggalkan persoalan lebih serius daripada sekadar perubahan personel. Manifold dicopot secara mendadak pada Mei setelah dewan menyatakan menemukan masalah terkait standar tata kelola, pengawasan dan perilaku yang dianggap tidak dapat diterima. Sejumlah laporan kemudian mengaitkan kepergiannya dengan tuduhan perilaku intimidatif dan terlalu dominan terhadap karyawan. Manifold membantah karakterisasi tersebut dan menyatakan bahwa narasi mengenai perilakunya tidak benar.

Kasus tersebut membuat persoalan tata kelola BP kembali menjadi perhatian. Chairman bukan sekadar simbol perusahaan. Ia memiliki peran penting dalam memastikan CEO dan jajaran eksekutif memperoleh pengawasan yang memadai, sekaligus menjaga agar dewan mampu mengambil keputusan secara independen. Ketika chairman sendiri harus diberhentikan karena persoalan perilaku dan governance, pertanyaan yang muncul bukan hanya mengenai individu tersebut, tetapi juga bagaimana mekanisme pengawasan perusahaan dapat membiarkan persoalan tersebut berkembang sampai akhirnya memerlukan pergantian mendadak.

Lebih jauh lagi, pergantian Tyler terjadi ketika BP sebenarnya membutuhkan fokus yang sangat kuat terhadap strategi bisnis. Perusahaan sedang melakukan perubahan arah setelah sebelumnya berusaha membangun identitas sebagai perusahaan energi yang lebih berorientasi pada transisi energi. Strategi tersebut kemudian dikoreksi dan BP kembali memberikan perhatian lebih besar kepada bisnis minyak dan gas, pengurangan biaya, pelepasan aset serta penguatan neraca. Pergeseran strategi tersebut membutuhkan organisasi yang stabil karena keputusan investasi yang diambil sekarang akan menentukan struktur bisnis BP untuk bertahun-tahun ke depan.

Masalahnya, stabilitas tersebut belum sepenuhnya tercipta. The Wall Street Journal mencatat bahwa BP telah mengalami pergantian tiga chairman dan empat CEO sejak 2023. Tingginya pergantian tersebut menunjukkan adanya persoalan kontinuitas di tingkat tertinggi perusahaan. Setiap pemimpin baru membawa pendekatan, prioritas dan hubungan berbeda dengan investor. Dalam perusahaan energi berskala global, perubahan semacam itu dapat memperlambat eksekusi strategi karena manajemen harus terus membangun kembali kepercayaan internal dan eksternal.

Kondisi ini menjadi semakin penting karena BP tidak hanya menghadapi persoalan internal. Perusahaan juga harus memperbaiki kinerja operasionalnya. CEO Meg O’Neill, yang mulai memimpin BP pada April 2026, telah menetapkan sejumlah prioritas untuk memperkuat perusahaan, termasuk meningkatkan kinerja operasional, memperkuat neraca dan menjalankan divestasi aset. Reuters mencatat bahwa O’Neill kini menjadi pemimpin kelima BP sejak 2020, sebuah angka yang menggambarkan betapa besar perubahan yang telah terjadi di pucuk pimpinan perusahaan tersebut.

Tyler karena itu menghadapi tugas yang cukup berbeda dibandingkan chairman yang datang untuk melakukan transformasi radikal. Tantangan pertamanya justru memastikan bahwa organisasi berhenti mengalami pergantian kepemimpinan yang terlalu cepat. Ia perlu membangun kembali hubungan dengan investor, memperkuat fungsi pengawasan dewan dan memastikan bahwa CEO memiliki ruang untuk menjalankan strategi tanpa harus menghadapi perubahan kepemimpinan baru dalam waktu dekat.

Di sisi lain, Tyler juga harus membuktikan bahwa stabilitas tidak berarti dewan menjadi terlalu pasif. Reuters Breakingviews menilai gaya Tyler yang tenang memang dapat membantu mengakhiri kekacauan di ruang rapat, tetapi muncul pertanyaan apakah figur tersebut cukup kuat untuk menantang manajemen ketika diperlukan. Ini merupakan persoalan penting karena chairman yang terlalu dominan dapat menciptakan masalah governance, tetapi chairman yang terlalu akomodatif juga dapat membuat fungsi pengawasan dewan kehilangan efektivitasnya.

Ada pula perubahan lain di dalam dewan. Amanda Blanc, senior independent director BP yang mengawasi proses pengangkatan Manifold dan Tyler, mengatakan tidak akan mencalonkan diri kembali pada rapat umum pemegang saham 2027 dan akan meninggalkan posisinya setelah penggantinya ditemukan. Dengan demikian, proses regenerasi kepemimpinan BP belum selesai meskipun chairman baru sudah ditetapkan.

Bagi investor, situasi tersebut menciptakan paradoks. Di satu sisi, saham BP telah memperoleh dukungan dari lingkungan harga minyak yang tinggi dan secara year-to-date meningkat sekitar 25 persen menurut Reuters. Namun, kinerja saham yang membaik tidak otomatis menyelesaikan persoalan struktural perusahaan. Harga minyak dapat membantu laba dalam jangka pendek, tetapi keberhasilan BP dalam beberapa tahun ke depan tetap akan ditentukan oleh kualitas aset, efisiensi operasional, disiplin modal dan kemampuan manajemen mengeksekusi strategi.

Penunjukan Ian Tyler dengan demikian bukan sekadar berita pergantian chairman. Ini adalah upaya BP untuk menutup satu fase ketidakstabilan dan memasuki periode konsolidasi. Tyler membawa pengalaman dan gaya kepemimpinan yang lebih tenang, sementara O’Neill harus membuktikan bahwa strategi baru BP mampu menghasilkan perbaikan nyata.

Pertanyaan terbesarnya sekarang bukan lagi siapa chairman BP berikutnya. Pertanyaannya adalah apakah perusahaan akhirnya dapat mempertahankan satu arah strategi cukup lama untuk menghasilkan perubahan kinerja. Setelah bertahun-tahun mengalami pergantian CEO, chairman dan arah bisnis, BP membutuhkan sesuatu yang lebih sulit daripada sekadar pemimpin baru: konsistensi. Jika Tyler berhasil memberikan stabilitas tanpa mengurangi ketegasan pengawasan, BP memiliki peluang untuk mengakhiri drama ruang rapatnya dan kembali memusatkan perhatian pada pertarungan yang sesungguhnya, yaitu memperbaiki bisnis energi globalnya.